Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Menurut beberapa artikel kesehatan, tubuh manusia didesain untuk berjalan. Maka ketika kita terlalu banyak duduk, penyakit pun bermunculan. Berjalan juga merupakan salah satu obat antidepresan paling ampuh, selain obat kimia yang diresepkan oleh psikiater.

Sayangnya alih-alih mendatangkan kegembiraan atau kesehatan, perjalanan saya kemarin justru memicu keprihatinan. Sekitar 700 meter dari Balai Kota DKI Jakarta, tepatnya di depan Galeri Nasional, langkah saya terhadang oleh meja makan dan kursi plastik. Kepala terpaksa menunduk agar tak terantuk terpal. Beruntung saya pernah berlatih dasar-dasar parkour, sehingga meniti tepi trotoar atau melompati kardus sampah bukanlah sebuah masalah.

Namun saya membayangkan orang-orang yang berjalan memakai tongkat, para tunanetra, atau kaum difabel yang memakai kursi roda. Sanggupkah mereka melewati wahana halang-rintang ini? Tak usah jauh-jauh, lihatlah dua wanita berseragam biru di foto ini. Mereka memilih melangkah di aspal jalan raya untuk menghindari kursi dan sampah yang berserakan.

Setelah berhasil melewati kekacauan yang ditimbulkan Pedagang Kaki Lima (PKL) itu, saya masuk ke dalam Galeri Nasional. Di dalamnya sedang digelar pameran seni Hanafi dan Goenawan Mohamad yang bertajuk “57 x 76”. Ada inovasi pada teknik menampilkan karya, yaitu memajang lukisan pada sebuah bak besar. Menurut Hanafi, kalau lukisan dipajang di dinding, orang tidak akan saling melihat, bahkan pundaknya bisa bertubrukan. Dengan menaruh lukisan di bak, pengunjung bisa saling bertatap muka sembari menikmati karya seni.

Bukankah hal seperti ini yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, menikmati hak masing-masing, tanpa menubrukkan kepentingan ke orang lain? Mencari nafkah demi keluarga tentu tindakan mulia. Namun jika dalam prosesnya sembari merampas hak saudara sebangsa, lantas apa bedanya dengan pelaku rasuah di instansi sana.

Sepulang dari galeri, saya naik angkutan umum, lalu berjalan kaki. Sebab, tubuh manusia memang didesain untuk berjalan. Selain itu, perlu diingat juga bahwa telinga dirancang untuk mendengar, hati untuk bertenggang rasa, dan akal untuk berpikir. Maka cobalah fungsikan bagian tubuh dan jiwa kalian dengan semestinya, agar pundak kita tak saling bertubrukan.

Advertisements