Tags

, , , , , , , ,

fpp

Pada awal 1950-an, kawasan Kemang belum seriuh sekarang. Hanya ada beberapa rumah dan lahan perkebunan yang ditumbuhi banyak pohon Kemang (Mangifera Kemangcaecea). Selain budidaya buah Kemang, orang-orang Betawi di situ juga menjadi peternak dan memproduksi tahu.

Posisinya yang strategis mengundang semakin banyak orang untuk bermukim di situ, terutama kaum ekspatriat. Kehadiran mereka diikuti pertumbuhan sarana dan prasarana, seperti hotel, restoran, dan toko pada awal 1980. Kini wajah Kemang berubah menjadi pusat bisnis dan hiburan yang glamor, menggeser penduduk aslinya ke gang-gang kecil. Namun setiap setahun sekali, memori kejayaan budaya Betawi kembali dihidupkan lewat Festival Palang Pintu.

Palang pintu merupakan perpaduan antara silat dan seni pantun yang jenaka, biasanya digunakan untuk mengawali prosesi pernikahan orang Betawi. Di Jalan Kemang Raya, tradisi ini kembali dihidupkan sejak 2006 dan selalu diadakan menjelang ulang tahun Jakarta. Tentunya lengkap dengan kehadiran pengantin berbusana adat Betawi yang diiringi musik rebana.

Tahun ini, Festival Palang Pintu Kemang digelar pada 28–29 Mei 2016 untuk memeriahkan ulang tahun Kota Jakarta ke-489. Kemeriahan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 sampai pukul 22.00. Sejumlah ruas jalan di Kemang ditutup, dari Jalan Kemang Selatan VIII sampai Jalan Kemang Selatan XII.

Festival kali ini semakin semarak dengan dua panggung utama yang menampilkan beragam kesenian tradisional Betawi, seperti gambang kromong, tari-tarian, dan lomba kreasi silat. Beberapa boneka ondel-ondel pun ditempatkan di beberapa titik dan menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto.

Mengingat Betawi berasal dari perpaduan berbagai kelompok etnis, Festival Palang Pintu Kemang tidak melulu menghadirkan pertunjukan seni Betawi. Ada pula pertunjukan grup band musik pop dan tarian dari daerah lain, seperti Tari Ampar-ampar Pisang dan Tari Lenggang Pasundan.

Selain pertunjukan kesenian, keberadaan bazar dan pasar kuliner juga menjadi kunci kemeriahan acara. Makanan khas Betawi seperti kerak telor, dodol Betawi, dan selendang mayang memanjakan lidah pengunjung festival ini. Produk yang dijual juga beragam, dari pakaian, suvenir, obat tradisional, buku, hingga batu akik. Barang-barang yang dijajakan dijual dengan harga cukup terjangkau.

Menengok Pusat Budaya Betawi

IMG_7769

Untuk lebih menyelami kebudayaan Betawi, bergeserlah sekitar 12 kilometer ke selatan. Di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa terdapat pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi Setu Babakan. Kawasan setu atau danau seluas 32 hektare ini merupakan sebuah perkampungan yang menawarkan keasrian alam dan situs budaya Betawi. Berikut beberapa di antaranya.

IMG_7815

  • Rumah Kebaya
    Tak jauh dari tepian danau, terdapat area taman dengan beberapa rumah adat Betawi yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kebaya. Ciri khas rumah ini adalah teras yang luas untuk menjamu tamu sekaligus menjadi tempat bersantai keluarga.
  • Panggung Kesenian
    Aneka pertunjukan seni rutin diselenggarakan setiap akhir pekan, dari gambus, tari-tarian, gambang kromong, nasyid, dan lenong. Jadwalnya dapat dilihat di gerbang masuk Setu Babakan.
  • Kuliner Khas Betawi
    Betawi terkenal dengan menu kerak telor, yakni ketan putih yang digoreng kering bersama telur ayam atau bebek dan kelapa sangrai.
  • Wahana Permainan
    Bagi wisatawan yang membawa anak-anak dapat mencoba berbagai atraksi permainan, seperti sepeda air atau komidi putar.

[Dimuat di majalah Mutiara Biru edisi Juni 2016]

Advertisements