Tags

, , , , , , ,

The Raid adalah sebuah titik balik. Indonesia yang biasa bermain di kancah internasional hanya melalui film-film bergenre drama, akhirnya bisa membuktikan kualitasnya lewat film laga. Jadi, tidak aneh saat Hollywood bekerja sama dengan Indonesia untuk membuat film Java Heat, ekspetasi para penikmat film membubung tinggi. Sayangnya, hasilnya justru antiklimaks.

Java Heat

Dengan biaya sekitar 19 miliar rupiah, Java Heat tampak seperti film ber-budget rendah. Sejak awal, Ario Bayu dan Kellan Lutz gagal berakting menjadi partner yang keren, padahal konsepnya adalah membuat buddy-cop movie. Bukan karena tidak bisa akting, tapi karena skenario dan scene yang salah kaprah. Lihat saja film mereka yang lain, lebih hidup karena dukungan script yang bagus.

Plot film ini juga tampak tumpang-tindih dan tidak masuk akal. Entah mengapa penjahat utama yang kaya raya hanya punya sangat sedikit anak buah. Entah mengapa si teroris yang idealis mau diperbudak oleh Bule psikopat yang kejam.

Jogja pun disulap menjadi Little America yang hampir semua warganya bisa berbahasa Inggris versi gaul dengan lelucon khas Amerika. Bandingkan dengan pintarnya perpaduan budaya timur-barat di film-film Jackie Chan, seperti Shanghai Noon atau Rush Hour.

Adegan laganya juga masih di bawah standar. Perkelahian yang tidak tampak nyata, kecelakaan di jalanan yang sepi, dan ledakan yang tidak mengguncang. Yaah…paling tidak, keindahan Borobudur masih bisa dijual di sini. Semoga ini jadi pelajaran berharga dan film Indonesia-barat selanjutnya bisa lebih baik.

Advertisements