Tags

, , , , , , ,


Semakin kuat budaya asli mengakar pada diri seseorang, semakin dia mampu menerima keanekaragaman budaya. Hal inilah yang dapat disimpulkan ketika mengikuti perjalanan hidup salah satu maestro seni rupa Indonesia, Raden Saleh.

Sejak lahir, Raden Saleh Sjarif Bestaman sudah dihadapkan pada budaya yang beragam. Dia menghabiskan masa kecilnya di Semarang, di tengah-tengah para bangsawan Belanda. Dunia seni rupa sudah sangat familiar dan dikuasai oleh Raden Saleh kecil. Bakat dan keramahannya membuat Raden Saleh dikenal banyak orang, termasuk A.A.J. Payen, pelukis keturunan Belgia yang kemudian menjadi tentornya. Payen mengajarinya seni lukis Barat dan mengusulkan agar Raden Saleh bersekolah di Belanda.

Berawal dari Den Haag, Raden Saleh berkeliling Eropa untuk mengasah keahliannya. Dia ikut pameran di Amsterdam, berkunjung ke Akademi Dusseldorf, lalu ke galeri di Frankfurt. Setelah itu, Berlin, Dresden, dan Coburg sebelum ke Paris, bahkan Aljazair.

Setiap petualangan di Eropa meninggalkan jejak tersendiri di hati Raden Saleh. Di Jerman, dia merasa sangat dihargai. Sambutan hangat dari masyarakat seni, bangsawan, bahkan raja-raja di sana membuat Raden Saleh sangat mengagumi Eropa. Lalu pertemuannya dengan Cornelis Kruseman, Andreas Schelfout, dan Horace Vernet semakin melimpahi Raden Saleh dengan kesenian dan ilmu pengetahuan.

Jadi, tidak aneh jika kemudian karya-karya Raden Saleh sangat bernuansa Barat dan berpedoman terhadap pakem seni Eropa. Namun apakah wajah Barat yang ia tampilkan di lukisan sama persis dengan kisah yang tersirat? Tidak. Lukisannya sangat kebarat-baratan, tapi pesan dan makna di baliknya justru terlalu ketimuran.

Jawa dan Eropa
Sebagai pelukis Indonesia pertama yang belajar di Eropa, dia membawa pemahaman baru tentang seni visual, tanpa meninggalkan budaya Jawa sebagai akarnya. Raden Saleh memang sangat dekat dengan dunia barat, tapi karyanya selalu didedikasikan bagi bangsanya. Kita tentu tahu lukisan Penangkapan Diponegoro yang fenomenal itu. Sebuah kritikan pedas terhadap politik represif pemerintah Hindia Belanda.

Kita juga tentu pernah mendengar analisis karakter lukisan dari para kurator dan penikmat seni. Wajah orang Belanda dalam lukisan Raden Saleh selalu tampak pucat dan menatap kosong. Jauh berbeda dengan tatapan pribumi yang sedih, namun dipenuhi tekad membara. Lalu di lukisan “Mega Mendung”, yang melukiskan betapa megahnya alam Indonesia dan betapa mungilnya barisan tentara Belanda yang melintas.

Begitu banyak rasa nusantara di berbagai lukisan Raden Saleh yang bergaya Eropa. Bahkan pengaruh tokoh romantisme, Delacroix dalam diri Raden Saleh justru semakin mendramatisir kisah nasionalisme dalam lukisannya.

Sayangnya, sosok pelukis petualang ini terkadang terasa sangat jauh dari jangkauan kita. Raden Saleh lebih sering bepergian jauh ke Eropa, daripada berkeliling Indonesia. Karyanya terpampang di Amsterdam dan Paris, bukan di museum-museum Semarang atau Jakarta. Bahkan namanya terukir di kawah planet Merkurius, jauh dari bumi tempat sesamanya manusia tinggal.

Namun frase ‘tanah air’ memang memiliki kekuatannya sendiri. Saat di Eropa dan melukis untuk orang sana, karyanya adalah tentang Indonesia. Dengan bahasa-bahasa Eropa yang fasih, Raden Saleh tetap berkomunikasi dengan keramahan khas Jawa sambil mengenakan blangkon kesayangannya. Lalu ketika raganya tidak lagi di bumi, Merkurius, atau planet-planet fana lainnya, semangat dan pemikirannya selalu tertanam di benak kita.

Raden Saleh memang mengagumi Eropa, tapi dia tidak pernah berhenti mencintai tanah airnya. Dia mengibaratkan Jawa dan Eropa sebagai dua kutub yang saling bertentangan, namun cerah dan ramah, seperti kekuatan sihir sakti yang memengaruhi jiwanya. Idealismenya ini terungkap dengan bahasa yang sangat indah, sebuah bahasa murni yang tergores di atas kanvas.

Bahasa yang kugunakan bukanlah ilmu pengetahuan yang mutlak dan bukan hal yang berlebihan, melainkan lebih merupakan ungkapan sederhana bagaikan dari hati seorang bocah yang murni.” -Raden Saleh, Maxen 1848

Advertisements