Tags

, , , , , , , , , ,

“Aslinya mana, Mas?” Kalimat basa-basi ini paling sering digunakan untuk membuka obrolan. Selama ini saya mengaku sebagai orang Salatiga, sesuai KTP. Tapi sekarang saya jadi agak ragu.

Betulkah hanya dengan KTP dan bekal 18 tahun tinggal di sana, saya sah menjadi orang Salatiga? Bukankah saya belum berbuat apa-apa untuk kota itu? Bahkan kerja pun di Jakarta. Untungnya, pengemudi angkot atau Gojek yang sering menanyakan itu langsung percaya saja.

Bahkan cuma gara-gara saya bisa berbahasa Indonesia, mereka juga tidak tanya saya dari negara mana. Bukankah ribuan turis bule juga bisa berbahasa Indonesia? Lalu apa yang membuat orang Indonesia menjadi Indonesia? KTP-nya, peseknya hidung, perilakunya, warna pupilnya, tanah kelahirannya, atau nasionalismenya?

Kalau melihat foto ini sih, mungkin kontribusinya. Sebab waktu berlaga di Olimpiade 1992, atlet badminton ini belum menjadi WNI. Bertahun-tahun mengurus, Surat Keterangan Berkewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) belum juga terbit. Baru setelah ia membuat bendera Merah Putih berkibar di Barcelona dan curhat ke media massa, SKBRI-nya terbit. Apa boleh buat, ia Susy Susanti.

Kadang saya malu, belum melakukan apa-apa untuk negara ini, tapi sudah dituduh sebagai orang Indonesia. Sementara gadis mungil itu, harus berlatih fisik enam hari seminggu selama berjam-jam, menjalani ratusan pertandingan, lalu membuat Indonesia Raya berkumandang di berbagai negara, baru diakui sebagai WNI. Seandainya standar kewarganegaraan setinggi dan serumit itu, mungkin sampai sekarang saya belum punya KTP. Fiuh..

Advertisements