Tags

, , , , , , , ,

Begitu masuk ke lobi bioskop XXI, langsung terlihat antrean panjang di depan loket. Apalagi kalau bukan antrean penonton film Transformers 4. Saat itu saya belum memutuskan akan nonton apa, tapi yang jelas bukan Transformers. Menurut saya, sebuah film laku bisa tetap bagus jika dibatasi dengan trilogi. Artinya setelah film ketiga, harus dilakukan reboot atau dirombak cerita, pemain, bahkan sutradaranya. Contohnya Batman atau Spider-Man. Jika tidak, nasibnya akan seperti Resident Evil atau Fast and Furious. Laku tapi lebay. Lihat saja ratingnya di imdb dan review para kritikus.

Alhasil, saya memilih untuk nonton film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Awalnya saya ragu karena terlalu banyak orang baru di film itu, seperti Glenn Fredly yang baru pertama kali jadi produser, Shafira yang baru pertama kali main film, atau nama-nama asing di jajaran pemain bolanya. Tapi embel-embel ‘berdasarkan kisah nyata’ membulatkan tekad saya untuk nonton film ini.

Film dibuka dengan keteledoran Sani Tawainella muda sehingga membuat timnya kalah di sebuah pertandingan. Adegan kemudian melompat ke tahun 2000, ke tengah jalanan kota Ambon yang saat itu sedang dilanda konflik hebat. Setiap hari hanya ada darah, api, pembunuhan, atau air mata. Atmosfer kelam ini semakin kuat dengan adanya rekaman video asli tentang tragedi Ambon kala itu. Perlahan tapi pasti, penonton mulai terbawa suasana.

Namun seperti semua film, drama, cerita, dan kehidupan, Sani justru mendapatkan cahaya terang ketika Ambon berada di titik nadir. Dia menggunakan bahasa yang paling universal untuk menyelematkan saudara-saudaranya, yaitu dengan sepakbola. Ketegangan dan bahaya, terutama bagi anak-anak, yang memuncak pun kemudian reda perlahan. Namun justru ketika Ambon kembali normal, masalah baru muncul, yaitu persoalan finansial. Kepandaian Angga Sasongko, sang sutradara dalam mengatur amplitudo dan mengaduk emosi penonton memang menjadi salah satu kelebihan film ini.

Bahkan ketika masalah finansial mereda, muncul konflik antar dua sahabat yang merintis klub sepakbola bersama-sama. Sani yang mengalah kemudian bertemu Pak Yosef, orang yang berperan penting mengembalikan martabatnya. Di sisi lain, istri Sani yang diperankan dengan baik oleh Shafira, mulai mengungkapkan pergumulan batinnya selama ini sebab Sani dianggap kurang memprioritaskan keluarga sendiri. Begitu seterusnya, konflik dan solusi datang silih berganti dalam sebuah alur yang rapi dan tidak membosankan. Sebagian besar penonton mengaku terkejut ketika tahu bahwa durasi film hampir 3 jam. Kami terlalu menikmati drama yang penuh inspirasi ini.

Pada penghujung cerita, segala persoalan seolah ditumpahkan ke atas lapangan sepakbola ketika Maluku bertanding dua kali melawan DKI Jakarta. Mereka pernah kalah, mereka jatuh berkali-kali, pernah saling hantam dan saling mencaci. Namun mereka akhirnya paham, bahwa tidak ada yang benar-benar menang jika belum pernah kalah. Salembe, Jago, Alfin, Kasim, Chris, Yosef, Syaiful, Bapa Pendeta, Sani, Pangana, Haspa, Rizky, dan tokoh-tokoh lain adalah the real transformers. Mereka pernah menjadi Kristen, Islam, Tulehu, Passo, Jawa, atau Cina. Namun ketika sekarang ditanya, mereka akan menjawab, “Beta Maluku!”.

Cahaya dr Timur

Advertisements