Tags

, , , , , , , , , , , ,

Setelah penampilan Joey Alexander di Grammy, presiden Recording Academy, Neil Portnow memberikan sedikit ceramah. Intinya, dia tidak suka dengan keberadaan penyedia layanan streaming lagu. Dengan semakin majunya teknologi, para musisi hanya dihargai 1 sen per lagu. Saya, dan mungkin kebanyakan orang, tentu tidak peduli. Semakin murah, apalagi gratis, semakin baik. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Apakah musisinya salah karena protes honornya berkurang? Apakah perusahaanrekamannya salah karena tidak memberi subsidi? Apakah pendengarnya salah karena lebih suka streaming? Apakah penyedia layanannya salah karena memberi kemudahan bagi pendengar? Apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak ada yang salah. Mengutip tulisan Rhenald Kasali, ini adalah tren sharing economy yang terjadi di hampir semua industri. Di transportasi, kita mengenal layanan berbagi kendaraan yang bisa 3x lipat lebih murah. Di film dan musik kita mengenal situs-situs unduh gratis. Di media kita mengenal eBook, eMagazine, dan ePaper. Di dunia hiburan kita mengenal YouTube yang telah habis-habisan menggerus omset TV. Di perbankan ada perusahaan crowd funding yang lebih menguntungkan. Jadi tidak adil jika menyalahkan sopir taksi, musisi, sineas, pengusaha TV, bankir, pedagang buku yang sedang protes karena penghasilannya berkurang. Juga tidak adil jika menyalahkan penyedia layanan teknologi yang memberi banyak kemudahan bagi konsumen. Jadi, apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak perlu. Berdamailah dengan perubahan, berkawanlah dengan teknologi. Sulit memang, terutama karena pola pendidikan Indonesia mengajarkan muridnya jadi anak yang pemalu, penurut, dan dilarang berinovasi. Tapi daripada adu otot di jalanan, lebih baik sama-sama cari cara agar pelaku bisnis konvensional bisa ikut hijrah ke era digital yang dinamis dan serba gratis.

evolution

Advertisements