Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Industri perfilman Indonesia dimulai pada 1900, di daerah Tanah Abang, Batavia, berupa sebuah bioskop yang menayangkan film bisu. Baru asyik-asyiknya berkreasi, industri kreatif ini jatuh ke titik nadir ketika politik anti-imperialisme Amerika Serikat didengungkan pada 1960-an. Film dilarang tayang, bioskop dibakar, dan inflasi melambung.

Saat Soeharto berkuasa, industri film sempat naik-turun, tapi tidak beranjak ke mana-mana. Pemerintah mendorong bangkitnya film nasional, tapi di sisi lain mengekangnya. Jaringan bioskop besar dibangun, tapi di sisi lain mematikan bioskop kecil. Akibatnya, pada 1991–1998, Indonesia cuma bisa bikin 2–3 film per tahun. Itu pun film seks, seperti Gairah Malam atau Ranjang yang Ternoda.

Tahun 1998, setelah rezim totaliter tumbang, menjadi era kebangkitan film nasional. Tiga film yang menandainya adalah Petualangan Sherina, Jelangkung, dan Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Selanjutnya, film-film bagus bermunculan. Sayangnya kebijakan Daftar Negatif Investasi (DNI) yang dikeluarkan Orde Baru masih membatasi perusahaan asing untuk berinvestasi. Padahal industri film Indonesia masih jauh tertinggal di belakang Cina, India, dan Korea Selatan.

Baru pada 2016, presiden membuka keran investasi dengan merevisi DNI. Hasilnya, lalu lintas kemitraan perusahaan film luar negeri dan dalam negeri menjadi sangat ramai. Contohnya, film Pengabdi Setan, A Copy of My Mind, dan Sweet 20 yang bekerja sama dengan rumah produksi Korsel, CJ Entertainment. Aktor-aktris Indonesia juga semakin sering berlaga di film Hollywood, dari Cinta Laura (The Philosophers, Good Night), Luna Maya (Devil’s Whisper), Iko Uwais (Beyond Skyline).

Sementara dari segi layarnya, banyak bioskop baru bermunculan. Ada CGV Blitz (Korea Selatan) dan Cinemaxx (Lippo Group) yang cukup besar. Untuk bioskop berskala kecil, ada Kineforum (Dewan Kesenian Jakarta), Subtitle, Kinosaurus, Paviliun 28, dan lainnya.

Di satu sisi, kebijakan ini memang memudahkan perusahaan asing untuk mengeruk keuntungan besar dari pasar Indonesia. Namun di sisi lain, akan meningkatkan kompetisi dan memajukan kualitas film nasional. Salah satu yang masih hangat, Fox International Productions, anak perusahaan 20th Century Fox sedang bekerja sama dengan Lifelike Pictures untuk menggarap Wiro Sableng. Ini menjadi film pertama Fox di Asia Tenggara.

Kebijakan Jokowi membuka keran investasi seluas-luasnya masih bisa diperdebatkan. Tapi bagi penikmat film seperti saya, tentu senang melihat Wiro Sableng disajikan dengan kualitas setara X-Men atau Kingdom of Heaven. Lagipula Tomas Jegeus, presiden FIP berjanji, tidak akan membawa gaya Hollywood ke Indonesia. Kekuatan film Indonesia adalah aspek budayanya, dan dia tidak akan mengubah hal itu.

There’s no point in that. I don’t want to come in and sort of tell them how to tell the story because man, even if I moved to Indonesia now and lived there for another 50 years I will never have the cultural context… if there’s one thing that Hollywood does have right in the system out here is the power of development.” –Tomas Jegeus–

Teaser Film Wiro Sableng

Advertisements