Tags

, , , , , , , , ,

Kepadamu penggali Pancasila,

Hari ini, tepat 43 tahun sejak kami kehilangan ragamu yang terus melemah di Istana Bogor. Namun bahkan setelah puluhan tahun sejak Bung tiada, gelegar suaramu masih kami dengar, lewat komputer dan televisi yang sudah jauh lebih canggih dari masamu.

Ya, pada era ini, segalanya sudah jauh berbeda, Bung. Anak-anak bermain kelereng di komputer sebesar buku tulis. Pasar berubah menjadi gedung mewah warna-warni. Bahkan surat ini aku tulis dan kirimkan lewat dunia tak kasatmata. Hal-hal yang tidak akan bisa kami rasakan tanpa perjuangan Bung tempo dulu. Sayangnya, seiring kemajuan zaman, Indonesia justru mengalami kemunduran kemerdekaan.

Irian yang dulu Bung pertahankan mati-matian dari tangan imperialis, sedang digerogoti sampai hampir habis. Emasnya dirampok, warganya disiksa. Dan kami diam saja. Para pemuda yang dulu menghunus pedang melawan Jepang, kini menusukkan belati ke perut saudara sendiri.
grasberg_mine_08
Tambang emas Grasberg yang dikeruk habis-habisan oleh Freeport.

Bung tahu kan kita negara agraris, tapi sekarang kami membeli bawang, cabai, kedelai, dan sapi dari luar negeri. Bung juga tahu kita negara maritim, tapi beberapa pulau dijual ke orang Eropa dan pasir Riau dicuri Singapura dengan mudahnya.

Dulu dengan gagahnya kita keluar dari PBB ketika Malaysia, yang Bung sebut negara tanpa konsepsi itu masuk PBB. Bahkan sebuah masjid di Leningrad, sebuah jalan di Mesir, sebuah prangko di Kuba memakai namamu. Dari Amerika sampai Rusia, di jalanan negara kapitalis hingga sosialis, Bung meneriakkan kata sakti itu, PANCASILA.
SukarnoBung berdiskusi bersama tokoh-tokoh dunia.

Hari ini Indonesia masih populer Bung, sebagai negara terkorup di Asia Tenggara. Kita kehilangan barang tambang, kehilangan orang-orang jujur, budaya, olahraga, harga diri…. Ah, sudahlah. Tidak seharusnya kami sekhawatir ini.

Aku ingat pidatomu saat ulang tahun proklamasi tahun 1963. “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

Aku sadar, negara ini terlalu kuat untuk bisa kehilangan harapan. Ratusan tahun dijajah Belanda, kita bisa melawan. Tiga setengah tahun disiksa Jepang, kita masih berdiri. Tiga puluh dua tahun ditindas saudara sendiri, kita masih di sini. Persis seperti yang Bung bilang, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ribuan kali kami ditindas, ribuan kali juga kami melawan. Lewat puisi para sastrawan macam Wiji Thukul, dengan lobi hukum para aktivis macam Munir. Lalu ketika Jakartamu digerogoti tikus berpartai, seorang tukang kayu dari Solo dan koboi dari Belitung muncul memberi jawaban.

Negeri ini masih jauh dari berhasil, Bung, tetapi kami juga sangat jauh dari kata menyerah. Memang ada perang antarsuku, debat agama, dan perebutan kekuasaan sehingga mereka bilang kita meninggalkan Pancasila. Kita tahu itu keliru.

Waktu Bung bilang tidak ingin disebut sebagai pencipta, tapi penggali Pancasila, aku sadar, Pancasila tidak mungkin hilang karena dia ada dalam merahnya nyali dan putihnya nurani orang-orang Indonesia. Kami bisa kehilangan segalanya, tapi tidak Pancasila.

Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita. [Soekarno]

Jakarta, 21 Juni 2013
#SuratUntukBung
Dari anak-anak Sang Pertiwi

Catatan: Kami membuat sebuah film untuk mengenangmu Bung, semoga berkenan. 🙂 http://filmsukarno.com 

Advertisements