Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mentari sudah menyelinap ke balik cakrawala. Orang-orang bergerak terburu-buru, dengan kakinya atau kendaraannya. Di daerah Permata Hijau, Jakarta Barat, sebuah mobil Toyota Fortuner hitam melaju lincah di jalanan yang lengang.  Tiba-tiba, “Sreet! Dug! Brak!” Ia lepas kendali, menyerempet sebuah pohon, lalu naik ke trotoar dan menabrak sebuah tiang listrik.

Entah siapa yang pertama mengunggahnya ke Internet, dalam hitungan menit kejadian ini telah menjadi viral. Mendengar kabar ini, pemimpin redaksi sebuah portal berita daring tampak gelisah. Sejurus kemudian, ia mengutus reporternya untuk terjun langsung ke lokasi dan melaporkan tragedi tersebut.

Jalan yang basah dan kecelakaan membuat lalu lintas menjadi sangat padat. Sang reporter terlambat datang ke lokasi. Sial baginya, semua saksi sudah diwawancara oleh wartawan lainnya. Sementara petugas medis di rumah sakit tempat korban dirawat belum bisa ditemui. Linimasa sudah penuh oleh berita sejenis. Ia harus mendapatkan sudut pandang lain, yang penting, tapi unik. Matanya tertuju pada sebuah tiang yang penyok. Saksi kunci, itulah yang terlintas di benaknya. Ia pun memutuskan untuk mewawancarai sebuah tiang listrik, yang kelak baru diketahui bahwa ternyata ia adalah sesosok tiang lampu. Berikut ini kutipan wawancaranya:

Apakah Anda terluka?
Lecet sedikit saja. Tapi tidak apa-apa, asal keadilan tidak ikut terluka.

Maksudnya?
Berapa kali tabrakan seperti ini terjadi dan pelakunya bebas begitu saja? Sering! Masih ingat kasus anak Hatta Rajasa? Bah, enak sekali jadi yang punya kuasa atau uang, apa pun kesalahan yang dibuat, tak bakal terjerat hukum. Saya ingat semboyan fiat justitia ruat caelum, tegakkan keadilan meski langit akan runtuh. Omong kosong saja semboyan itu sekarang.

Bagaimana dengan penabrak Anda? Akankah lolos juga?
Ha..ha..ha.. Anda bertanya, tapi sudah tahu jawabannya. Kasus Bank Bali, beras Vietnam, PON Riau, suap MK, papa minta saham, sampai e-KTP sekalipun tak mampu menjeratnya. Apalagi cuma menabrak tiang tempat nempelin iklan seperti saya.

Orang-orang menempelkan iklan sedot WC di tubuh Anda. Anda tersinggung?
Tidak, itu bukan soal, sudah biasa. Saya cuma tersinggung ketika diperalat sebagai tumbal kebebasan para koruptor. Cuih!

Jangan meludah Pak, liur Anda nyetrum. 
Oh, maaf.

Bagaimana dengan intensitas angin ribut dan pohon tumbang yang semakin tinggi? Anda takut?
Tidak sama sekali. Kalau sudah ajal, ya pasti mati. Cuma dua hal yang saya khawatirkan di dunia ini, hantaman Fortuner bekas dan drama yang tak kunjung berakhir.

Anda malah memikirkan masalah-masalah besar negeri ini. Bagaimana dengan diri sendiri? Tubuh Anda penyok. Apa masih bisa nyetrum?
Semua tiang akan penyok atau lecet pada waktunya, yang terpenting bagaimana kita bisa memberi manfaat, bukan mudarat. Saya akan terangi dunia, sampai tumbang sekalipun. Jangan samakan saya dengan yang benjol doang langsung terkapar.

Siapa itu?
Baterai HP yang udah kembung.

Mulia sekali pemikiran Anda. Kebetulan HP saya low-bat, boleh numpang ngecas?
Nyolokinnya di mana, tong? Beli power bank sana!

Malam itu juga, sang pemimpin redaksi membaca surel dari reporternya. Ia kaget setengah mati. Wawancara dengan tiang listrik? Apa reporternya sudah gila?! Tapi dia berhenti pada kata ‘gila’. Bukankah itu yang disukai orang-orang zaman sekarang? Jika tidak punya prestasi atau keahlian spesial, kegilaan menjadi kriteria penting lainnya untuk menjadi viral. Kegilaan pula yang mampu berkali-kali meloloskan koruptor dari tangan KPK atau membuat seseorang menjadi pejabat. Namun dengan gila pula, orang-orang menyintas dari segala macam penjajahan, menertawakan penindasan, dan berdamai dengan penderitaan. Lagipula, apa salahnya mengemas tragedi dalam rupa komedi. Maka dengan gugup, akhirnya ia memuat berita aneh ini di portal digital miliknya, catatanviruskata.wordpress.com.

karangan-bunga-di-lokasi-kecelakaan-setya-novanto_20171117_202324

Advertisements