Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Seorang pemuda tampak memotret beberapa lembar stiker di tangannya. Kertas-kertas itu bertuliskan ‘Jakartans’, ‘Everyday is Persija Day’, dan ‘We Never Stop Fighting to Support Persija’. Siapa sangka, kelak tulisan-tulisan itulah yang membuatnya terbunuh.

Haringga Sirila adalah Jakmania sejati. Ia selalu sempatkan pergi ke mana pun Persija berlaga, dari Bandung, Semarang, hingga Malang. Pada usia semuda itu, bukankah kita semua memang sedang getol-getolnya mengidolakan sesuatu?

Ada yang sekadar memenuhi kamar dengan poster Valentino Rossi atau band Queen. Ada yang menabung berbulan-bulan agar bisa menonton konser Sheila on 7. Di Jakarta, sekumpulan pemuda menghabiskan belasan juta untuk bersalaman dengan anggota grup JKT48. Bagi Haringga, cinta itu ia berikan pada Persija.

Hobi menonton sepakbola sebenarnya tergolong wajar dan aman. Bandingkan dengan aktivitas balap liar atau tawuran ala geng motor yang masih trendi di kalangan anak muda. Namun di Indonesia, mendukung tim di stadion justru bisa sangat mematikan. Menurut Litbang Save Our Soccer 2017, 66 suporter tewas sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995.

Banyak orang yang menginginkan liga dihapus sementara, atau dibuat tertutup, tanpa suporter. Tapi bukankah dengan menghilangkan penyaluran energi lewat olahraga, mereka akan beralih ke tawuran di jalan raya?

Selain sepakbola, orang Indonesia pernah hampir putus asa dengan dua kebobrokan lain, yaitu kereta api dan film. Kecelakaan terus-terusan, copet berkeliaran, ada yang duduk di atap, banyak yang tidak mau bayar. Sekarang, wajah perkereta-apian Indonesia sudah bisa dimiripkan dengan Jepang.

Dunia film juga pernah kelam. Sempat vakum sama sekali, sempat juga memasuki era film porno selama belasan tahun. Sekarang, film semacam itu hilang sama sekali. Semua sineas berlomba-lomba bersaing atau bekerja sama dengan Hollywood. Kalau film dan kereta api bisa berubah, sepakbola juga pasti bisa. Hanya soal waktu dan niat.

Pengorbanan Haringga tidak pernah sia-sia. Pemerintah DKI Jakarta, Bandung, Indonesia, PSSI, Bobotoh, bahkan Jakmania sendiri telah dibuatnya malu, kalau memang masih punya. Negara, setelah kejadian ini, harus hadir memebenahi sepakbola, bukan hanya berhenti pada minta maaf. Pada unggahan Instagram terakhirnya, Haringga menulis, “Jangan biarkan macan berjuang sendirian”. Kali ini giliran kita, untuk tidak membiarkan Haringga berkorban sendirian.

Advertisements