Image

Tags

, , , , ,

yesterday

Advertisements

Film Horor Porno dan Pencucian Uang, Mungkinkah?

Tags

, , , , , , , , , , ,

Menjelang akhir pekan, saya mengecek jadwal film yang sedang tayang di bioskop. Perhatian saya tertuju pada satu judul film lokal yang tidak biasa, “Hantu Cantik Kok Ngompol?”

Hantu-Cantik-Kok-Ngompol

Film horor porno telah menjadi bagian dari perfilman Indonesia selama puluhan tahun. Namun sejak era AADC, pada 2000-an, jumlah film-film seperti ini semakin berkurang, walaupun selalu muncul. Sebut saja Tali Pocong Perawan, Hantu Binal Jembatan Semanggi, atau Pocong Mandi Goyang Pinggul. Tadi siang, saya mendiskusikan hal ini dengan teman-teman kantor dan beberapa pendapat mereka cukup menggelitik.

“Apa hubungannya antara cantik dengan ngompol?” Kira-kira begitu celetukan teman saya ketika saya menunjukkan 2 film terbaru tadi. Ketika kami sibuk menertawakan film berjudul menjijikkan ini, teman saya satunya nyeletuk, “Mungkinkah film itu dipake buat money laundry?”

Saya tertegun. Begitu kembali ke meja kerja, saya langsung melakukan riset kecil tentang film tadi. Hantu Cantik Kok Ngompol dibuat oleh Duta Lintas Samudra. Tak satu pun artikel tentang rumah produksi ini muncul ketika saya cari di Google. Yang ada hanyalah Duta Lintas Samudera (dengan huruf ‘e’), perusahaan perkapalan di Samarinda. Situs film Indonesia yang cukup lengkap, filmindonesia.or.id pun mencatat bahwa Duta Lintas Samudra baru punya 1 film aneh tadi. Sutradaranya Emil G. Hampp, yang terkenal dengan film Gejolak Nafsu dan Tiren (Mati Kemaren). Sementara pemainnya Sarah Azhari, Baby Margaretha, Nana Mirdad, dan Omas, para selebriti yang mulai tenggelam dari industri dunia hiburan.

Setelah itu, saya mencari tahu tentang modus-modus pencucian uang. Ada banyak sekali tekniknya ternyata, lewat rekening orang ketiga, lewat jasa lembaga keuangan, lewat pembelian barang mewah, dan yang cukup populer, lewat pendirian perusahaan baru.

Film Hantu Cantik Kok Ngompol tayang pada 14 Januari 2016 dan sudah menghilang dari bioskop pada minggu berikutnya. Jadi film ini cuma tayang sekitar 3-6 hari. Total penontonnya hanya 1.874 orang dan mendapat banyak komentar negatif di media sosial.

Screenshot_2016-01-21-16-38-29

Melihat data ini, terbersit pertanyaan di benak saya, untuk apa sebuah rumah produksi membuat film berkualitas rendah yang hanya tayang sebentar di sedikit bioskop dengan laba sangat minim? Yah, pertanyaan tetap menjadi sebuah pertanyaan. Saya tidak sedang mencoba membuktikan apa-apa. Saya hanya penasaran, apa iya hantu bisa ngompol?

Surya, Teh, dan Albasia

Tags

, , , , , , , ,

Wilayah Cianjur selatan didominasi daerah perbukitan dengan jalan yang cukup terjal dan berkelok-kelok. Mereka yang sering mengalami mabuk perjalanan akan mendapatkan ujian berat jika naik mobil melintasi daerah ini. Rasa mual dan pusing terjadi ketika tubuh, telinga, dan mata mengirimkan sinyal yang tidak sinkron kepada otak. Tubuh merasakan sensasi berputar, tapi mata tidak melihatnya karena mungkin tertutup jok mobil di depannya. Di perkebunan teh Pasir Nangka, orang-orang yang otaknya mulai kurang sinkron ini memutuskan untuk berhenti sejenak. Di sana, cahaya surya menyusup dari sela-sela daun Albasia, mengirimkan kehangatannya pada pucuk-pucuk permadani daun teh. Melebur menjadi senja. Saat langit mulai memejam, para pemabuk perjalanan ini pulang. Belajar dari sang surya, teh, dan Albasia, mereka menyelaraskan otak dan hatinya, menikmati setiap langkah, setajam apapun belokannya, seterjal apapun perjalanannya.

Sukanagara

Image

Oranye

Tags

, , , , , ,

Tigger

Oranye adalah salah satu warna yang sering terlihat di jalanan. Karakternya yang mencolok dan mudah terlihat membuat warna ini sering digunakan oleh aneka profesi, seperti penyapu jalan, petugas kebersihan, atau tukang parkir. Kebetulan, Tigger juga berwarna oranye. Tigger adalah tokoh harimau buatan Disney yang selalu ceria dan antusias terhadap segala sesuatu. Kali ini, dia tampak antusias memandang si tukang parkir. Mungkin karena Tigger merasa menemukan kawan seperjuangan. Sama-sama berjuang di jalanan. Sama-sama memakai kostum oranye yang memudar, karena terlalu sering diabaikan orang dan disengat matahari.

Sajak-sajak Konser

Tags

, , , , , , , ,

Selamat datang Ariana Grande, di Indonesia
Jangan hiraukan ingar-bingar Polri versus KPK
Atau Ramli versus JK

Siapkan konsermu Bon Jovi, di Jakarta
Jangan pedulikan seteru mafia kontrakan melawan Gubernur
Atau ribut-ribut Bekasi dan Tolikara

Bernyanyi sajalah
Bunyikan gemerincing rupiah yang melemah
Biar makin meriah
Hiburlah kami,
bangsa paling ramah yang gemar marah

Palmerah, 24-08-15 (terinspirasi obrolan di Warung Bu Dewi)

Warna-warni Menuju Udik

Tags

, , , , , , , , , ,

Menuju udik berarti perjalanan kembali ke hulu sungai atau daerah pedalaman. Inilah asal mula kata mudik yang sering kita dengar pada masa libur lebaran atau natal. Sejak 2009 sampai sekarang, saya rutin melakukan ritual ini rata-rata empat kali dalam setahun. Moda transportasi yang saya gunakan hampir selalu kereta api jurusan Jakarta-Semarang. Tapi tidak tahun ini.

Saya bukan tipe pemburu tiket garis keras yang rela menunggu pemesanan online dibuka pada tengah malam, atau mengecek ketersediaan tiket setiap detik setiap hari. Alhasil, saya kehabisan tiket kereta Jakarta-Semarang. Untungnya ada strategi cadangan, yaitu mencari rute alternatif yang jarang diminati pemudik. Akhirnya saya mendapatkan tiket Jakarta-Cimahi, lalu disambung dengan kereta Cimahi-Semarang.

Ketika melewati daerah Cikubang, Jawa Barat, saya memandangi jalan tol dan rel kereta dengan takjub. Keduanya berada di jembatan dengan ketinggian sekitar 80 meter. Di bawahnya ada sungai, ngarai, sawah, dan tipografi lain yang tampak memikat jika dilihat dari atas.
IMG_8393b

Sampai di Cimahi, saya keluar dari stasiun dan sedikit menjelajahi kota kecil ini. Tidak bisa berkeliling terlalu jauh supaya tidak tertinggal kereta ke Semarang. Lagipula, sebagian besar tempat kuliner di sana tutup karena masih hari lebaran. Satu hal yang cukup unik dari Cimahi adalah banyaknya pusat pelatihan tentara dan bangunan militer di sini, yakni sekitar 60 persen dari seluruh wilayah kota. Itulah mengapa Cimahi dijuluki sebagai “Kota Hijau”, warna yang melambangkan institusi militer di Indonesia. IMG_8404b

Di Semarang, saya sempat mampir ke Lunpia Delight di Jalan Gajah Mada. Tempat ini dapat dijadikan alternatif jika Anda lebih suka makan lunpia dengan suasana restoran yang modern dan higienis. Namun jika ingin makan lunpia dengan nuansa tradisional, silakan datang ke warung lunpia Gang Lombok. Keduanya sama-sama dikelola oleh anggota Dinasti Lunpia yang melegenda di Semarang.
IMG_8444b

Sementara itu ketika melewati daerah Ungaran, saya makan siang di Gubuk Makan Mang Engking (GMME). Berbeda dengan GMME yang ada di Depok dan Yogyakarta, GMME Ungaran tidak memiliki danau yang bisa dijelajahi dengan sampan atau sepeda air. Namun uniknya, di sini kita bisa melihat 2 ekor harimau Siberia (Panthera tigris altaica) yang dipelihara dalam kandang. Kandangnya besar dan bersih, dengan kolam berair jernih tempat si harimau berkubang agar tidak kepanasan. Mungkin pengelola Kebun Binatang Ragunan atau Kebun Binatang Surabaya perlu studi banding ke Gubuk Makan Mang Engking ini.
IMG_8458b

Perjalanan mudik melewati jalur yang tidak biasa kita lalui ternyata memberikan pengalaman yang selalu baru dan berbeda. Jadi jangan khawatir kehabisan tiket, jangan takut berlama-lama di jalan. Mengapa harus buru-buru sampai, jika semua yang kita lalui lebih berwarna dari sekadar tujuan.

Negara Maju, Berkembang, dan Tidak Berkembang

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Indonesia termasuk negara berkembang, walau ada juga yang menggolongkan negara miskin. Mungkin karena melihat pendapatan, infrastruktur, dan Indeks Pembangunan Manusia yang masih rendah. Namun adilkah memberi predikat maju-kurang maju hanya berdasarkan angka? Bagaimana dengan spiritualitas, kecerdasan emosi, falsafah hidup? Yah, mungkin karena saya anak IPS, hal-hal yang tidak bisa diukur secara eksak ini menjadi penting. Ucapan Perdana Menteri Australia contohnya, yang seolah tidak ikhlas beramal untuk tsunami Aceh, mirip dengan perilaku anak kecil yang merengek minta hadiah setelah membantu mencuci piring. Begitu juga dengan Prancis yang mengancam memutuskan hubungan diplomatik sehingga berbagai program budaya dan pendidikan terancam batal.

Mengapa harus dendam? Ada peribahasa tentang kedaulatan, yaitu “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hukum kita sudah jelas, hukuman mati bagi pengedar narkoba. Tapi mereka tetap saja ke sini. Dalam pepatah Jawa, ini berarti “Ula marani gebuk” atau “sengaja mendekati malapetaka”. Padahal dulu Jean-Paul Sartre pernah mengatakan, “L’homme est condamné à être libre” atau “manusia dikutuk untuk bebas.” Manusia adalah makhluk bebas dengan pilihan yang tak terarah, sehingga sering mengalami kebingungan. Akhirnya dengan kebebasan penuh itu, manusia justru kehilangan tujuan dan pedoman hidup. Karena itu, menurut Sartre, manusia harus bertanggung jawab akan tindakan dan pilihan yang telah diambilnya dengan penuh kesadaran. Manusia tidak boleh menyesal atau mengeluh atas konsekuensi yang mereka peroleh kemudian (la mauvaise foi).

Awal abad ke-20 negara-negara maju sudah memiliki falsafah sevisioner ini. Lalu mengapa sekarang justru bertolak belakang? Apakah terlalu sibuk memajukan perekonomian dan infrastruktur, sehingga pemikiran tidak berkembang?

Jean-Paul_Sartre_FP

Era Maya & Kabar Abal-Abal

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Rp 48.500 per bulan. Itulah harga yang dipatok oleh salah satu penyedia jasa pembuatan website. Tidak perlu pusing memikirkan desain web, SEO (Search Engine Optimization), atau cara mengoperasikannya karena semua sudah tersedia secara instan. Apalagi kalau mau mengambil paket Super Premium, bakal ada lebih banyak fasilitas dan kemudahan.

Dipadukan dengan pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia yang sangat menggiurkan, tidak aneh jika sekarang ini dunia maya dibanjiri dengan situs-situs baru, termasuk portal berita online. Miliaran informasi lalu-lalang di layar komputer dan sabak digital. Mana fakta mana gosip semakin tak jelas. Nama-nama narasumber bertaburan, entah asli atau fiktif. Parahnya lagi, setiap kali membaca judul yang heboh, para netizen langsung tak sabar mengklik tombol share atau bagikan.

Lalu bagaimana cara membedakan portal berita terpercaya dengan yang abal-abal? Mungkin beberapa tip berikut ini bisa membantu.

Word on keyboard

  1. Cek kredibilitas situs
    Nama-nama besar seperti Kompas, Tempo, dan Detik tentu sudah dikenal, walaupun kita harus tetap kritis dengan akurasi beritanya. Namun jika menemukan berita menarik di situs yang baru kita dengar namanya, cek saja di Alexa.com. Alexa adalah situs terpercaya untuk menguji reputasi, popularitas, dan traffic situs di seluruh dunia. Kalau peringkatnya sangat rendah atau bahkan tidak masuk daftar, berarti perlu dicurigai.
  2. Perhatikan frekuensi update
    Portal berita abal-abal biasanya dikelola oleh perorangan atau tim kecil, sehingga frekuensi update beritanya tidak beraturan, bahkan jarang. Ini bisa dilihat dari tanggal mengunggah beritanya.
  3. Hitung jumlah kanal
    Situs berita yang terpercaya biasanya memiliki banyak sekali kanal atau kategori. Kompas dan Tempo misalnya, memiliki 14 kanal, belum termasuk subkanal di bawahnya. Portal abal-abal cenderung tidak terlalu banyak kanal karena tidak memiliki jumlah tenaga kerja yang memadai.
  4. Perhatikan kebahasaan
    Sumber daya manusia di kantor-kantor berita tentu merupakan tenaga terdidik, terutama dalam hal tata bahasa. Berita ngawur biasanya disajikan dengan ejaan dan tanda baca yang juga asal-asalan.
  5. Lihat kualitas isi
    Jurnalisme mengenal kode etik. Hal inilah yang tidak dikenal oleh para jurnalis abal-abal yang asal copy-paste dan menggoreng berita. Mereka biasanya memakai kosakata yang kasar, sistematika penulisan yang tidak runtut, dan melupakan konsep 5W 1H (What Who Where When Why How).

bad-internet-security

Ribet? Tidak juga. Semua langkah screening ini bisa dilakukan sembari kita membaca beritanya. Intinya hanya satu, sempatkan membaca isi, jangan cuma judul. Semua situs berlomba-lomba menarik viewers dengan judulnya. Bahkan portal berita besar pun mulai agak ‘nakal’ mengolah judulnya, apalagi yang abal-abal. Kalau ingin dunia maya tetap lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya, jangan malas membaca!

Seolah Baik-baik Saja

Tags

, , , , , ,

Dilihat dari atas, sebuah kota modern yang terbentang di bawah hamparan awan stratokumulus. Dilihat langsung dari bawah, kota termacet di dunia dengan populasi 12,5 juta orang pada siang hari, melebihi batas ideal 12 juta jiwa. Ada gula ada semut, 60 persen uang negara ada di 1 kota ini. Tidak aneh jika saling sikut, korupsi, dan pembegalan terjadi setiap saat. Berebut seperti semut. Mungkin karena itulah banyak orang suka berlama-lama berada di atas atap gedung. Karena hanya dari sinilah ibukota terlihat seolah baik-baik saja.

IMG_6798

2015

Tags

, , , , ,

IMG_6479

Satu Januari dua ribu lima belas, kereta yang saya naiki melewati daerah Kebumen. Sudah lepas senja, tapi Mentari di sana tak jua mau tenggelam. Malam beranjak gelisah. Ia menyuruh pasukan terbaiknya, Kumulonimbus, untuk menelan Mentari. Kumulonimbus hampir tak pernah gagal. Mereka punya senjata terbaik di semesta. Sebut saja badai, hujan es, petir, dan pusaran angin. Namun entah mengapa, tak ada amunisi yang tertumpah pada pertempuran kali ini. Mentari memecah dirinya menjadi jutaan partikel foton merah jingga, merasuk hingga ke jantung belasan pasukan Kumulonimbus. Tidak ada bencana, hanya keindahan yang terukir di langit Kebumen. Mungkin ini pertanda, 2015 akan tetap menjadi tahun yang riuh bagi Nusantara, tapi ujungnya, selalu keindahan.

The ‘Gaul’ English Book

Tags

, , , , , ,

The Gaul English Book

Kata orang-orang, belajar lebih efektif jika dilakukan dengan gembira. Jadi kalau kamu belum lancar berbahasa Inggris dan sedang murung gara-gara ditinggal pacar atau gagal nyaleg, coba deh baca buku ini. Panduan belajar bahasa Inggris dengan aneka kuis, permainan, cerita lucu, dan materi lain yang pasti bikin kamu gembira. Apalagi kalau bacanya sambil piknik. Dapatkan segera! Hari Senin harga naik!

People said that learning can be more effective if you do it with joy and pleasure. So, if you’re Indonesian, if you can’t speak English fluently, if you’re sad after left by your boy/girlfriend, just read this book. It is a useful tutorial to learn English through many fun methods, such as quizzes, games, and funny stories. It’s better if you read the book while having a picnic. Grab it fast! The price will rise on Monday!

Harga: Rp 42.000
Segera tersedia versi e-Book-nya.

Apes

Tags

, , , , , , ,

Saya sering apes setiap kali naik KRL (Kereta Rel Listrik) dari Tanah Abang ke Palmerah. Saat berdiri di dekat pintu untuk melihat pemandangan di luar, sering saya tidak sengaja melihat orang yang sedang berak di bantaran rel Stasiun Tanah Abang. Sungguh pemandangan yang kurang pas untuk mengawali hari.

Namun dari sketsa kehidupan di sepanjang rel ini jugalah saya banyak belajar. Saya dan para penghuni bantaran rel itu sama. Kami sama-sama perantau yang berasal dari daerah. Kami sama-sama belum mampu menemukan atau menciptakan pekerjaan di kampung halaman, sehingga memilih menjadi semut-semut pemburu gula di megapolitan. Bagaimana tidak, lebih dari 70 persen perputaran uang nasional ada di Jakarta!

Menjelang akhir libur lebaran 2014, media beramai-ramai memberitakan soal urbanisasi. Menurut survei pada Juni 2014 oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sekitar 68.500 orang dari daerah menyerbu Jakarta. Tanpa kemampuan dan kepastian kerja, para perantau ini tentu akan menjadi masalah, baik bagi dirinya, keluarganya, maupun negaranya.

Ada yang kemudian menjadi buruh dengan gaji minim, ada yang menjadi preman, pencopet, atau pengemis. Ada juga yang berhasil meniti karier, namun tidak banyak. Akhirnya ibu kota yang puluhan tahun salah urus pun semakin semrawut. Karena kecewa dengan Jakarta, si kaya dan si miskin sama-sama membangun kota di dalam kota. Si kaya membangun kawasan bisnis modern dan superblok mewah di tengah kota. Si miskin membangun pusat hunian dan hiburan sederhana di pinggir kali atau rel kereta. Mereka bahkan membuat semacam ‘red district’ alias tempat pelacuran yang senantiasa meriah setiap malam selama belasan tahun.

IMG_5181

Indonesia memang bangsa penyintas, yang tidak akan mati berapa kalipun dijajah, disakiti, atau diabaikan. Namun rakyat akan benar-benar hidup layak jika pemimpinnya mau mendengar dan bekerja. Pemimpin jangan sampai memihak pengusaha atau membela gelandangan. Mereka hanya perlu merobohkan sekat di antara keduanya dan mengajak semua pihak bekerja bersama-sama.

Libur lebaran telah usai, saya kembali naik KRL dari Tanah Abang. Namun pemandangan kali ini agak berbeda. Puluhan personel Satpol PP, polisi, petugas keamanan kereta, dan pegawai KAI beramai-ramai menggusur bangunan liar di bantaran rel.

Langkah ini merupakan bentuk kerja sama Pemda DKI dengan KAI untuk menciptakan kawasan perkotaan yang rapi tapi tetap manusiawi. Para penghuni bangunan liar digusur tanpa kekerasan. KAI menyediakan rangkaian kereta untuk mengangkut material bangunan, sedangkan Pemda DKI menyiapkan sejumlah Rusunawa (rumah susun sederhana sewa) sebagai ‘rumah baru’ mereka.

IMG_5168

Sangat mungkin suatu hari nanti para penyintas ini akan kembali ke bantaran kali atau rel. Namun setelah melihat kerja keras para pemimpin untuk membenahi negaranya, tidak seharusnya saya pesimistis. Tidak seharusnya pula saya merasa apes hanya karena berkali-kali memergoki orang berak di jalan. Masih banyak orang yang lebih apes. Lamaran kerjanya ditolak, tidak punya kamar mandi, digusur pula.

Pada akhir perjalanan, saya memandangi Stasiun Palmerah yang sedang dirombak menjadi lebih bagus, sambil berpikir. Mungkin kata apes tidak seharusnya ada dalam kosakata, sebab tidak ada kejadian yang benar-benar kebetulan. Semua yang terjadi sekarang adalah hasil dari perbuatan di masa lalu, atau tangga pertama yang harus dilalui menuju masa depan.

A Dog’s Tale

Tags

, , , , , , ,

I walked beside my weary dog
He sniffed the scattered and abandoned logs
Bearing the past of those dying woods
When the leaves were green like they should

Some men want to be wealthy
Battering down the nature and get much money
The others seal their mouth and dignity
So they can’t feel the tree’s misery

I heard vague sound of an unknown crowd
People shared plants and stick them to the ground
A tree burned a code shroud
A seed sowed an alteration vowed

That day, my dog howled to a blooming rose
Telling millions hope of a life’s prose

Dog

Lalu Sunyi

Tags

, , , , , ,

Sejak ada sampai tiada
Tak sekalipun manusia berperang karena ras, suku, agama
Amarah ada di sana sepanjang masa
Menunggu alasan-alasan paling sempurna

Lalu saat si mungil berhenti bernapas
Si jagal berhenti merasa
Tak ada apa-apa selain hampa
Sehingga jika ada yang masih punya jiwa
Dengan senang hati ia merenggutnya

Lalu saat yang kosong, tak bisa diisi
Ia mencari ke kolong, tempat anak lain bersembunyi
Satu jiwa lagi ia curi
Tetap tak terisi

Lalu memejam
Laranya yang riuh, memudar
Rasanya yang hampa, menjelma
Memaafkan dirinya, musuhnya, Tuhannya
Yang ia pikir paling berdosa

Si jagal yang pernah kehilangan jiwanya
Pada senja yang sunyi, menemukannya
Di redupnya puing-puing Gaza

Jeff the Killer_by_kim_tam

Transformers: Beta Maluku

Tags

, , , , , , , ,

Begitu masuk ke lobi bioskop XXI, langsung terlihat antrean panjang di depan loket. Apalagi kalau bukan antrean penonton film Transformers 4. Saat itu saya belum memutuskan akan nonton apa, tapi yang jelas bukan Transformers. Menurut saya, sebuah film laku bisa tetap bagus jika dibatasi dengan trilogi. Artinya setelah film ketiga, harus dilakukan reboot atau dirombak cerita, pemain, bahkan sutradaranya. Contohnya Batman atau Spider-Man. Jika tidak, nasibnya akan seperti Resident Evil atau Fast and Furious. Laku tapi lebay. Lihat saja ratingnya di imdb dan review para kritikus.

Alhasil, saya memilih untuk nonton film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Awalnya saya ragu karena terlalu banyak orang baru di film itu, seperti Glenn Fredly yang baru pertama kali jadi produser, Shafira yang baru pertama kali main film, atau nama-nama asing di jajaran pemain bolanya. Tapi embel-embel ‘berdasarkan kisah nyata’ membulatkan tekad saya untuk nonton film ini.

Film dibuka dengan keteledoran Sani Tawainella muda sehingga membuat timnya kalah di sebuah pertandingan. Adegan kemudian melompat ke tahun 2000, ke tengah jalanan kota Ambon yang saat itu sedang dilanda konflik hebat. Setiap hari hanya ada darah, api, pembunuhan, atau air mata. Atmosfer kelam ini semakin kuat dengan adanya rekaman video asli tentang tragedi Ambon kala itu. Perlahan tapi pasti, penonton mulai terbawa suasana.

Namun seperti semua film, drama, cerita, dan kehidupan, Sani justru mendapatkan cahaya terang ketika Ambon berada di titik nadir. Dia menggunakan bahasa yang paling universal untuk menyelematkan saudara-saudaranya, yaitu dengan sepakbola. Ketegangan dan bahaya, terutama bagi anak-anak, yang memuncak pun kemudian reda perlahan. Namun justru ketika Ambon kembali normal, masalah baru muncul, yaitu persoalan finansial. Kepandaian Angga Sasongko, sang sutradara dalam mengatur amplitudo dan mengaduk emosi penonton memang menjadi salah satu kelebihan film ini.

Bahkan ketika masalah finansial mereda, muncul konflik antar dua sahabat yang merintis klub sepakbola bersama-sama. Sani yang mengalah kemudian bertemu Pak Yosef, orang yang berperan penting mengembalikan martabatnya. Di sisi lain, istri Sani yang diperankan dengan baik oleh Shafira, mulai mengungkapkan pergumulan batinnya selama ini sebab Sani dianggap kurang memprioritaskan keluarga sendiri. Begitu seterusnya, konflik dan solusi datang silih berganti dalam sebuah alur yang rapi dan tidak membosankan. Sebagian besar penonton mengaku terkejut ketika tahu bahwa durasi film hampir 3 jam. Kami terlalu menikmati drama yang penuh inspirasi ini.

Pada penghujung cerita, segala persoalan seolah ditumpahkan ke atas lapangan sepakbola ketika Maluku bertanding dua kali melawan DKI Jakarta. Mereka pernah kalah, mereka jatuh berkali-kali, pernah saling hantam dan saling mencaci. Namun mereka akhirnya paham, bahwa tidak ada yang benar-benar menang jika belum pernah kalah. Salembe, Jago, Alfin, Kasim, Chris, Yosef, Syaiful, Bapa Pendeta, Sani, Pangana, Haspa, Rizky, dan tokoh-tokoh lain adalah the real transformers. Mereka pernah menjadi Kristen, Islam, Tulehu, Passo, Jawa, atau Cina. Namun ketika sekarang ditanya, mereka akan menjawab, “Beta Maluku!”.

Cahaya dr Timur