Tags

, , , , , , ,

Akhir 2012. Perhatian kita tersedot oleh berita-berita rating tinggi namun rendah kualitas. Ada Raja Dangdut yang ingin alih profesi jadi Raja Republik dan ada Walikota yang berinovasi menceraikan istri via SMS. Bahkan media beramai-ramai membuat liputan khusus soal Kiamat 2012. Di tengah kejenuhan berita dan pekerjaan, saya menyempatkan diri menggali secercah real good news di dalam tumpukan bad news is good news. Di situlah, saya bertemu Denok dan Gareng.

Kala itu sedang digelar acara Chop Shots, sebuah festival film dokumenter Asia Tenggara. Salah satu filmnya berjudul Denok dan Gareng. Film karya Dwi Sujanti Nugraheni ini meraih juara kedua Best International Documentary. Sayang, jadwal pemutarannya selalu bentrok dengan pekerjaan di kantor, sehingga baru bulan ini sempat menontonnya di pemutaran film dokumenter Kineforum, Jakarta.

Denok meninggalkan rumah sejak umur 14 tahun. Dia menyelami kehidupan jalanan yang tentu diselimuti asap rokok, wanginya alkohol, dan nikmatnya seks bebas. Denok hamil dan ditinggalkan pacarnya. Predictable. Ketika dunianya meredup, Gareng, yang juga anak jalanan, mencintai dan menikahinya.

Entah apa sebabnya, Gareng memutuskan keluar dari jalanan dan memboyong istrinya ke kampung halamannya di Gamping, Yogyakarta. Dan entah apa yang merasukinya, mereka menjadi muslim yang taat sambil berbisnis kecil-kecilan berupa peternakan ayam, bebek, dan babi.

Sama seperti semua orang, masalah datang bertubi-tubi di keluarga mereka. Tapi tidak sama seperti orang-orang, Denok, Gareng, anaknya, ibunya, dan saudara-saudaranya memeluk penderitaan dan menertawakan kemiskinan. Lihat saja saat ibunya Gareng bercerita, “Dulu pernah ada dokter yang mau mengadopsi kamu, Reng. Tapi ibu tidak kasih. Biar saja kere yang penting anakku aku pelihara sendiri. Hasilnya terbukti kan, tetap kere sampai sekarang. Hahaha…”

Film ini memang layak jadi juara. Walaupun disyuting secara live, unsur sinematografi masih sangat diperhatikan. Perpindahan scene juga halus dan menjadi pengantar yang bagus. Mirip fotografi, momen yang dimunculkan di film adalah momen terbaik yang penuh makna, seperti saat memandikan babi, menangis, dan memungut sampah. Soal akting tentu tidak bisa saya komentari karena tidak ada yang berakting di sini.

Kesehariaan Denok dan Gareng membuat kita berpikir mengenai berbagai isu, seperti kekeluargaan, pendidikan, ekonomi, agama, dan uniknya, politik. Lebih dari semuanya, yang paling menonjol tentu pesan moralnya. Berapa banyak dari kita yang bersyukur ketika mendapat rezeki? Mereka bahkan tertawa lepas, ketika orang-orang mulai berhenti berharap.

Denok-Gareng-Screenshot
NB: Film Denok dan Gareng masih akan diputar di Kineforum, Taman Ismail Marzuki pada setiap akhir pekan di bulan April.
http://kineforum.org/web/katalog/program-april-2013

Advertisements