Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Indonesia sedang mengalami reduksi ilmu dan studi agama. Itu yang diungkapkan oleh Abdul ‘Dubbun’ Hakim, pembicara di kelas yang saya ikuti. Waktu itu tokoh yang dibahas adalah Sayyid Qutb, ideolog Jamaah Ikhwanul Muslimin, yang juga menginspirasi ideologi PKS dan HTI. Sayyid Qutb memang benci pemerintah, tapi itu karena dia dikhianati kawannya yang menjadi presiden, karena Mesir menjadi terlalu sekuler, juga karena traumanya hidup di Amerika. Konteks ini sering dihilangkan, lalu dijadikan dasar gerakan radikal.

Sedihnya, pemahaman tentang sejarah seperti ini hanya menjadi milik kalangan tertentu. Berarti ada kesalahan parah pada sistem pendidikan kita, yang membuat anak muda kehilangan kemampuan berpikir kritis, hanya membaca judul, terlalu mudah mengidolakan, tidak suka membaca, dan malas kepo soal ilmu.

Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu agama, padahal orang Indonesia begitu mengagungkan kehidupan beragama? Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu hukum dan politik, padahal yang setiap hari diteriakkan di Facebook, bahkan di jalan adalah soal hukum dan politik? Ini seperti mau masak gudeg tapi tidak mau tahu seluk beluk nangka muda.

Lalu di tengah akses pendidikan yang terbatas dan kemalasan berpikir, beberapa tokoh menawarkan solusi. Ilmu gratis, singkat, mudah dipahami, tanpa buku, dan pastinya, seru! Sesat sedikit tidak apa, yang penting rame. Daripada harus baca buku dan kuliah, sudah bayar, disuruh mikir pula.

Celakanya lagi, sebagian kalangan yang seharusnya terdidik malah kehilangan integritas. Ada saja hakim yang bisa dibeli atau disuruh-suruh. Contoh, pasal penistaan agama yang sangat lentur dan tidak jelas batasnya. Semua orang bisa kena, tergantung siapa yang bisa mempengaruhi hakim. Hari ini mungkin Ahok dan Buni Yani, besok bisa Rizieq, lusa Jokowi, minggu depan Anies. Ini seperti pasal suka-suka. Lama-lama status seperti ini juga bisa kena.

Kesimpulannya, ada dua hal yang membuat Indonesia layak bersedih. Hukum yang mati suri dan pendidikan yang salah arah. Bukankah untuk bisa jatuh cinta atau membenci, kita harus terdidik (mengenalnya) dulu? Untuk bisa mengidolakan atau membenci Sayyid Qutb, Wiji Thukul, Socrates, Pramoedya, Gus Dur, Sukarno, ya harus berkenalan dulu dengan gagasannya. Kebetulan, semua tokoh yang saya sebutkan tadi pernah dipenjara atau disingkirkan, tapi pemikirannya bertahan sampai puluhan tahun. Jangan-jangan Ahok? Ah sudahlah, penjara memang aneh. Mengekang, tapi menciptakan simpati dan heroisme.

Advertisements