Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Julie Retna masih terbaring lemas di ruang Kenanga, RS dr Suyoto, Bintaro, Jakarta Selatan. Ada luka bakar yang cukup parah di kaki kanannya. Namun bukan itu yang mengganggu pikirannya.

Julie ingat betul saat dia naik KRL dari Pondok Ranji. Wanita 54 tahun ini memilih gerbong khusus wanita karena cenderung lebih aman dari tindak kriminal. Semua berjalan seperti biasa. Para penumpang duduk termenung sambil melihat ke luar jendela. Ada yang tertidur, ada yang bercengkerama dengan penumpang sebelahnya. Kebanyakan sibuk dengan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu kabin masinis dibuka. Seorang pemuda berusia 21 tahun keluar dari kabin dan berteriak, “Mundur! Kereta mau tabrakan!” Beberapa penumpang berlari menjauh, sebagian lagi hanya terdiam karena syok.

Julie yang masih terkejut sempat melihat suasana kabin. Masinis dan asistennya tampak tenang dan sedang melakukan pengereman. Begitu juga pemuda tadi. Julie heran mengapa dia tidak langsung berlari ke belakang, malah kembali ke kabin bersama kedua rekannya. Julie bingung, panik, heran, lalu semuanya gelap.

Namanya Sofyan Hadi. Pemuda yang periang ini selalu bercita-cita ingin menjadi masinis. Karenanya, dia sangat senang begitu diterima bekerja sebagai teknisi kereta. Apalagi reformasi birokrasi yang digagas Dirut KAI membuat kesejahteraan dan jenjang karier karyawannya lebih terjamin. Sofyan bahkan sudah berkeinginan untuk memberangkatkan ibunya beribadah umroh. Namun ternyata Tuhan berencana lain, dan Sofyan dengan besar hati, mengamininya.

Malam hari tanggal 7 Desember 2013, kakak Sofyan, Dewi Anggraini heran melihat tingkah adiknya. Sepanjang hari Sofyan menghabiskan waktu dengan ibunya. Dia bahkan mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak biasa, “Ma, kan Pian kerja di kereta, kalau ada apa-apa di kereta ikhlas ya.” 

Siang 9 Desember 2013, Sofyan bertugas bersama masinis Darman Prasetyo dan asisten masinis Agus Suroto. Mereka sudah ratusan kali mengemudikan kereta api. Siang itu pun, semua prosedur sudah dijalankan dengan rapi dan teliti. Lepas dari Stasiun Pondok Ranji, sirene perlintasan di daerah Bintaro Permai terdengar kencang. Namun entah mengapa Cosimin enggan menghentikan truk tangki yang dikemudikannya.

Melihat truk yang menyelonong di depan kereta, Darman buru-buru menarik tuas rem. Sang asisten juga melaksanakan semua prosedur penyelamatan yang diperlukan. Sofyan pun lari keluar untuk memperingatkan penumpang. Sayangnya waktu 5 detik tidak mungkin cukup untuk menyelamatkan semuanya.

Sebenarnya 5 detik cukup untuk melarikan diri ke belakang. Namun tiga syuhada ini menggunakan 5 detiknya untuk tetap berada di kabin, di tugasnya, di tempat mereka harus meninggalkan hidupnya, dan memberi kita pelajaran yang berharga. 

Saya kehilangan 3 pegawai yang paling mulia hatinya. Mereka bisa saja menghidupkan rem otomatis dan lompat keluar. Tapi mereka memilih mengerem secara manual agar benturan tidak terlalu keras dan kereta tidak terguling. [Ignasius Jonan – Dirut KAI]

IMG_4548

Advertisements