Tags

, , , , , , , , , , ,

Menjelang akhir pekan, saya mengecek jadwal film yang sedang tayang di bioskop. Perhatian saya tertuju pada satu judul film lokal yang tidak biasa, “Hantu Cantik Kok Ngompol?”

Hantu-Cantik-Kok-Ngompol

Film horor porno telah menjadi bagian dari perfilman Indonesia selama puluhan tahun. Namun sejak era AADC, pada 2000-an, jumlah film-film seperti ini semakin berkurang, walaupun selalu muncul. Sebut saja Tali Pocong Perawan, Hantu Binal Jembatan Semanggi, atau Pocong Mandi Goyang Pinggul. Tadi siang, saya mendiskusikan hal ini dengan teman-teman kantor dan beberapa pendapat mereka cukup menggelitik.

“Apa hubungannya antara cantik dengan ngompol?” Kira-kira begitu celetukan teman saya ketika saya menunjukkan 2 film terbaru tadi. Ketika kami sibuk menertawakan film berjudul menjijikkan ini, teman saya satunya nyeletuk, “Mungkinkah film itu dipake buat money laundry?”

Saya tertegun. Begitu kembali ke meja kerja, saya langsung melakukan riset kecil tentang film tadi. Hantu Cantik Kok Ngompol dibuat oleh Duta Lintas Samudra. Tak satu pun artikel tentang rumah produksi ini muncul ketika saya cari di Google. Yang ada hanyalah Duta Lintas Samudera (dengan huruf ‘e’), perusahaan perkapalan di Samarinda. Situs film Indonesia yang cukup lengkap, filmindonesia.or.id pun mencatat bahwa Duta Lintas Samudra baru punya 1 film aneh tadi. Sutradaranya Emil G. Hampp, yang terkenal dengan film Gejolak Nafsu dan Tiren (Mati Kemaren). Sementara pemainnya Sarah Azhari, Baby Margaretha, Nana Mirdad, dan Omas, para selebriti yang mulai tenggelam dari industri dunia hiburan.

Setelah itu, saya mencari tahu tentang modus-modus pencucian uang. Ada banyak sekali tekniknya ternyata, lewat rekening orang ketiga, lewat jasa lembaga keuangan, lewat pembelian barang mewah, dan yang cukup populer, lewat pendirian perusahaan baru.

Film Hantu Cantik Kok Ngompol tayang pada 14 Januari 2016 dan sudah menghilang dari bioskop pada minggu berikutnya. Jadi film ini cuma tayang sekitar 3-6 hari. Total penontonnya hanya 1.874 orang dan mendapat banyak komentar negatif di media sosial.

Screenshot_2016-01-21-16-38-29

Melihat data ini, terbersit pertanyaan di benak saya, untuk apa sebuah rumah produksi membuat film berkualitas rendah yang hanya tayang sebentar di sedikit bioskop dengan laba sangat minim? Yah, pertanyaan tetap menjadi sebuah pertanyaan. Saya tidak sedang mencoba membuktikan apa-apa. Saya hanya penasaran, apa iya hantu bisa ngompol?

Advertisements