Tags

, , , , , , , , , ,

Foto: @lambe_ojol

GoJek identik dengan warna hijau. Tetapi kalau suatu hari nanti bertemu pengemudi berjaket abu-abu seperti ini, jangan was-was. Berbanggalah, karena ia adalah yang awal dari yang mula-mula. Dia satu dari segelintir orang yang percaya pada perubahan. Dialah GoJek generasi pertama.

Pada 2010, ponsel pintar masih didominasi sistem operasi Symbian. Itu juga cuma sedikit yang punya. Maka, GoJek pun hanya bisa dipesan lewat telepon dan SMS. Orang-orang Jakarta heran melihat temannya menelepon operator untuk dicarikan ojek. Aneh-aneh aja zaman sekarang, katanya.

Waktu itu baru ada 20 sopir. Meski pelanggan belum ramai, mereka cukup nyaman dengan sistem bagi hasil 80-20. Lumayanlah, dapat jaket, helm, ponsel, dan penghasilan. Bulan berganti tahun, tahun bergulir pelan, bisnis transportasi ini terus berkembang, walau agak lambat.

Puncaknya terjadi ketika GoJek membuat aplikasi. Ponsel Android yang menjamur pada 2015 turut melipatgandakan intensitas pemesanan. Nama Gojek bergaung, popularitasnya melesat. Gaji mereka mencapai Rp 8 juta per bulan. Teman-temannya tergiur, juga para karyawan, sarjana, dan profesional muda. Semua ingin jadi tukang ojek. Warna jaket berganti hijau-hitam, pengemudinya membludak, sampai ratusan ribu.

Di sisi lain, para penghuni pangkalan ojek terancam, juga taksi, angkot, dan bus kota. Demo digelar, menuntut regulasi yang lebih pasti. Bahkan perusahaan pemesanan taksi asal Malaysia, GrabTaxi, terintimidasi. Mereka ikut meluncurkan aplikasi serupa GoJek, yaitu GrabBike.

Sesuai survei Majalah Fortune pada 2017, GoJek memang telah mengubah dunia, terutama cara orang Indonesia bepergian, pesan makanan, mengirim barang, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Namun segalanya punya titik jenuh. Dengan pengemudi mencapai jutaan orang, honor berkurang drastis.

Belum lagi para investor yang tak mau uangnya sirna begitu saja. Mereka ingin laba, dan GoJek mau tak mau menaikkan tarifnya, semakin mendekati ojek pangkalan.

Hari ini, delapan tahun sejak GoJek pertama meluncur, tak seharusnya ojek pangkalan, taksi, angkot, atau bus kota masih khawatir dan mengintimidasi. Lihatlah demo pengemudi Grab dan GoJek yang menuntut kesejahteraaan lebih baik. Kita sudah berada pada titik kesetimbangan, ketika semua bersaing dengan adil. Kan rezeki ada yang mengatur? Di dunia ini tak ada yang absolut hitam atau putih. Selalu ada ruang untuk yang abu-abu, dan pada jaket legendaris itu, kita mengenangnya.

Advertisements