Tags

, , , , , , , , , , ,

Selama berabad-abad, manusia percaya teknologi diciptakan untuk mempermudah aktivitas. Namun kita sering lupa dengan hukum aksi-reaksi dari Isaac Newton. Jika kita mendorong tembok sambil memakai sepatu roda, tembok akan balik mendorong kita menjauhi tembok. Teknologi pun mendorong banyak aspek hidup menjadi lebih mudah, tetapi pada saat yang sama, merumitkan aktivitas lainnya.

Manusia purba mungkin kesulitan berkomunikasi karena tidak ada BBM atau WhatsApp. Namun hidup mereka jauh lebih mudah karena hanya tinggal di dunia nyata. Sementara anak-anak ‘canggih’ seperti kita harus hidup bolak-balik di dua dunia, nyata dan maya, dengan dinamikanya masing-masing.

Hidup di dunia nyata tidaklah mudah. Kita cenderung merusaknya dengan ambisi pribadi. Dunia nyata belum beres, kita sudah sok tinggal di dunia maya, khususnya di area ‘gaul’ bernama media sosial.

Media sosial merupakan salah satu penemuan paling mutakhir. Dia bisa menyelamatkan seseorang, sekaligus menghancurkannya. Contoh konkretnya adalah kasus hilangnya bocah berumur 7 tahun bernama Alma Aini Hakim. Jutaan pesan singkat di BBM, Facebook, dan media sosial lain tersebar sehingga Alma ditemukan hanya dalam hitungan jam.

Bahkan, sejak pertengahan 2013, pemerintah dan kepolisian Prancis tidak bersedia menerima laporan orang hilang jika tak berhubungan dengan aksi kriminal atau bunuh diri. Anggota keluarga yang kehilangan disarankan menggunakan jalur pencarian lewat Facebook, Twitter, dan sejenisnya.

Di bidang politik, media sosial menjadi salah satu penentu kemenangan Obama dan Jokowi. Strategi ini juga berhasil membawa Justin Bieber, Moymoy Palaboy, Sinta-Jojo, dan Norman Kamaru menjadi selebritis tenar.

Di sisi lain, media sosial menjadi bumerang bagi mereka yang tidak paham cara menggunakannya. Setiap harinya entah berapa ribu pasangan bertengkar karena membaca riwayat pesan singkat di ponsel pasangannya. Danang si penembak kucing pun akhirnya dipecat setelah mengunggah video kekejamannya. Ini juga dialami oleh para karyawan yang dipecat setelah manajer personalianya melihat kebandelan mereka di media sosial.

Pada era digital seperti sekarang, kita menyeberangi jembatan dari kedua dunia ini setiap saat. Sering kita menumpahkan beban hidup sehari-hari di pangkuan si maya. Atau sebaliknya, menyeret perang komentar ke dunia nyata. Coba saja ketik kalimat ‘gara-gara status Facebook’ atau ‘gara-gara nge-tweet’ di mesin pencari Google. Kita akan menemukan daftar panjang tragedi yang diawali kebingungan manusia melangkah di jembatan dua dunia.

Dalam film pemenang Oscar, The Social Network, terlihat bahwa Mark Zuckerberg sendiri tidak tahu bagaimana ia harus bersikap dalam dunia ciptaannya. Bahkan para tokoh masyarakat, ibu negara, atau pakar media sosial pun sering membuat kekeliruan di zona tak kasatmata itu. Namun itulah seni bermasyarakat di ranah digital. Ada aspek-aspek maya yang perlu kita bawa ke dalam kenyataan. Misalnya gerakan kemanusiaan atau ide-ide kreatif, hendaknya diwujudkan di dunia nyata, daripada sekadar melayang-layang di udara.

Sebaliknya, ada hal-hal yang hendaknya tetap ditinggalkan di dunia asalnya. Siapa yang tidak benci koruptor? Kita menghujatnya habis-habisan di media sosial. Mencela mereka dengan foto-foto olahan Photoshop. Namun jika bertemu dengan koruptor di taman, sedang berbincang dengan sang istri sambil menggendong bayinya, apakah kita akan langsung meludahinya seperti yang kita lakukan di Twitter? Saya harap tidak.

Manusia adalah kata benda konkret, sedangkan pikiran adalah kata benda abstrak. Si abstrak cenderung bebas bersikap ketika dilepas di media sosial. Namun kelakuannya tidak melulu mencerminkan kondisi sejatinya ketika berada di dunia nyata.

Maka dari itu, orang-orang dengan ponsel pintar seperti kita sudah sepantasnya berpikir lebih cerdas dari perkakas canggih yang kita genggam. Ada pendapat yang perlu dicuitkan, ada komentar yang tidak perlu ditanggapi. Ada pertengkaran yang tidak perlu diteruskan, ada informasi yang perlu ditindaklanjuti. Ada akun yang sebaiknya diabaikan, ada privasi yang harus dilindungi.

Dunia maya telah menjadi rumah kedua bagi insan-insan teknologi. Jika mampu menggandengnya, hidup tidak akan menjadi lebih mudah atau lebih sulit, tetapi lebih nyaman untuk dijalani.

Social Media Tread with Caution

Advertisements