Tags

, , , , , , , , ,

Menjelang malam, lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Salemba tampak sepi. Walaupun sudah dipasang banyak lampu, suasana bangunan peninggalan Belanda ini tetap temaram. Saya baru saja mengobrol dengan salah satu dokter forensik di sana.

Karena pintu depan ditutup, saya terpaksa keluar lewat pintu belakang. Namun ketika menoleh ke kiri, pintu ruang autopsi terbuka lebar. Beberapa dokter tampak sedang mengautopsi dua jenazah yang tampak gosong. Untungnya, saya tidak pernah terganggu dengan adegan sadistis, seperti kecelakaan, penyembelihan, atau semacamnya. Biasa saja.

Namun ada adegan yang selalu berhasil membuat saya bergidik ngeri dan cemas berlebihan, yaitu perkosaan. Rasanya seluruh urat di tubuh menegang waktu nonton film dengan adegan perkosaan, dari Minggu Pagi di Victoria Park, sampai I Spit on Your Grave. Jangankan nonton, membaca berita perkosaan saja saya tidak tega.

Yang terbaru adalah berita soal Yuyun, gadis 14 tahun yang diperkosa 14 orang sampai tewas. Mirisnya, pelakunya paling dihukum 10-15 tahun penjara. Korbannya, kalau tidak bunuh diri ya stres berat. Sementara pada 2014 saja, di Indonesia ada 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Data semacam ini bisa dibaca sebagai angka semata. Bahkan tagar #NyalaUntukYuyun beberapa waktu lalu dengan cepat tergantikan oleh tagar bertema politik dan sinetron. Bagi saya, ini tanda bahwa Indonesia adalah negara yang tidak ramah terhadap anak-anak dan perempuan.

Solusinya? Kita semua sudah jagolah kalau soal solusi. Mempertegas aturan, bela diri, jam malam, CCTV, bus khusus wanita, dan semacamnya. Tapi sebenarnya yang lebih penting sekaligus sulit dilakukan, adalah menjaga pola pikir anak-anak lelaki kita agar tidak menjadi predator seks di kemudian hari. Agar tidak ada lagi para ibu yang menangis di lorong gelap ruang autopsi. Menunggu Surat Visum et Repertum dari dokter forensik yang sedang mengambil sampel sperma dari jenazah anak gadisnya.

NyalaUntukYuyun

Advertisements