Tags

, , , , , , ,

Sejak ratusan tahun lalu, Banda Naira, salah satu pulau di Kepulauan Banda, telah memanjakan para pengunjung dengan keindahan dan kekayaan hayatinya.

Di bawah laut, ribuan ikan mungil berenang lincah melalui sela-sela terumbu karang yang berwarna-warni. Mereka bergerak bebas, seolah tak peduli akan keberadaan para penyelam dan kapal yang berlalu-lalang.

Keindahan taman laut dan keanekaragaman flora-fauna di dalamnya memang menjadi daya tarik utama salah satu pulau di Maluku ini. Bahkan, pulau ini pernah dinobatkan menjadi Kawasan Warisan Dunia untuk surga bawah laut Indonesia, mengalahkan taman laut lainnya. Karenanya, Banda Naira cukup populer di kalangan pecinta wisata laut. Kegiatan yang lazim dilakukan para wisatawan adalah snorkeling dan diving.

Para penyelam kelas dunia mengakui Banda Naira sebagai salah satu dive spot (titik penyelaman) terbaik di dunia. Jarak pandang penyelaman yang mencapai 40 meter membuatnya menyandang predikat tersebut. Selain itu, pesona biota alam bawah lautnya takkan bisa ditemukan di tempat lain di dunia.

Salah satu penghuni khas Banda Naira adalah ikan Mandarin. Pada sore hari, para penyelam dapat bertemu dengan ribuan ikan Mandarin yang bergerak seirama untuk makan, kawin, atau sekadar bermain-main. Di perairan yang sedikit lebih dalam, terlihat ikan hiu martil, napoleon, barakuda, atau pari menyambut para penyelam dengan keramahan khas laut Banda.

Menurut UNSECO, kedahsyatan panorama laut Banda juga tak lepas dari letusan Gunung Api Banda. Letusan tersebut membuat pertumbuhan terumbu karangnya menjadi yang paling cepat di dunia. Hanya dalam sepuluh tahun, terumbu karang berwarna-warni tumbuh subur dan menopang ekosistem laut Banda yang sangat kaya.

Laut Banda yang dalam telah mampu menarik perhatian dunia internasional. Kapal pesiar datang dari berbagai penjuru bersamaan dengan kapal-kapal domestik. Sering kali, sekawanan lumba-lumba melompat dengan anggun di sisi kapal, seolah mengingatkan wisatawan agar selalu menjaga kemurnian laut Banda.

Ikan Mandarin adalah penghuni khas Banda yang paling dicari para penyelam internasional karena keindahan sisiknya.

Tak hanya wisata baharinya, wisata sejarah di Banda Naira juga sanggup menyihir banyak wisatawan untuk terus kembali ke sini. Semuanya bermula dari sumber daya alam rempah-rempah yang melimpah ruah. Setelah Arab, giliran bangsa Portugis yang berburu buah pala di Pulau Banda. Selanjutnya, Belanda datang dan menguasai perdagangan rempah-rempah dengan mesin dagangnya yang terkenal, VOC.

Bangsa-bangsa tersebut telah menorehkan tinta sejarah di ranah Maluku. Bukti-bukti keberadaan bangsa Eropa masih berdiri megah di Banda Naira, antara lain benteng Nassau dan sebuah gereja tua berusia tiga perempat abad yang berdiri di atas makam 39 warga Belanda. Selain itu, ada pula benteng Belgica yang juga cukup terkenal. Benteng pertahanan peninggalan Belanda ini masih menyimpan meriam tua di bagian paling atas. Dari situ pulalah akan terlihat panorama permai hamparan laut dan gunung vulkanik di kejauhan.

Selain sebagai saksi penjajahan, bangunan-bangunan kuno di Banda Naira juga menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia. Para patriot tanah air seperti dr. Cipto Mangunkusumo, Bung Hatta, dan Sutan Sjahrir menjadi bagian dari masa lalu Banda Naira. Di pulau pengasingan ini, mereka masih berkarya dengan mengajar penduduk lokal sambil tetap mempersiapkan perjuangan melawan penjajah.

Kini, bekas rumah Soetan Sjahrir lebih populer dengan nama Museum Bung Sjahrir. Di dalamnya, terpampang deretan foto-foto perjuangan pada masa kolonial. Di tengah ruangan, ada sebuah gramofon tua yang terlihat lelah memutar musik klasik favorit Bung Sjahrir selama bertahun-tahun.

Sementara, di bekas rumah Bung Hatta, tergantung setelan jas Bung Hatta yang pernah dipakai saat menandatangani hasil Konferensi Meja Bundar. Di satu sudut rumah, tampak sebuah gentong penampung air hujan yang dipercaya menjadi sumber air minum Bung Hatta dalam masa pembuangan.

[Dimuat di Majalah Terrasse BRI Edisi VIII/2011]

Advertisements