Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Orang Jakarta tapi belum pernah ke Monas. Orang Jogja yang belum ke Borobudur. Orang Semarang yang malas ke Lawang Sewu. Karena tidak ingin terjebak dalam lingkaran semacam itu, saya dan teman-teman kuliah berencana pergi ke Pulau Karimun Jawa, yang hanya berjarak 2 jam dari Jepara atau 4 jam dari kampus di Semarang. Namun karena uang patungan yang jumlahnya terus mematung dan kami mulai sibuk dengan tugas akhir kuliah, rencana itu pun kandas.

Hingga suatu hari pada bulan Juni, seorang teman dari kantor lama membuka wacana itu lagi. Entah bagaimana, singkat kata, kami berangkat ke sana. 4 orang, 3 perusahaan, 2 keberangkatan, 1 tujuan, Karimun Jawa.

Seorang teman berangkat duluan karena ada keluarga di Kudus, sedangkan 3 sisanya berangkat pada Kamis pagi dari Terminal Lebak Bulus. Sembari menunggu bus yang terlambat 1 jam, kami sarapan di sebuah warung sederhana dengan menu sederhana, yaitu sayur nangka, telor, dan perkedel. Sayangnya, harganya jauh dari sederhana, rata-rata 15 ribu rupiah! Padahal di warung Padang biasanya hanya 8 ribu. Dari situ saya berfirasat, perjalanan ini akan menjadi sangat menarik.

Kami naik bus Shantika jurusan Jakarta-Jepara, bus kelas eksekutif yang nyaman dan keren. Waktu makan siang, kami disuguhi segelas teh yang ternyata sudah agak dingin. Parahnya lagi, ini pertama kalinya kami minum teh yang rasanya absurd. Tidak manis, tidak pahit, bahkan tidak terasa seperti teh. Sembari bergidik ngeri, teman saya langsung menganalisisnya, “Ini teh yang belum jadi. Namanya teh MOGOL!” (mogol: tidak matang sempurna)

Uniknya, kata teman saya yang naik bus Nusantara, tehnya sama saja. Jadi bisa diasumsikan, teh yang disajikan oleh hampir semua armada bus berada di level mogol alias tidak karuan. Saya jadi ingat kisah seorang teman yang rumahnya dekat perkebunan teh Ciwidey. Ternyata sebelum diolah, perkebunan teh di Indonesia selalu memilah tehnya terlebih dulu. Pucuk daun teh berkualitas nomor wahid dikirim ke pasar Eropa, sementara teh grade 2, 3, dan kualitas sampah dijual di pasar nasional. Contoh lainnya teh Kayu Aro khas Jambi yang menjadi favorit warga Inggris dan Belanda, namun tidak dikenal oleh orang Indonesia. Ironis.

Jam demi jam berlalu, akhirnya kami sampai di Jepara pukul 2 dini hari dengan durasi perjalanan 16 jam! Ini menjadi peringatan bagi pembaca yang akan mudik lebaran dengan mobil, motor, atau bus. Ada banyak perbaikan jalan. Jika ditambah dengan kenaikan volume kendaraan, perjalanan bisa menjadi 2, 3, atau 4 kali lipat lebih lama.

Jepara

7976_10200391131520914_900766314_n

Ini tipikal kota yang sudah terlelap pukul 8 malam. Lewat tengah malam, hanya ada 1 penjual nasi goreng dan segelintir pemuda yang nongkrong di alun-alun. Kami yang tadinya ingin cari penginapan, memutuskan untuk ‘kleleran’ di alun-alun sampai matahari terbit. Untungnya, Jepara menyambut kami dengan hangat, dengan nasi goreng gurih dan jalanan yang bersih. Bahkan pelabuhan pun tampak rapi. Hal yang jarang terlihat di pelabuhan-pelabuhan lain di Indonesia.

1000086_10200403382547182_2109164846_n

Setelah personel lengkap, kami beranjak menuju kapal cepat Cantika Express. Sempat ada masalah perebutan tempat duduk karena ulah komunitas OKK (Orang Kaya Kaget). Untungnya kami tidak ambil pusing dan memilih duduk di dek teratas. Biarlah mereka tercekat oleh dinginnya AC dan terbenam dalam kursi empuknya. Saya lebih suka berteman dengan embusan angin laut yang memecah kehangatan matahari pagi.

1300_10200403443308701_252735168_n

Karimun Jawa

Akhirnya, tibalah kami di pulau yang sejarah penamaannya cukup unik, malah cenderung menggelikan. Kata teman saya, konon Amir Hasan, anak Sunan Muria diutus pergi ke sebuah pulau di Kepulauan Jawa yang tampak kremun-kremun atau samar-samar jika dilihat dari Gunung Muria. Jadilah pulau itu dinamakan Karimun Jawa. Waktu itu saya tertawa dengan niat meledek, tapi setelah dicek di Internet, ternyata ceritanya memang seperti itu. Sial.

Sesampainya di homestay, agenda pertama adalah…. makan. Ini keempat kalinya kami makan dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah mengelus lambung karena kekenyangan, kami bergegas naik ke kapal nelayan. Ya, apalagi kalau bukan snorkeling. Tujuan pertama adalah pulau Menjangan Kecil. Di sana koloni ikan kecil warna-warni berseliweran di sekeliling terumbu karang. Berebut roti yang kami taburkan, lalu menjauh saat kami terjun dan menyelam.

1045014_10200403482589683_1668282009_n

Belum sempat bangun dari mimpi indah di Menjangan Kecil, kami sudah dibawa ke Ujung Gelam. Kali ini, asli dan asrinya pepohonan mengajarkan kami definisi hijau yang sesungguhnya. Berempat kami berjalan menyusuri hamparan pasir pesisir, lalu berhenti, termenung di bawah sinar sang senja.

1001007_10200403523870715_942760175_n    17520_10200403565511756_1706163510_n    1016548_10200403572031919_1475134542_n

Keesokan harinya, alam bawah laut Pulau Cilik dan Pulau Tengah sudah menunggu. Lagi-lagi kami berkubang di tengah barisan terumbu karang yang saling tumpang tindih. Kepulauan yang sama, laut yang sama, tapi memberi pengalaman yang selalu berbeda. Terutama di lokasi terakhir, yaitu penangkaran hiu. Di sini para wisatawan dapat berfoto bersama dengan hiu. Untungnya, hiu-hiu itu sudah kenyang, sehingga ketika keluar dari kolam, kaki dan tangan kita masih utuh seperti sedia kala.

Vina

Vina adalah nama griya yang kami tinggali. Dua malam di Griya Vina terlalu singkat untuk merangkum cerita delapan insan yang bercengkerama di dalamnya. Tentang bagaimana kami bersiap sok akrab dengan bahasa Inggris terhadap teman baru dari Polandia, yang ternyata bahasa Indonesianya jauh lebih baik dari kami semua. Bagaimana tidak, dia mengambil kuliah S2 Sastra Indonesia di Bandung.

1013484_10200403593592458_789265097_n

 

Lalu seorang teman lainnya berkisah mengenai gencarnya slogan Visit Malaysia dan Visit Thailand di Eropa. Sementara wisata Indonesia yang kalau meminjam istilah Tukul, “fenomenal, spektakuler, amazing, faktual, dan berimbang” justru tidak dipromosikan. Ironi lainnya tentang harga tempat tinggal vertikal di Eropa yang tentu lebih murah daripada rumah dengan halaman luas. Namun di sini harga apartemen justru lebih mahal daripada rumah luas di pedesaan. Selanjutnya bisa ditebak, ketika ada sekelompok laki-laki bicara soal negeri, maka tema sosial, budaya, sampai politik pasti ikut dibahas.

Malam terakhir di sana kami habiskan di alun-alun Karimun Jawa. Di balik kabut asap penjual satai, aneka kuliner tumpah ruah untuk memanjakan lidah para petualang. Ada cumi-cumi, lobster, bakso ikan, pisang kipas bakar, hingga kelapa bakar. Kami memesan sesuai selera masing-masing, lalu duduk lesehan sambil bicara simpang siur sampai larut malam.

65005_10200403621113146_2118729471_n

 

Pulang

1011132_10200403638393578_1686099223_n

 

When the daylight comes I’ll have to go, but tonight I’m gonna hold you so close. Petikan lagu Daylight-nya Maroon 5 itu terus terngiang di telinga saya sepulang dari alun-alun. Sebab dalam pejam mata masing-masing, kami semua sadar, ketika matahari bersinar esok hari, kami harus melepaskan semua tawa ini. Kembali ke Senin yang riuh, menatap taman laut yang bergerak menjauh. Tapi ya sudahlah, no party last forever, but memories will never over.

Di dermaga Karimun Jawa, kami saling bertukar nomor HP atau akun twitter dan Facebook. Harapannya, suatu hari nanti, kami akan saling bertukar kisah yang lain, entah di pulau mana lagi. Uniknya, kami berempat yang berangkatnya terpisah dalam 2 keberangkatan, pulangnya justru terpisah menjadi 4 kepulangan, alias kami pulang sendiri-sendiri. Seorang naik bus, 2 orang lagi naik kereta Menoreh yang berbeda gerbong, sedangkan saya naik kereta Majapahit jurusan Malang-Jakarta.

Kantuk langsung menyergap begitu saya duduk di dalam kereta. Di tengah mimpi akan megahnya gunung-gunung dan indahnya taman laut, saya terbangun. Seketika saya tersadar, ini Senin. Sebentar lagi saya akan berada di kantor, menatap monitor, dan mengamini permintaan klien. Tapi prediksi saya salah.

Karena penasaran kereta sampai di mana, saya melangkah menuju sambungan gerbong dan membuka pintu. Hijau. Semuanya berwarna hijau di luar sana. Mungkinkah saya masih berada di Ujung Gelam?

Setelah mengedipkan mata, saya baru tersadar bahwa kereta sampai di daerah Karawang, Jawa Barat. Hijaunya sawah berhektar-hektar memanjakan mata. Anak-anak desa Karawang berlarian mengejar kereta. Ini Karimun yang lain, dengan para sahabat yang lain.

Anggapan bahwa perjalanan hampir usai ternyata salah. Beberapa jam lagi Jakarta, bulan depan Salatiga. Lalu mungkin Bengkulu, Taka Bonerate, Ullen Sentalu, atau Mahameru. Karena buat saya, tidak ada tujuan yang benar-benar final. Nusantara berdiri di atas serpihan-serpihan surga yang tak akan pernah selesai, yang tak mungkin berhenti mengajarkan manusianya tentang bahagia.

Seperti rel kereta yang tak jua kelihatan ujungnya, kebahagiaan tidak ada di akhir cita-cita, tapi di tiap jengkal perjalanan yang merangkai cerita.

1017276_10200403694834989_926563753_n

 

[Ardi Darmawan, 8-7-13]

Advertisements