Tags

, , , , , , , , ,

Selama bulan Mei 2017, bom meledak di Manchester (Inggris), Bangkok (Thailand), Pattani (Thailand), Marawi (Filipina), dan Jakarta (Indonesia). Beberapa agak mirip polanya, terutama yang di Marawi dan Jakarta.

Pada saat yang sama, beredar video pawai obor dengan anak-anak kecil yang teriak “Bunuh! Bunuh!” Sementara geng motor di Jaksel ikut-ikutan mengalami perubahan perilaku. Dulu geng motor ya cuma soal motor, kecepatan, dan taruhan. Sekarang malah lebih banyak soal perebutan kekuasaan, politik, dan bacok-bacokan. Mungkinkah mereka meniru para pejabat?

Pendidikan kita belum menerapkan cara berpikir kritis dan logis, sehingga anak-anak mudah menelan dogma mentah-mentah. Seharusnya ini peran orangtua, tapi kalau orangtuanya mengajarkan ‘bunuh!’, anak-anak bisa apa.

Jadi bagi orangtua yang masih bisa berpikir logis, ada baiknya mengajari mereka untuk membela agama dan negerinya dengan cara yang benar. Bahwa musyawarah adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik. Habluminallah dan Habluminannas, yang vertikal harus sejalan dengan yang horizontal.

Kaum puritan dan fundamentalis sering dikambinghitamkan sebagai pendorong radikalisme. Padahal tidak. Puritanisme justru bisa berjalan seiring dengan deradikalisasi jika dipahami dengan benar. Pemurnian nilai-nilai asli agama harus memperhatikan kemaslahatan bersama dan menghindari kemudaratan yang berakibat fatal bagi orang lain. Agar agama yang kita yakini mampu menjadi rahmat bagi setiap makhluk Tuhan, seperti yang jelas-jelas tercantum pada semua kitab suci.

Advertisements