Tags

, , , , , , ,

Saya sering apes setiap kali naik KRL (Kereta Rel Listrik) dari Tanah Abang ke Palmerah. Saat berdiri di dekat pintu untuk melihat pemandangan di luar, sering saya tidak sengaja melihat orang yang sedang berak di bantaran rel Stasiun Tanah Abang. Sungguh pemandangan yang kurang pas untuk mengawali hari.

Namun dari sketsa kehidupan di sepanjang rel ini jugalah saya banyak belajar. Saya dan para penghuni bantaran rel itu sama. Kami sama-sama perantau yang berasal dari daerah. Kami sama-sama belum mampu menemukan atau menciptakan pekerjaan di kampung halaman, sehingga memilih menjadi semut-semut pemburu gula di megapolitan. Bagaimana tidak, lebih dari 70 persen perputaran uang nasional ada di Jakarta!

Menjelang akhir libur lebaran 2014, media beramai-ramai memberitakan soal urbanisasi. Menurut survei pada Juni 2014 oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sekitar 68.500 orang dari daerah menyerbu Jakarta. Tanpa kemampuan dan kepastian kerja, para perantau ini tentu akan menjadi masalah, baik bagi dirinya, keluarganya, maupun negaranya.

Ada yang kemudian menjadi buruh dengan gaji minim, ada yang menjadi preman, pencopet, atau pengemis. Ada juga yang berhasil meniti karier, namun tidak banyak. Akhirnya ibu kota yang puluhan tahun salah urus pun semakin semrawut. Karena kecewa dengan Jakarta, si kaya dan si miskin sama-sama membangun kota di dalam kota. Si kaya membangun kawasan bisnis modern dan superblok mewah di tengah kota. Si miskin membangun pusat hunian dan hiburan sederhana di pinggir kali atau rel kereta. Mereka bahkan membuat semacam ‘red district’ alias tempat pelacuran yang senantiasa meriah setiap malam selama belasan tahun.

IMG_5181

Indonesia memang bangsa penyintas, yang tidak akan mati berapa kalipun dijajah, disakiti, atau diabaikan. Namun rakyat akan benar-benar hidup layak jika pemimpinnya mau mendengar dan bekerja. Pemimpin jangan sampai memihak pengusaha atau membela gelandangan. Mereka hanya perlu merobohkan sekat di antara keduanya dan mengajak semua pihak bekerja bersama-sama.

Libur lebaran telah usai, saya kembali naik KRL dari Tanah Abang. Namun pemandangan kali ini agak berbeda. Puluhan personel Satpol PP, polisi, petugas keamanan kereta, dan pegawai KAI beramai-ramai menggusur bangunan liar di bantaran rel.

Langkah ini merupakan bentuk kerja sama Pemda DKI dengan KAI untuk menciptakan kawasan perkotaan yang rapi tapi tetap manusiawi. Para penghuni bangunan liar digusur tanpa kekerasan. KAI menyediakan rangkaian kereta untuk mengangkut material bangunan, sedangkan Pemda DKI menyiapkan sejumlah Rusunawa (rumah susun sederhana sewa) sebagai ‘rumah baru’ mereka.

IMG_5168

Sangat mungkin suatu hari nanti para penyintas ini akan kembali ke bantaran kali atau rel. Namun setelah melihat kerja keras para pemimpin untuk membenahi negaranya, tidak seharusnya saya pesimistis. Tidak seharusnya pula saya merasa apes hanya karena berkali-kali memergoki orang berak di jalan. Masih banyak orang yang lebih apes. Lamaran kerjanya ditolak, tidak punya kamar mandi, digusur pula.

Pada akhir perjalanan, saya memandangi Stasiun Palmerah yang sedang dirombak menjadi lebih bagus, sambil berpikir. Mungkin kata apes tidak seharusnya ada dalam kosakata, sebab tidak ada kejadian yang benar-benar kebetulan. Semua yang terjadi sekarang adalah hasil dari perbuatan di masa lalu, atau tangga pertama yang harus dilalui menuju masa depan.

Advertisements