Tags

, , , , , , , , , ,

poster+jalanan+movie

Di layar televisi, bundaran Hotel Indonesia selalu tampak megah dan atraktif. Aneka keriuhan ada di sini. Hiruk-pikuk pegawai kantoran, kecelakaan, sampai kerusuhan. Ada jalan sehat, pesta rakyat, hura-hura, dan orasi pura-pura. Lalu yang paling sering, demonstrasi. Hal-hal yang juga terjadi di sudut Jakarta lainnya. Dinamika jalanan ibukota ini direkam dengan apik oleh sutradara dari Kanada, Daniel Ziv dalam filmnya, Jalanan.

Jalanan mengisahkan kehidupan tiga pengamen di Jakarta. Ho, seorang pengamen bersuara serak-serak lantang yang berkarakter filosofis-romantis. Ho lebih sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri, yang kebanyakan bertema sosial dan politik. “Pok ame-ame belalang kupu-kupu, gantung yang korupsi sekalian diberantasi,” demikian salah satu kutipan lagunya. Mengkritik pemerintah, mencibir demonstran, dan mempertanyakan negaranya.

Titi, seorang istri dan ibu dari tiga orang anak. Hidup dalam kemiskinan membuatnya terpaksa menitipkan anaknya kepada keluarganya. Satu di Kalimantan, satu di Jawa, satu di Jakarta. Satu ngomong Melayu, satu ngomong Jawa, satu ngomong Betawi. Cerita yang lucu, tapi Titi mengucapkannya sambil meneteskan air mata.

Boni adalah anak jalanan sejati. Sejak 8 tahun dia sudah mencari makan di jalanan Jakarta dan tinggal di kolong jembatan Tosari selama 10 tahun. ‘Rumahnya’ rutin tersapu banjir, tersumbat sampah, dan terancam diusir sewaktu-waktu.

jalanan-movie-boni2

Film ini adalah dokumenter, tetapi Daniel menghadirkan plot yang rapi, visual yang menawan, dan banyak metafora. Dia punya stok 250 jam rekaman video yang dirangkum menjadi 107 menit. Stok sebanyak ini didapat dari syuting selama sekitar 5 tahun, sejak zaman Sutiyoso sampai Fauzi Bowo. Penonton tidak akan menyangka mereka sedang menonton film dokumenter. Mungkin inilah mengapa Jalanan dinobatkan menjadi Best Documentary dalam Busan International Film Festival.

Syuting yang lama membuat kisahnya menjadi sangat dramatis. Ho ditangkap Satpol PP. Di penjara dia bertemu insan-insan marjinal yang tampak menderita. Bukannya sedih atau marah, Ho melakukan apa yang sudah ditakdirkan Tuhan padanya, yaitu bernyanyi. Seluruh penghuni penjara tertegun dengan suara indahnya dan alunan musiknya yang idealis. Lalu Ho jatuh cinta. Dia punya rumah untuk pulang, yaitu istri dan anaknya.

Titi masih terus berjuang menghidupi anaknya dan bapaknya yang sakit-sakitan di desa. Walau begitu, Titi ingin sekolah, ingin punya ijazah. Dia ikut sekolah kejar paket dan belajar sejarah, bahasa Inggris, matematika, dan pelajaran lain dengan susah payah. Saat film ini ditayangkan, dia sudah bekerja jadi pegawai outsource karena sudah punya ijazah.

download

Di antara mereka bertiga, mungkin di antara kita, Boni adalah yang paling pandai bersyukur. Rumahnya di kolong jembatan dicat dan diberi bath-up. Dia menjebol pipa PDAM sehingga air bersih mengalir sepanjang hari untuk mandi, minum, dan memasak. Boni sering masuk mal dan melihat baju jutaan rupiah. Bukannya tergiur, dia justru tertawa geli melihat mereka yang menghabiskan uangnya bukan untuk beli makanan. Waktu diusir oleh pemerintah, dia pindah dengan senang hati, menyalami petugas sambil tersenyum. Semua lagunya, semua hidupnya adalah tentang rasa syukur.

Film Jalanan ini, dan jalanan di luar sana mengajarkan kepada kita untuk menjadi tidak cengeng. Sebab untuk mengarungi jalanan, tidak perlu orang-orang kuat, tapi orang yang selalu merasa kuat.

Gue cinta Indonesia, tapi nggak tau Indonesia cinta gue apa nggak. [Bambang ‘Ho’ Mulyono]

jalanan-2

Advertisements