Tags

, , , , , , , , , ,

Tempo

1971–1980-an: Lembaran kertasku tipis dan agak kusam. Saat itu belum ada mesin cetak dan perangkat lunak perangkai gambar secanggih sekarang. Kalian mungkin menganggap penampilanku sederhana, bahkan kuno. Tapi percayalah, aku pernah membuat gentar sebuah rezim penguasa dan negara asing di belakangnya.

1982: Aku dibungkam karena terlalu tajam mengkritik Orde Baru dan Golkar. Namun, aku boleh terbit lagi asalkan mau bermuka manis terhadap pemerintah.

21 Juni 1994: Aku masih bandel dengan ketajaman bahasaku. Akhirnya malam hari pukul delapan, aku disuruh memilih, mau diambil-alih ‘keluarga’ (keluarga Suharto dan Prabowo) atau menolak dan dibungkam selamanya. Aku memilih mati.

1994: Orde Baru membuat majalah yang mirip denganku, namanya Gatra. Para penyusunku ditawari masuk ke sana dengan gaji besar. Aku memilih miskin.

12 Oktober 1998: Aku bangkit lagi. Menyewa kantor sederhana di Jalan Proklamasi 72. Reporter dan fotografer pontang-panting mengejar berita dengan motor bututnya, dari sebelum pagi sampai hampir subuh. Editor dan penulis berdesak-desakan di ruang sempit yang penuh kepulan asap rokok dan kopi hitam. Gaji seadanya.

2000-an–sekarang: Beberapa orang tidak tahan dengan tekanan dan keterbatasan, lalu mengorbankan integritasnya. Aku terpaksa memecatnya.

21 Juni 2014: Ulang tahun pembredelanku. Kantor milik sendiri sudah hampir jadi. Aku sudah punya teman, namanya koran, buku, majalah gaya hidup, majalah anak, majalah wisata, web, blog, media sosial, bahkan televisi.

Zaman tidak pernah berhenti berubah. Aku merekam dalam catatan dan memori. Ada yang punya ambisi dan menjadi gelap mata, ada yang bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Mereka berkuasa silih berganti, tapi satu yang tidak pernah berubah dariku. Independensi.

Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia. [Goenawan Mohamad – Catatan Pinggir 4]

Aku,
Tempo Group

Advertisements