Karut-marut Bahasa Rujak

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

rujak

Seorang teman merasa dongkol dengan para selebriti yang sering mengucapkan frasa ‘dunia entertain’. Sudah keminggris (istilah Jawa untuk sok Inggris), salah pula. Entertain berarti menghibur, sedangkan yang dimaksud selebriti tadi adalah entertainment yang berarti hiburan. Kalau memang bingung, kenapa tidak memakai kata hiburan saja?

Indonesia cukup beruntung, punya satu bahasa nasional yang berlaku di semua provinsi. Tak perlu takut tersesat di Ternate atau mencari alamat diSorong. Semua bisa bahasa Indonesia. Bandingkan dengan bahasa di India yang terbagi dua, Urdu di utara dan Hindi di selatan, masing-masing menyimpan potensi konflik. Afrika tak jauh berbeda. Kebinekaan menjadi sumber masalah. Sehingga sebagai pemersatu, bahasa Inggrislah yang digunakan.

Menengok negara tetangga, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan di Malaysia dan Singapura. Ia juga menjadi elemen penentu status sosial seseorang. Akibatnya, muncullah bahasa Rujak, yaitu bahasa Melayu yang dicampur dengan bahasa Inggris. Ada Malaysian English (Manglish) dan Singaporean English (Singlish). Sekilas memang terdengar fasih, tapi seperti rasa rujak yang sulit didefinisikan, kadang asam, manis, lalu pedas, bahasa ini justru sulit dimengerti. Bahkan sampai terjadi unjuk rasa 5.000 warga Malaysia yang menuntut agar penggunaan bahasa Inggris lebih dibatasi.

Sebenarnya, Indonesia juga menghadapi keragaman bahasa yang pelik, sekitar 700 bahasa di ribuan pulau yang terpisah-pisah. Tapi istimewanya, Indonesia mulus menetapkan bahasa nasional pada 1928. Orang sekarang tinggal melestarikannya, meski tidak mudah.

Orang Indonesia terkenal sebagai bangsa trilingual, menguasai 3 bahasa sekaligus, bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris. Semoga ketiganya dituturkan dengan tepat tanpa tercampur menjadi rujak. Supaya semakin banyak selebriti yang berkarya di ‘dunia hiburan’, bukan ‘dunia entertain’ dan makin banyak rumah yang ‘dikontrakkan’, bukan ‘di kontrakan’. Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Advertisements

Awas Monyet Nakal

Tags

, , , , , , , ,

mony

Berwisata ke Pura Luhur Uluwatu harus hati-hati. Ada ratusan monyet liar yang bakal mencoba mengambil kacamata, ponsel, atau kamera. Tapi ternyata tidak semuanya. Saya bertemu satu monyet yang terlihat tidak peduli dengan kamera saya, atau harta-benda pengunjung lainnya. Dia tahu pisang untuknya takkan pernah habis. Tinggal masuk lebih dalam ke area perbukitan Desa Pecatu, pohon-pohon buah ada di sana. Meminta maka akan diberi, mencari maka akan menemukan.

Dia juga tidak marah ketika monyet di Sangeh beribadah di Pura Bukit Sari dan monyet Monkey Forest Ubud beribadah di Pura Dalem Agung Padangtegal. Dia bahkan tidak khawatir ketika monyet-monyet di Gua Kreo Semarang tidak pernah pergi ke pura, melainkan Klenteng Sam Poo Kong yang asing baginya. Sayangnya ratusan monyet lain belum mencapai pemahaman seperti dia. Jadi banyak-banyaklah bersabar kalau bertemu monyet-monyet nakal di Uluwatu.

Anomali Mozaik

Tags

, , , , , , ,

Cukup banyak yang saya alami selama tiga puluh tahun menjalani hidup. Dari serpihan-serpihan peristiwa itu, yang spektakuler dan yang banal, yang naik-turun dan yang linear, yang menguras tawa dan yang memeras kelenjar air mata, saya menyimpulkan sesuatu. Ternyata pengalaman membuat kita lebih jago mengantisipasi masa depan yang ditakuti banyak orang. Bahwa setiap adegan adalah mozaik yang belum terangkai, yang baru akan kita pahami maksudnya beberapa jam, tahun, atau dekade kemudian.

Tiga puluh tahun mengalami masa-masa kere dan jaya, saya tetap tenang waktu kemalingan. Entah kapan saya pasti dapat gantinya. Benar saja, hanya dalam hitungan bulan, rezeki seolah tak berhenti mengalir. Begitu pula ketika berkelimpahan, saya tahu pasti sebentar lagi kena musibah. Begitu seterusnya.

Tiga puluh tahun mengalami beberapa kali patah hati, membuat saya tak terpuruk ketika menghadapi pengkhianatan. Hanya perlu seminggu, sudah lupa sakitnya.

Tiga puluh tahun melayat ke kuburan orang-orang tercinta, dari orang lewat, sahabat sampai ibunda, membuat saya merasa lebih siap menghadapi kematian.

Tiga puluh tahun bertemu seribu satu macam manusia, dari yang pemarah, pemaaf, peragu, penentu, peratap, sampai pemimpi. Berinteraksi dengan pencopet, direktur, tukang gorengan, karyawan, sampai pengangguran membuat saya mudah memaklumi sifat aneh orang-orang, merangkul mereka yang terganggu mentalnya.

Tapi mau tiga puluh tahun atau seratus tahun mengalami hidup, ternyata ada saja anomali yang entah bagaimana tak mampu kita antisipasi. Jatuh cinta, misalnya. Kepada siapa, kapan, bagaimana, apa iya, dan harus apa, tak sedikit pun saya bisa tebak arahnya. Perpisahan, contoh lainnya. Karena apa, kapan, bagaimana, apa iya, dan harus apa, tak sedetik pun saya punya gambarannya.

Mungkin itu cara Sang Pencipta untuk membuat kita tidak sombong. Supaya tidak ada makhluk ciptaannya yang merasa paling hebat. Atau jangan-jangan memang tak semua kepingan mozaik bisa kita lihat hasil jadinya?

sistem-sintaks-peter-robinson-auckland

Foto: Karya instalasi Sistem Sintaks oleh Peter Robinson

Festival Palang Pintu: Hidupkan Budaya Betawi

Tags

, , , , , , , ,

fpp

Pada awal 1950-an, kawasan Kemang belum seriuh sekarang. Hanya ada beberapa rumah dan lahan perkebunan yang ditumbuhi banyak pohon Kemang (Mangifera Kemangcaecea). Selain budidaya buah Kemang, orang-orang Betawi di situ juga menjadi peternak dan memproduksi tahu.

Posisinya yang strategis mengundang semakin banyak orang untuk bermukim di situ, terutama kaum ekspatriat. Kehadiran mereka diikuti pertumbuhan sarana dan prasarana, seperti hotel, restoran, dan toko pada awal 1980. Kini wajah Kemang berubah menjadi pusat bisnis dan hiburan yang glamor, menggeser penduduk aslinya ke gang-gang kecil. Namun setiap setahun sekali, memori kejayaan budaya Betawi kembali dihidupkan lewat Festival Palang Pintu.

Palang pintu merupakan perpaduan antara silat dan seni pantun yang jenaka, biasanya digunakan untuk mengawali prosesi pernikahan orang Betawi. Di Jalan Kemang Raya, tradisi ini kembali dihidupkan sejak 2006 dan selalu diadakan menjelang ulang tahun Jakarta. Tentunya lengkap dengan kehadiran pengantin berbusana adat Betawi yang diiringi musik rebana.

Tahun ini, Festival Palang Pintu Kemang digelar pada 28–29 Mei 2016 untuk memeriahkan ulang tahun Kota Jakarta ke-489. Kemeriahan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 sampai pukul 22.00. Sejumlah ruas jalan di Kemang ditutup, dari Jalan Kemang Selatan VIII sampai Jalan Kemang Selatan XII.

Festival kali ini semakin semarak dengan dua panggung utama yang menampilkan beragam kesenian tradisional Betawi, seperti gambang kromong, tari-tarian, dan lomba kreasi silat. Beberapa boneka ondel-ondel pun ditempatkan di beberapa titik dan menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto.

Mengingat Betawi berasal dari perpaduan berbagai kelompok etnis, Festival Palang Pintu Kemang tidak melulu menghadirkan pertunjukan seni Betawi. Ada pula pertunjukan grup band musik pop dan tarian dari daerah lain, seperti Tari Ampar-ampar Pisang dan Tari Lenggang Pasundan.

Selain pertunjukan kesenian, keberadaan bazar dan pasar kuliner juga menjadi kunci kemeriahan acara. Makanan khas Betawi seperti kerak telor, dodol Betawi, dan selendang mayang memanjakan lidah pengunjung festival ini. Produk yang dijual juga beragam, dari pakaian, suvenir, obat tradisional, buku, hingga batu akik. Barang-barang yang dijajakan dijual dengan harga cukup terjangkau.

Menengok Pusat Budaya Betawi

IMG_7769

Untuk lebih menyelami kebudayaan Betawi, bergeserlah sekitar 12 kilometer ke selatan. Di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa terdapat pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi Setu Babakan. Kawasan setu atau danau seluas 32 hektare ini merupakan sebuah perkampungan yang menawarkan keasrian alam dan situs budaya Betawi. Berikut beberapa di antaranya.

IMG_7815

  • Rumah Kebaya
    Tak jauh dari tepian danau, terdapat area taman dengan beberapa rumah adat Betawi yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kebaya. Ciri khas rumah ini adalah teras yang luas untuk menjamu tamu sekaligus menjadi tempat bersantai keluarga.
  • Panggung Kesenian
    Aneka pertunjukan seni rutin diselenggarakan setiap akhir pekan, dari gambus, tari-tarian, gambang kromong, nasyid, dan lenong. Jadwalnya dapat dilihat di gerbang masuk Setu Babakan.
  • Kuliner Khas Betawi
    Betawi terkenal dengan menu kerak telor, yakni ketan putih yang digoreng kering bersama telur ayam atau bebek dan kelapa sangrai.
  • Wahana Permainan
    Bagi wisatawan yang membawa anak-anak dapat mencoba berbagai atraksi permainan, seperti sepeda air atau komidi putar.

[Dimuat di majalah Mutiara Biru edisi Juni 2016]

Lorong Gelap

Tags

, , , , , , , , ,

Menjelang malam, lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Salemba tampak sepi. Walaupun sudah dipasang banyak lampu, suasana bangunan peninggalan Belanda ini tetap temaram. Saya baru saja mengobrol dengan salah satu dokter forensik di sana.

Karena pintu depan ditutup, saya terpaksa keluar lewat pintu belakang. Namun ketika menoleh ke kiri, pintu ruang autopsi terbuka lebar. Beberapa dokter tampak sedang mengautopsi dua jenazah yang tampak gosong. Untungnya, saya tidak pernah terganggu dengan adegan sadistis, seperti kecelakaan, penyembelihan, atau semacamnya. Biasa saja.

Namun ada adegan yang selalu berhasil membuat saya bergidik ngeri dan cemas berlebihan, yaitu perkosaan. Rasanya seluruh urat di tubuh menegang waktu nonton film dengan adegan perkosaan, dari Minggu Pagi di Victoria Park, sampai I Spit on Your Grave. Jangankan nonton, membaca berita perkosaan saja saya tidak tega.

Yang terbaru adalah berita soal Yuyun, gadis 14 tahun yang diperkosa 14 orang sampai tewas. Mirisnya, pelakunya paling dihukum 10-15 tahun penjara. Korbannya, kalau tidak bunuh diri ya stres berat. Sementara pada 2014 saja, di Indonesia ada 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Data semacam ini bisa dibaca sebagai angka semata. Bahkan tagar #NyalaUntukYuyun beberapa waktu lalu dengan cepat tergantikan oleh tagar bertema politik dan sinetron. Bagi saya, ini tanda bahwa Indonesia adalah negara yang tidak ramah terhadap anak-anak dan perempuan.

Solusinya? Kita semua sudah jagolah kalau soal solusi. Mempertegas aturan, bela diri, jam malam, CCTV, bus khusus wanita, dan semacamnya. Tapi sebenarnya yang lebih penting sekaligus sulit dilakukan, adalah menjaga pola pikir anak-anak lelaki kita agar tidak menjadi predator seks di kemudian hari. Agar tidak ada lagi para ibu yang menangis di lorong gelap ruang autopsi. Menunggu Surat Visum et Repertum dari dokter forensik yang sedang mengambil sampel sperma dari jenazah anak gadisnya.

NyalaUntukYuyun

Manusia vs Teknologi

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Setelah penampilan Joey Alexander di Grammy, presiden Recording Academy, Neil Portnow memberikan sedikit ceramah. Intinya, dia tidak suka dengan keberadaan penyedia layanan streaming lagu. Dengan semakin majunya teknologi, para musisi hanya dihargai 1 sen per lagu. Saya, dan mungkin kebanyakan orang, tentu tidak peduli. Semakin murah, apalagi gratis, semakin baik. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Apakah musisinya salah karena protes honornya berkurang? Apakah perusahaanrekamannya salah karena tidak memberi subsidi? Apakah pendengarnya salah karena lebih suka streaming? Apakah penyedia layanannya salah karena memberi kemudahan bagi pendengar? Apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak ada yang salah. Mengutip tulisan Rhenald Kasali, ini adalah tren sharing economy yang terjadi di hampir semua industri. Di transportasi, kita mengenal layanan berbagi kendaraan yang bisa 3x lipat lebih murah. Di film dan musik kita mengenal situs-situs unduh gratis. Di media kita mengenal eBook, eMagazine, dan ePaper. Di dunia hiburan kita mengenal YouTube yang telah habis-habisan menggerus omset TV. Di perbankan ada perusahaan crowd funding yang lebih menguntungkan. Jadi tidak adil jika menyalahkan sopir taksi, musisi, sineas, pengusaha TV, bankir, pedagang buku yang sedang protes karena penghasilannya berkurang. Juga tidak adil jika menyalahkan penyedia layanan teknologi yang memberi banyak kemudahan bagi konsumen. Jadi, apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak perlu. Berdamailah dengan perubahan, berkawanlah dengan teknologi. Sulit memang, terutama karena pola pendidikan Indonesia mengajarkan muridnya jadi anak yang pemalu, penurut, dan dilarang berinovasi. Tapi daripada adu otot di jalanan, lebih baik sama-sama cari cara agar pelaku bisnis konvensional bisa ikut hijrah ke era digital yang dinamis dan serba gratis.

evolution

Jakarta Itu Panas, Rangga

Tags

, , , , , , , ,

Selama setahun ke depan sepertinya dinding Facebook kembali ke nuansa tahun 2014, ketika orang-orang menuliskan pendapat politiknya di status (termasuk saya). Ada yang membagikan berita-berita ‘wow’ dari situs abal-abal, mengasah keterampilan Photoshop, dan berlomba-lomba saling membela idolanya.

Awalnya memang seru, tapi mendekati puncak pesta demokrasi, kemeriahan ini selalu berbuah konflik. Dari unfriend, block, report as spam, tweet war, hingga janjian ketemuan untuk sekadar pukul-pukulan. Lalu yang paling sedih, agama tak lagi dijalankan, tapi dijadikan amunisi perang status.

Mungkin karena itu jugalah, setelah 14 tahun berpisah, Rangga kembali bertemu Cinta di Jogja, bukan Jakarta. Karena Jakarta menjadi terlalu ‘panas’, lebih panas dari Bekasi.

AADC 2 Meme Ahok

Film Horor Porno dan Pencucian Uang, Mungkinkah?

Tags

, , , , , , , , , , ,

Menjelang akhir pekan, saya mengecek jadwal film yang sedang tayang di bioskop. Perhatian saya tertuju pada satu judul film lokal yang tidak biasa, “Hantu Cantik Kok Ngompol?”

Hantu-Cantik-Kok-Ngompol

Film horor porno telah menjadi bagian dari perfilman Indonesia selama puluhan tahun. Namun sejak era AADC, pada 2000-an, jumlah film-film seperti ini semakin berkurang, walaupun selalu muncul. Sebut saja Tali Pocong Perawan, Hantu Binal Jembatan Semanggi, atau Pocong Mandi Goyang Pinggul. Tadi siang, saya mendiskusikan hal ini dengan teman-teman kantor dan beberapa pendapat mereka cukup menggelitik.

“Apa hubungannya antara cantik dengan ngompol?” Kira-kira begitu celetukan teman saya ketika saya menunjukkan 2 film terbaru tadi. Ketika kami sibuk menertawakan film berjudul menjijikkan ini, teman saya satunya nyeletuk, “Mungkinkah film itu dipake buat money laundry?”

Saya tertegun. Begitu kembali ke meja kerja, saya langsung melakukan riset kecil tentang film tadi. Hantu Cantik Kok Ngompol dibuat oleh Duta Lintas Samudra. Tak satu pun artikel tentang rumah produksi ini muncul ketika saya cari di Google. Yang ada hanyalah Duta Lintas Samudera (dengan huruf ‘e’), perusahaan perkapalan di Samarinda. Situs film Indonesia yang cukup lengkap, filmindonesia.or.id pun mencatat bahwa Duta Lintas Samudra baru punya 1 film aneh tadi. Sutradaranya Emil G. Hampp, yang terkenal dengan film Gejolak Nafsu dan Tiren (Mati Kemaren). Sementara pemainnya Sarah Azhari, Baby Margaretha, Nana Mirdad, dan Omas, para selebriti yang mulai tenggelam dari industri dunia hiburan.

Setelah itu, saya mencari tahu tentang modus-modus pencucian uang. Ada banyak sekali tekniknya ternyata, lewat rekening orang ketiga, lewat jasa lembaga keuangan, lewat pembelian barang mewah, dan yang cukup populer, lewat pendirian perusahaan baru.

Film Hantu Cantik Kok Ngompol tayang pada 14 Januari 2016 dan sudah menghilang dari bioskop pada minggu berikutnya. Jadi film ini cuma tayang sekitar 3-6 hari. Total penontonnya hanya 1.874 orang dan mendapat banyak komentar negatif di media sosial.

Screenshot_2016-01-21-16-38-29

Melihat data ini, terbersit pertanyaan di benak saya, untuk apa sebuah rumah produksi membuat film berkualitas rendah yang hanya tayang sebentar di sedikit bioskop dengan laba sangat minim? Yah, pertanyaan tetap menjadi sebuah pertanyaan. Saya tidak sedang mencoba membuktikan apa-apa. Saya hanya penasaran, apa iya hantu bisa ngompol?

Surya, Teh, dan Albasia

Tags

, , , , , , , ,

Wilayah Cianjur selatan didominasi daerah perbukitan dengan jalan yang cukup terjal dan berkelok-kelok. Mereka yang sering mengalami mabuk perjalanan akan mendapatkan ujian berat jika naik mobil melintasi daerah ini. Rasa mual dan pusing terjadi ketika tubuh, telinga, dan mata mengirimkan sinyal yang tidak sinkron kepada otak. Tubuh merasakan sensasi berputar, tapi mata tidak melihatnya karena mungkin tertutup jok mobil di depannya. Di perkebunan teh Pasir Nangka, orang-orang yang otaknya mulai kurang sinkron ini memutuskan untuk berhenti sejenak. Di sana, cahaya surya menyusup dari sela-sela daun Albasia, mengirimkan kehangatannya pada pucuk-pucuk permadani daun teh. Melebur menjadi senja. Saat langit mulai memejam, para pemabuk perjalanan ini pulang. Belajar dari sang surya, teh, dan Albasia, mereka menyelaraskan otak dan hatinya, menikmati setiap langkah, setajam apapun belokannya, seterjal apapun perjalanannya.

Sukanagara

Image

Oranye

Tags

, , , , , ,

Tigger

Oranye adalah salah satu warna yang sering terlihat di jalanan. Karakternya yang mencolok dan mudah terlihat membuat warna ini sering digunakan oleh aneka profesi, seperti penyapu jalan, petugas kebersihan, atau tukang parkir. Kebetulan, Tigger juga berwarna oranye. Tigger adalah tokoh harimau buatan Disney yang selalu ceria dan antusias terhadap segala sesuatu. Kali ini, dia tampak antusias memandang si tukang parkir. Mungkin karena Tigger merasa menemukan kawan seperjuangan. Sama-sama berjuang di jalanan. Sama-sama memakai kostum oranye yang memudar, karena terlalu sering diabaikan orang dan disengat matahari.

Sajak-sajak Konser

Tags

, , , , , , , ,

Selamat datang Ariana Grande, di Indonesia
Jangan hiraukan ingar-bingar Polri versus KPK
Atau Ramli versus JK

Siapkan konsermu Bon Jovi, di Jakarta
Jangan pedulikan seteru mafia kontrakan melawan Gubernur
Atau ribut-ribut Bekasi dan Tolikara

Bernyanyi sajalah
Bunyikan gemerincing rupiah yang melemah
Biar makin meriah
Hiburlah kami,
bangsa paling ramah yang gemar marah

Palmerah, 24-08-15 (terinspirasi obrolan di Warung Bu Dewi)

Warna-warni Menuju Udik

Tags

, , , , , , , , , ,

Menuju udik berarti perjalanan kembali ke hulu sungai atau daerah pedalaman. Inilah asal mula kata mudik yang sering kita dengar pada masa libur lebaran atau natal. Sejak 2009 sampai sekarang, saya rutin melakukan ritual ini rata-rata empat kali dalam setahun. Moda transportasi yang saya gunakan hampir selalu kereta api jurusan Jakarta-Semarang. Tapi tidak tahun ini.

Saya bukan tipe pemburu tiket garis keras yang rela menunggu pemesanan online dibuka pada tengah malam, atau mengecek ketersediaan tiket setiap detik setiap hari. Alhasil, saya kehabisan tiket kereta Jakarta-Semarang. Untungnya ada strategi cadangan, yaitu mencari rute alternatif yang jarang diminati pemudik. Akhirnya saya mendapatkan tiket Jakarta-Cimahi, lalu disambung dengan kereta Cimahi-Semarang.

Ketika melewati daerah Cikubang, Jawa Barat, saya memandangi jalan tol dan rel kereta dengan takjub. Keduanya berada di jembatan dengan ketinggian sekitar 80 meter. Di bawahnya ada sungai, ngarai, sawah, dan tipografi lain yang tampak memikat jika dilihat dari atas.
IMG_8393b

Sampai di Cimahi, saya keluar dari stasiun dan sedikit menjelajahi kota kecil ini. Tidak bisa berkeliling terlalu jauh supaya tidak tertinggal kereta ke Semarang. Lagipula, sebagian besar tempat kuliner di sana tutup karena masih hari lebaran. Satu hal yang cukup unik dari Cimahi adalah banyaknya pusat pelatihan tentara dan bangunan militer di sini, yakni sekitar 60 persen dari seluruh wilayah kota. Itulah mengapa Cimahi dijuluki sebagai “Kota Hijau”, warna yang melambangkan institusi militer di Indonesia. IMG_8404b

Di Semarang, saya sempat mampir ke Lunpia Delight di Jalan Gajah Mada. Tempat ini dapat dijadikan alternatif jika Anda lebih suka makan lunpia dengan suasana restoran yang modern dan higienis. Namun jika ingin makan lunpia dengan nuansa tradisional, silakan datang ke warung lunpia Gang Lombok. Keduanya sama-sama dikelola oleh anggota Dinasti Lunpia yang melegenda di Semarang.
IMG_8444b

Sementara itu ketika melewati daerah Ungaran, saya makan siang di Gubuk Makan Mang Engking (GMME). Berbeda dengan GMME yang ada di Depok dan Yogyakarta, GMME Ungaran tidak memiliki danau yang bisa dijelajahi dengan sampan atau sepeda air. Namun uniknya, di sini kita bisa melihat 2 ekor harimau Siberia (Panthera tigris altaica) yang dipelihara dalam kandang. Kandangnya besar dan bersih, dengan kolam berair jernih tempat si harimau berkubang agar tidak kepanasan. Mungkin pengelola Kebun Binatang Ragunan atau Kebun Binatang Surabaya perlu studi banding ke Gubuk Makan Mang Engking ini.
IMG_8458b

Perjalanan mudik melewati jalur yang tidak biasa kita lalui ternyata memberikan pengalaman yang selalu baru dan berbeda. Jadi jangan khawatir kehabisan tiket, jangan takut berlama-lama di jalan. Mengapa harus buru-buru sampai, jika semua yang kita lalui lebih berwarna dari sekadar tujuan.

Negara Maju, Berkembang, dan Tidak Berkembang

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Indonesia termasuk negara berkembang, walau ada juga yang menggolongkan negara miskin. Mungkin karena melihat pendapatan, infrastruktur, dan Indeks Pembangunan Manusia yang masih rendah. Namun adilkah memberi predikat maju-kurang maju hanya berdasarkan angka? Bagaimana dengan spiritualitas, kecerdasan emosi, falsafah hidup? Yah, mungkin karena saya anak IPS, hal-hal yang tidak bisa diukur secara eksak ini menjadi penting. Ucapan Perdana Menteri Australia contohnya, yang seolah tidak ikhlas beramal untuk tsunami Aceh, mirip dengan perilaku anak kecil yang merengek minta hadiah setelah membantu mencuci piring. Begitu juga dengan Prancis yang mengancam memutuskan hubungan diplomatik sehingga berbagai program budaya dan pendidikan terancam batal.

Mengapa harus dendam? Ada peribahasa tentang kedaulatan, yaitu “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hukum kita sudah jelas, hukuman mati bagi pengedar narkoba. Tapi mereka tetap saja ke sini. Dalam pepatah Jawa, ini berarti “Ula marani gebuk” atau “sengaja mendekati malapetaka”. Padahal dulu Jean-Paul Sartre pernah mengatakan, “L’homme est condamné à être libre” atau “manusia dikutuk untuk bebas.” Manusia adalah makhluk bebas dengan pilihan yang tak terarah, sehingga sering mengalami kebingungan. Akhirnya dengan kebebasan penuh itu, manusia justru kehilangan tujuan dan pedoman hidup. Karena itu, menurut Sartre, manusia harus bertanggung jawab akan tindakan dan pilihan yang telah diambilnya dengan penuh kesadaran. Manusia tidak boleh menyesal atau mengeluh atas konsekuensi yang mereka peroleh kemudian (la mauvaise foi).

Awal abad ke-20 negara-negara maju sudah memiliki falsafah sevisioner ini. Lalu mengapa sekarang justru bertolak belakang? Apakah terlalu sibuk memajukan perekonomian dan infrastruktur, sehingga pemikiran tidak berkembang?

Jean-Paul_Sartre_FP

Era Maya & Kabar Abal-Abal

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Rp 48.500 per bulan. Itulah harga yang dipatok oleh salah satu penyedia jasa pembuatan website. Tidak perlu pusing memikirkan desain web, SEO (Search Engine Optimization), atau cara mengoperasikannya karena semua sudah tersedia secara instan. Apalagi kalau mau mengambil paket Super Premium, bakal ada lebih banyak fasilitas dan kemudahan.

Dipadukan dengan pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia yang sangat menggiurkan, tidak aneh jika sekarang ini dunia maya dibanjiri dengan situs-situs baru, termasuk portal berita online. Miliaran informasi lalu-lalang di layar komputer dan sabak digital. Mana fakta mana gosip semakin tak jelas. Nama-nama narasumber bertaburan, entah asli atau fiktif. Parahnya lagi, setiap kali membaca judul yang heboh, para netizen langsung tak sabar mengklik tombol share atau bagikan.

Lalu bagaimana cara membedakan portal berita terpercaya dengan yang abal-abal? Mungkin beberapa tip berikut ini bisa membantu.

Word on keyboard

  1. Cek kredibilitas situs
    Nama-nama besar seperti Kompas, Tempo, dan Detik tentu sudah dikenal, walaupun kita harus tetap kritis dengan akurasi beritanya. Namun jika menemukan berita menarik di situs yang baru kita dengar namanya, cek saja di Alexa.com. Alexa adalah situs terpercaya untuk menguji reputasi, popularitas, dan traffic situs di seluruh dunia. Kalau peringkatnya sangat rendah atau bahkan tidak masuk daftar, berarti perlu dicurigai.
  2. Perhatikan frekuensi update
    Portal berita abal-abal biasanya dikelola oleh perorangan atau tim kecil, sehingga frekuensi update beritanya tidak beraturan, bahkan jarang. Ini bisa dilihat dari tanggal mengunggah beritanya.
  3. Hitung jumlah kanal
    Situs berita yang terpercaya biasanya memiliki banyak sekali kanal atau kategori. Kompas dan Tempo misalnya, memiliki 14 kanal, belum termasuk subkanal di bawahnya. Portal abal-abal cenderung tidak terlalu banyak kanal karena tidak memiliki jumlah tenaga kerja yang memadai.
  4. Perhatikan kebahasaan
    Sumber daya manusia di kantor-kantor berita tentu merupakan tenaga terdidik, terutama dalam hal tata bahasa. Berita ngawur biasanya disajikan dengan ejaan dan tanda baca yang juga asal-asalan.
  5. Lihat kualitas isi
    Jurnalisme mengenal kode etik. Hal inilah yang tidak dikenal oleh para jurnalis abal-abal yang asal copy-paste dan menggoreng berita. Mereka biasanya memakai kosakata yang kasar, sistematika penulisan yang tidak runtut, dan melupakan konsep 5W 1H (What Who Where When Why How).

bad-internet-security

Ribet? Tidak juga. Semua langkah screening ini bisa dilakukan sembari kita membaca beritanya. Intinya hanya satu, sempatkan membaca isi, jangan cuma judul. Semua situs berlomba-lomba menarik viewers dengan judulnya. Bahkan portal berita besar pun mulai agak ‘nakal’ mengolah judulnya, apalagi yang abal-abal. Kalau ingin dunia maya tetap lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya, jangan malas membaca!