Tags

, , , , , , , , , , , ,

Indonesia termasuk negara berkembang, walau ada juga yang menggolongkan negara miskin. Mungkin karena melihat pendapatan, infrastruktur, dan Indeks Pembangunan Manusia yang masih rendah. Namun adilkah memberi predikat maju-kurang maju hanya berdasarkan angka? Bagaimana dengan spiritualitas, kecerdasan emosi, falsafah hidup? Yah, mungkin karena saya anak IPS, hal-hal yang tidak bisa diukur secara eksak ini menjadi penting. Ucapan Perdana Menteri Australia contohnya, yang seolah tidak ikhlas beramal untuk tsunami Aceh, mirip dengan perilaku anak kecil yang merengek minta hadiah setelah membantu mencuci piring. Begitu juga dengan Prancis yang mengancam memutuskan hubungan diplomatik sehingga berbagai program budaya dan pendidikan terancam batal.

Mengapa harus dendam? Ada peribahasa tentang kedaulatan, yaitu “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hukum kita sudah jelas, hukuman mati bagi pengedar narkoba. Tapi mereka tetap saja ke sini. Dalam pepatah Jawa, ini berarti “Ula marani gebuk” atau “sengaja mendekati malapetaka”. Padahal dulu Jean-Paul Sartre pernah mengatakan, “L’homme est condamné à être libre” atau “manusia dikutuk untuk bebas.” Manusia adalah makhluk bebas dengan pilihan yang tak terarah, sehingga sering mengalami kebingungan. Akhirnya dengan kebebasan penuh itu, manusia justru kehilangan tujuan dan pedoman hidup. Karena itu, menurut Sartre, manusia harus bertanggung jawab akan tindakan dan pilihan yang telah diambilnya dengan penuh kesadaran. Manusia tidak boleh menyesal atau mengeluh atas konsekuensi yang mereka peroleh kemudian (la mauvaise foi).

Awal abad ke-20 negara-negara maju sudah memiliki falsafah sevisioner ini. Lalu mengapa sekarang justru bertolak belakang? Apakah terlalu sibuk memajukan perekonomian dan infrastruktur, sehingga pemikiran tidak berkembang?

Jean-Paul_Sartre_FP
Advertisements