Tags

, , , , , , , , ,

Kisah nyata mengharukan dari sebuah novel best-seller. Ini menjadi modal besar dalam membuat film drama. Di sisi lain, film hasil adaptasi novel semacam ini menanggung beban besar dari para pembaca novelnya, yaitu ekspetasi yang besar akan kesuksesan sang sutradara dalam menerjemahkan teks menjadi visual audio. Untungnya, 9 Summers 10 Autumns berhasil memenuhi tuntutan itu.

Scene dimulai di stasiun bawah tanah New York. Alih-alih menggunakan alur maju khas film ‘from zero to hero’, 9S10A memilih melompat bolak-balik dari masa depan, masa lalu, dan diakhiri dengan indah di masa kini. Iwan Setyawan yang sukses bekerja di New York ternyata berasal dari keluarga kurang mampu di daerah Batu, Malang. Hasim, bapaknya, adalah sopir angkot yang tidak tamat sekolah, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga lulusan SD. Mereka pontang-panting menghidupi kelima anaknya agar bisa hidup layak dan bersekolah.

Berkali-kali Iwan dituntut oleh bapaknya menjadi anak lanang yang kuat, keras, dan maskulin agar bisa menjaga keluarga. Sayangnya, berkali-kali juga ia gagal menjadi sosok idaman bapaknya. Hingga akhirnya, Iwan membuktikkan kekuatan dan komitmennya sebagai anak dan sebagai laki-laki, dengan cara yang berbeda.

Konflik-konflik semacam ini memang tidak disajikan dengan bombastis. Tidak banyak adegan klise yang memancing tangis. Ifa Ifansyah memilih mengalirkan plotnya dengan rapi, tenang, dan menyentuh. Lihatlah ketika sang ayah menjual angkotnya demi membiayai kuliah Iwan di IPB. Tanpa derai kata-kata, bapak memberikan segepok uang dalam plastik hitam dan berlalu. Membiarkan penonton menemukan kebesaran hati bapak, meresapi maknanya, lalu berlinang.

Kolaborasi Fajar Nugroho, Ifa Ifansyah, dan Iwan Setyawan dalam penulisan skrip mampu menghidupkan setiap karakter di film ini. Tentunya didukung dengan cast yang pas. Ihsan Tarore, Alex Komang, Dewi Irawan, dan aktor cilik Shafil Hamdi benar-benar menyatu sebagai keluarga. Begitu pula dengan peran Ence Bagus dan Agni Pratistha, yang walaupun hanya muncul sekilas, mampu membentuk karakter si tokoh utama.

Lubang kecil di film ini hanyalah pada penuturan Iwan sebagai anak muda yang jenius. Tidak ada scene yang mengekspos kecanggihan Iwan mengolah statistik. Tahu-tahu sudah ada hasil riset soal lalapan, pengunjung pecel lele, dan konsumen shampo. Namun memang dengan begitu, film ini menjadi tidak bertele-tele dan mudah diikuti.

Uniknya, kelemahan film lokal dalam hal detail justru menjadi kekuatan 9S10A. Properti dan set yang digunakan mampu merefleksikan gradasi masa, dari tahun 70-an, 80-an, hingga 2000-an. Didukung sinematografi yang mampu mengemas Batu menjadi tampak akrab, Bogor yang akademis, Jakarta yang sibuk, dan New York yang sengaja dibuat sendu.

New York yang bagi sebagian orang menjadi lambang kesuksesan, justru tidak disajikan dengan berlebihan. Sebab bagi Iwan, bagi film ini, dan mungkin bagi orang Indonesia, kesuksesan adalah ketika kita berhasil pulang, dan membahagiakan keluarga yang terlalu sering kita tinggalkan.

499summer10autumns

[Menjadi pemenang Kompetisi Review Film 9 Summers 10 Autumns yang berhadiah kaus 9 Summers 10 Autumns]

Advertisements