Tags

, , , , , , , , , , ,

Kapendam Siliwangi Kolonel Desy Ariyanto menanggapi dingin soal patung macan Cisewu yang berwajah lucu. “Itu karena senimannya kurang bagus,” katanya.

Sebelum sampai ke situ, mari menengok hubungan erat antara Provinsi Jawa Barat dan binatang harimau. Klub sepak bola Persib dijuluki Maung Bandung (harimau Bandung). Unsur macan juga tersurat dalam nama daerah, yaitu Cimacan. Semua berawal dari legenda mengenai Prabu Siliwangi yang bertapa dan bermetamorfosis menjadi harimau putih.

Penjelasan yang lebih logis, mitos harimau sengaja dimunculkan masyarakat Leuweung Sancang di Garut sebagai instrumen kontrol sosial agar tidak terjadi perusakan alam yang membabi-buta. Selain itu, area Kerajaan Pajajaran yang sepi setelah ditinggalkan penduduknya di penghujung kekuasaan Prabu Nilakendra menjadi habitat favorit harimau kala itu.

Begitu kuatnya legenda ini, hingga Komando Daerah Militer III/Siliwangi yang meliputi Jawa Barat dan Banten menjadikan macan sebagai logonya. Lalu pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Abdul Haris Nasution menginstruksikan pelukis Barli Sasmitawinata untuk membuat sketsa logo bergambar macan.

Sayangnya, sketsa macan berkarakter gagah yang dibuat Barli hanya dijadikan standar logo pada seragam atau surat-surat. Begitu dituangkan ke dalam bentuk patung, tidak ada standarnya. Cobalah berkunjung ke Cimahi, Serang, atau Bandung. Muka macannya tidak ada yang sama.

Sang pematung di tiap kota di Jawa Barat dan Banten bebas mematung macan sesuai seleranya sendiri-sendiri. Pematung Cisewu itu mungkin tipe orang yang sumeh atau murah senyum, sehingga paras macannya menjadi imut. Jadi menurut saya, yang kurang adalah fungsi kontrolnya, bukan semata-mata kesalahan si seniman.

Advertisements