Tags

, , , , , , , ,

YouTube punya artisnya sendiri. Instan, fenomenal, dan lekas redup. Yang terbaru adalah Vicky Prasetyo. Dia memodifikasi kosakata bahasa Indonesia, lalu dicampur dengan bahasa Inggris yang sudah diacak tata bahasanya. Vicky sama sekali tidak bodoh. Dia hanya terlalu ingin menunjukkan bahwa dia tidak bodoh. Demi sebuah gengsi, atau jika meminjam bahasanya sendiri, statusisasi kemakmuran.

Saya jadi ingat perjalanan ke Desa Cibeo beberapa minggu yang lalu. Naik angkot, pindah ke Trans Jakarta, lalu berjalan 500 meter ke Stasiun Palmerah. Di sana, saya dan sekitar 35 orang lainnya naik kereta menuju Desa Cibeo di pelosok Banten. Nama desa ini mungkin tidak terlalu populer, namun semua pasti pernah mendengar nama suku yang mendiaminya, Baduy.

Di stasiun, saya dikagetkan oleh rombongan penumpang yang keluar dengan riuh, seperti ada kerusuhan. Mereka adalah pedagang dari Rangkasbitung yang hendak berjualan di Pasar Palmerah, sambil membawa bungkusan besar berisi sayuran atau buah-buahan. Orang-orang yang tidak sempat memikirkan gengsi, yang penting perut terisi.  

pedagang
Beberapa menit kemudian, saya dan rombongan berangkat menuju Stasiun Rangkasbitung. Walaupun belum akrab, kaus kami seragam dan dijejali pertanyaan yang sama, “Siapa orang Baduy itu? Bagaimana cara mereka hidup? Mengapa mereka seperti itu?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat kami rela mendaki bukit, menyeberangi sungai, dan menyusuri hutan. Namun yang kami dapatkan lebih dari sekadar jawaban.

Sesampainya di Desa Ciboleger, kami dijemput oleh sekumpulan orang Baduy Dalam yang akan menjadi pemandu. Penampilan mereka sangat khas. Pakaian berwarna hitam atau putih, memakai ikat kepala, sarung pendek, membawa tas kain sederhana, dan tanpa alas kaki.

Sapri
Baduy dibagi menjadi Baduy Luar dan Baduy Dalam. Orang Baduy Luar tinggal di kaki bukit, berpakaian biasa, dan mengenal teknologi. Sementara orang Baduy Dalam adalah mereka yang masih memegang teguh tradisi asli Baduy. Tidak tersentuh modernisasi, teknologi, sekolah, dan segala macam produk kemajuan peradaban. Jika pedagang Rangkas tadi tidak memikirkan gengsi, orang Baduy Dalam bahkan tidak mengenal apa itu gengsi.

Melangkah
Sekitar pukul 2 siang, kami berjalan memasuki kawasan Baduy Luar. Kata salah satu pemandu, Kang Sapri, perjalanan menuju Baduy Dalam memakan waktu sekitar 4 jam. Namun dia tidak bilang kalau 4 jam itu terdiri dari banyak tanjakan curam dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Gilanya lagi, Kang Sapri sudah terbiasa melewati rute ini hanya dalam waktu 1 jam, tanpa minum, dan dalam sehari bisa bolak-balik beberapa kali!

berangkat
Orang Serang, Bandung, atau Jakarta biasanya pernah melihat 3 atau 4 orang Baduy berjalan tanpa alas kaki di tengah kota. Mereka biasanya hendak bertemu pemerintah daerah, memenuhi panggilan syuting, menjual hasil bumi, atau sekadar jalan-jalan. Kata Kang Sapri, perjalanan menuju Jakarta bisa ditempuh selama 4 hari. Mungkin ada yang mengabaikan atau mencibir kebiasaan mereka berjalan kaki, tetapi tidak bagi saya.

Saya tidak pernah punya motor atau mobil. Awalnya karena belum mampu, namun lama-lama karena tidak mau. Ada banyak keindahan yang hanya bisa didapatkan dengan berjalan dan naik kendaraan umum. Melihat perilaku anak jalanan, mengobrol dengan orang asing, atau menemukan benda unik yang dijual di jalan. Saya pernah mengobrol dengan seorang ibu di dalam bus. Waktu mau turun, dia mendoakan saya supaya setelah lulus cepat dapat kerja. Ini kemewahan yang sulit didapat jika menyetir sendirian di dalam mobil. Dengan melangkah, kita tidak hanya menjalani hidup, tapi memahaminya.

Kembali ke hutan Baduy, rombongan tampak kelelahan, padahal setengah jalan saja belum. Untungnya kami menemukan sungai besar dan jembatan yang fotogenik. Mendadak rasa lelah hilang, digantikan rasa ingin narsis. Di ujung jembatan, deretan lumbung padi yang disebut leuit menyambut para petualang.

leuit
Dari situ, perjalanan semakin menanjak. Kami yang berjalan dengan susah payah dikagetkan oleh penjual air mineral yang memikul dagangannya dari Ciboleger. Belum habis rasa heran kami melihat keperkasaan sang pedagang, lewatlah anak kecil kekar dari suku Baduy Dalam yang berjalan cepat sambil membawa sebatang pohon untuk dijual! Saya mulai curiga kami berada di Kampung Jagoan seperti yang ada di film Kungfu Hustle.

jual air
Kami kembali menemukan jembatan. Jembatan tersebut memisahkan Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Sebelum menginjak jembatan, Kang Sapri meminta kami mematikan semua alat elektronik. Kami pun merekam semua keindahan Baduy Dalam, hanya dengan ingatan.

Jawaban
Kang Sapri berjalan dengan santai, sambil sesekali menaruh setangkai dedaunan di persimpangan sebagai penanda agar rombongan belakang tidak tersesat. Namun sesampainya di Desa Cibeo, Kang Sapri berlari mendahului. Pria 22 tahun itu langsung menyapa istrinya dan menggendong anaknya yang berumur 10 bulan. Pemandangan yang sangat indah, sayang kami tidak boleh memotret.

Selain tidak boleh memotret, wisatawan juga dilarang memakai produk berbahan kimia, seperti sabun, sampo, atau pasta gigi. Alhasil, sebagian dari kami langsung menceburkan diri ke sungai di belakang rumah. Mandi diiringi gemericik air, suara kodok, dan dedaunan yang jatuh dari pohon bambu di tepi sungai. Priceless!

kali
Alam seindah ini memang tidak akan lestari jika orang-orang menggunakan pembersih kimia untuk mandi atau mencuci. Orang Baduy Dalam juga tidak merokok dan tidak minum obat-obatan kimia. Tidak heran jika tidak ada yang terkena jerawat atau kanker. Bahkan, ada seorang warga yang katanya berusia sekitar 120 tahun.

Malam hari di Baduy, tidak seperti malam di Jakarta atau gelapnya kamar saat lampu mati. Di Baduy Dalam, malam berarti pekat. Penerangnya hanya lampu api kecil dengan bahan bakar minyak sayur. Saat makan malam, sebagian besar makan menggunakan sendok dan piring, sedangkan saya dan beberapa teman menggunakan daun jati sebagai piring dan tangan sebagai sendoknya.

Setelah makan, kami bersilaturahmi dengan ketua adat atau Pu’un. Sang ketua adat menceritakan banyak hal tentang Baduy. Dalam hal pernikahan misalnya, warga Baduy Dalam menganut 3 prinsip, yaitu dijodohkan, monogami, dan tak terceraikan. Mereka rata-rata menikah pada usia 18 tahun. Saat ditanya soal keikutsertaan dalam Pemilu, sang ketua menjelaskan bahwa politik diharamkan karena cenderung memecah belah kerukunan. 

Seusai berdiskusi, kami duduk-duduk di teras rumah. Karena tidak bisa nonton TV atau nge-tweet, kami mengobrol ngalor-ngidul sambil ditemani kunang-kunang yang berseliweran. Dari obrolan itu kami jadi tahu, bahwa sebagian orang Baduy bisa membaca walau tidak sekolah. Mereka belajar membaca dari tulisan di bungkus makanan atau kaus wisatawan. Ketika ditanya mengapa mengharamkan modernisasi, mengapa tidak boleh menanam cengkih dan kopi, dan mengapa-mengapa yang lain, mereka menjawab, “Kami hanya menuruti petuah nenek moyang.” Jawaban yang tidak memuaskan, pikir saya.

Mencari Jejak
Kami tidur di rumah panggung yang terbuat dari bambu. Karena belum terlalu dingin, saya malas memakai selimut. Saya lupa bahwa jika saat siang daratan banyak menerima panas, malamnya ia akan banyak melepas panas. Hasilnya, saya menggigil kedinginan sampai pagi. Tapi anehnya, saya bangun dengan segar-bugar.

Paginya kami berpamitan dengan warga desa. Ada sekitar 7 orang Baduy Dalam yang ikut turun bukit agar kami tidak tersesat. Awalnya saya berada di rombongan belakang. Namun karena malas berlama-lama, saya berjalan lebih cepat. Saking asyiknya berjalan, saya baru sadar kalau saya tidak punya rombongan!

lost
Saya berjalan bersama seorang teman yang juga tampak kebingungan. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan semak-semak. Sepertinya rombongan belakang sama jauhnya dengan rombongan depan. Semua baik-baik saja sampai akhirnya kami menemukan momok yang selama ini dikhawatirkan. Ya, persimpangan. Kanan atau kiri? Kami bingung dan nyaris panik.

Setelah menenangkan diri, saya melihat setangkai dedaunan di salah satu lajur jalan. Ini pasti petunjuk jalan dari Kang Sapri. Baru melangkah 100 meter, ada persimpangan lagi. Kali ini tidak ada penanda. Kami berjalan hanya dengan insting dan melihat jejak sepatu di atas tanah. Sesekali kami bertanya pada warga yang kebetulan lewat. Sampai akhirnya kami bisa bernapas lega setelah melihat rombongan beristirahat di Jembatan Akar. 

akar
Jembatan dari jalinan akar pohon itu menyadarkan saya. Alam telah melimpahkan sayur dan buah bagi pedagang, menyediakan daun jati untuk alas makan. Menyinari malam dengan kunang-kunang, menyelimutinya dengan kesejukan. Menjaga penjelajahnya di jalur yang benar, merangkai sungai dengan sulaman akar.

Kemudian kita, menindihnya dengan hutan beton, membuang pohon sampai berton-ton. Menyiram jalanan dengan ribuan mobil murahan, lalu marah-marah saat terjebak kemacetan. Memamerkan plastik simbol kepalsuan, menipu kawan demi statusisasi kemakmuran. Mungkin inilah jawaban yang selama ini berusaha dituturkan para nenek moyang.

Sepulang dari Baduy, saya membawa oleh-oleh untuk saya sendiri. Sebuah kaos bertuliskan pikukuh urang Baduy tentang kejujuran, rasa syukur, dan kerendahan hati. Sebait kearifan sederhana yang menjelaskan mengapa mereka memilih berjalan tanpa alas kaki dan hidup tanpa modernisasi.

Lojor teu menang dipotong (Panjang jangan dipotong)
Pondok teu menang disambung (Pendek jangan disambung)
Kurang teu meunang ditambah (Kurang jangan ditambah)
Leuwih teu meunang dikurang (Lebih jangan dikurangi)

end

Advertisements