Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Salatiga sudah tak sedingin dan sesunyi waktu saya masih kecil. Apalagi ditambah bunyi klakson ‘telolet’ yang akhir-akhir ini semakin sering dibunyikan waktu bus antarkota lewat di depan gang.

Ah, Indonesia memang gudangnya paradoks. Setiap pekan tempat dugem disesaki pemuda-pemudi penghuni kota besar yang berharap suatu hari akan bertemu dan disapa DJ idolanya. Eh, justru kelakuan anak-anak di sepanjang jalur pantura inilah yang dilirik oleh sang idola, dari DJ Snake, Marshmello, sampai Zedd. Dibuatkan lagu pula.

Paradoks lainnya adalah soal kehidupan beragama. Di satu sisi, bom telah menjadi identik dengan tempat ibadah, dari bom masjid di Cirebon, bom wihara di Singkawang, bom gereja di Samarinda, Jakarta, dan sebagainya. Tapi di tempat lain, toleransi seperti sudah melebur dalam darah, sehingga tak perlu dibahas, dibuatkan seminar, apalagi diteriakkan.

Natal kemarin, alarm sudah saya setel pukul 4 pagi, tapi tidak berbunyi karena si ponsel mati kehabisan baterai. Beruntung saya terbangun oleh suara azan subuh yang bersahut-sahutan. Setelah cuci muka, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun mengikuti perayaan Natal di alun-alun yang disebut juga Lapangan Pancasila.

Beginilah karakter alun-alun di tanah Jawa, dipakai untuk segala kegiatan, dari konser, Idul Fitri, Natal, Imlek, sampai upacara bendera. Petugasnya biasanya bergiliran saja, pemuda gereja berjaga saat salat Id, organisasi Islam berjaga saat Natal. Kota di kaki Gunung Merbabu ini memang sudah tak sedingin dulu, tapi melihat menara Masjid Darul Amal menjulang berdampingan dengan pohon Natal pagi itu, rasanya Salatiga masih tetap sejuk seperti biasanya.

pancasila

Advertisements