Langit Biru, Rumput Hijau, dan Hidup yang Tidak Dijalani

Tags

, , , , , , , , , , ,

Langit biru, rumput hijau
Gerbang tol yang memukau
Langkah lama membeku
Padahal penglihatan cuma selemparan batu

Lalu lupa
Yang bagus gunungnya, bukan pintu tolnya
Sejahteranya, bukan uangnya
Kontribusinya, bukan popularitasnya
Karyanya, bukan artisnya
Isinya, bukan sampulnya

Indahnya gerbang tak seindah gunung
Kalau hidup tak sekadar napas,
Takkan sampai elok dibendung

Pemurnian Nilai dan Deradikalisasi Agama

Tags

, , , , , , , , ,

Selama bulan Mei 2017, bom meledak di Manchester (Inggris), Bangkok (Thailand), Pattani (Thailand), Marawi (Filipina), dan Jakarta (Indonesia). Beberapa agak mirip polanya, terutama yang di Marawi dan Jakarta.

Pada saat yang sama, beredar video pawai obor dengan anak-anak kecil yang teriak “Bunuh! Bunuh!” Sementara geng motor di Jaksel ikut-ikutan mengalami perubahan perilaku. Dulu geng motor ya cuma soal motor, kecepatan, dan taruhan. Sekarang malah lebih banyak soal perebutan kekuasaan, politik, dan bacok-bacokan. Mungkinkah mereka meniru para pejabat?

Pendidikan kita belum menerapkan cara berpikir kritis dan logis, sehingga anak-anak mudah menelan dogma mentah-mentah. Seharusnya ini peran orangtua, tapi kalau orangtuanya mengajarkan ‘bunuh!’, anak-anak bisa apa.

Jadi bagi orangtua yang masih bisa berpikir logis, ada baiknya mengajari mereka untuk membela agama dan negerinya dengan cara yang benar. Bahwa musyawarah adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik. Habluminallah dan Habluminannas, yang vertikal harus sejalan dengan yang horizontal.

Kaum puritan dan fundamentalis sering dikambinghitamkan sebagai pendorong radikalisme. Padahal tidak. Puritanisme justru bisa berjalan seiring dengan deradikalisasi jika dipahami dengan benar. Pemurnian nilai-nilai asli agama harus memperhatikan kemaslahatan bersama dan menghindari kemudaratan yang berakibat fatal bagi orang lain. Agar agama yang kita yakini mampu menjadi rahmat bagi setiap makhluk Tuhan, seperti yang jelas-jelas tercantum pada semua kitab suci.

Gudeg tanpa Nangka

Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Indonesia sedang mengalami reduksi ilmu dan studi agama. Itu yang diungkapkan oleh Abdul ‘Dubbun’ Hakim, pembicara di kelas yang saya ikuti. Waktu itu tokoh yang dibahas adalah Sayyid Qutb, ideolog Jamaah Ikhwanul Muslimin, yang juga menginspirasi ideologi PKS dan HTI. Sayyid Qutb memang benci pemerintah, tapi itu karena dia dikhianati kawannya yang menjadi presiden, karena Mesir menjadi terlalu sekuler, juga karena traumanya hidup di Amerika. Konteks ini sering dihilangkan, lalu dijadikan dasar gerakan radikal.

Sedihnya, pemahaman tentang sejarah seperti ini hanya menjadi milik kalangan tertentu. Berarti ada kesalahan parah pada sistem pendidikan kita, yang membuat anak muda kehilangan kemampuan berpikir kritis, hanya membaca judul, terlalu mudah mengidolakan, tidak suka membaca, dan malas kepo soal ilmu.

Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu agama, padahal orang Indonesia begitu mengagungkan kehidupan beragama? Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu hukum dan politik, padahal yang setiap hari diteriakkan di Facebook, bahkan di jalan adalah soal hukum dan politik? Ini seperti mau masak gudeg tapi tidak mau tahu seluk beluk nangka muda.

Lalu di tengah akses pendidikan yang terbatas dan kemalasan berpikir, beberapa tokoh menawarkan solusi. Ilmu gratis, singkat, mudah dipahami, tanpa buku, dan pastinya, seru! Sesat sedikit tidak apa, yang penting rame. Daripada harus baca buku dan kuliah, sudah bayar, disuruh mikir pula.

Celakanya lagi, sebagian kalangan yang seharusnya terdidik malah kehilangan integritas. Ada saja hakim yang bisa dibeli atau disuruh-suruh. Contoh, pasal penistaan agama yang sangat lentur dan tidak jelas batasnya. Semua orang bisa kena, tergantung siapa yang bisa mempengaruhi hakim. Hari ini mungkin Ahok dan Buni Yani, besok bisa Rizieq, lusa Jokowi, minggu depan Anies. Ini seperti pasal suka-suka. Lama-lama status seperti ini juga bisa kena.

Kesimpulannya, ada dua hal yang membuat Indonesia layak bersedih. Hukum yang mati suri dan pendidikan yang salah arah. Bukankah untuk bisa jatuh cinta atau membenci, kita harus terdidik (mengenalnya) dulu? Untuk bisa mengidolakan atau membenci Sayyid Qutb, Wiji Thukul, Socrates, Pramoedya, Gus Dur, Sukarno, ya harus berkenalan dulu dengan gagasannya. Kebetulan, semua tokoh yang saya sebutkan tadi pernah dipenjara atau disingkirkan, tapi pemikirannya bertahan sampai puluhan tahun. Jangan-jangan Ahok? Ah sudahlah, penjara memang aneh. Mengekang, tapi menciptakan simpati dan heroisme.

Menjadi Indonesia?

Tags

, , , , , , , , , ,

“Aslinya mana, Mas?” Kalimat basa-basi ini paling sering digunakan untuk membuka obrolan. Selama ini saya mengaku sebagai orang Salatiga, sesuai KTP. Tapi sekarang saya jadi agak ragu.

Betulkah hanya dengan KTP dan bekal 18 tahun tinggal di sana, saya sah menjadi orang Salatiga? Bukankah saya belum berbuat apa-apa untuk kota itu? Bahkan kerja pun di Jakarta. Untungnya, pengemudi angkot atau Gojek yang sering menanyakan itu langsung percaya saja.

Bahkan cuma gara-gara saya bisa berbahasa Indonesia, mereka juga tidak tanya saya dari negara mana. Bukankah ribuan turis bule juga bisa berbahasa Indonesia? Lalu apa yang membuat orang Indonesia menjadi Indonesia? KTP-nya, peseknya hidung, perilakunya, warna pupilnya, tanah kelahirannya, atau nasionalismenya?

Kalau melihat foto ini sih, mungkin kontribusinya. Sebab waktu berlaga di Olimpiade 1992, atlet badminton ini belum menjadi WNI. Bertahun-tahun mengurus, Surat Keterangan Berkewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) belum juga terbit. Baru setelah ia membuat bendera Merah Putih berkibar di Barcelona dan curhat ke media massa, SKBRI-nya terbit. Apa boleh buat, ia Susy Susanti.

Kadang saya malu, belum melakukan apa-apa untuk negara ini, tapi sudah dituduh sebagai orang Indonesia. Sementara gadis mungil itu, harus berlatih fisik enam hari seminggu selama berjam-jam, menjalani ratusan pertandingan, lalu membuat Indonesia Raya berkumandang di berbagai negara, baru diakui sebagai WNI. Seandainya standar kewarganegaraan setinggi dan serumit itu, mungkin sampai sekarang saya belum punya KTP. Fiuh..

Imutnya Macan Cisewu

Tags

, , , , , , , , , , ,

Kapendam Siliwangi Kolonel Desy Ariyanto menanggapi dingin soal patung macan Cisewu yang berwajah lucu. “Itu karena senimannya kurang bagus,” katanya.

Sebelum sampai ke situ, mari menengok hubungan erat antara Provinsi Jawa Barat dan binatang harimau. Klub sepak bola Persib dijuluki Maung Bandung (harimau Bandung). Unsur macan juga tersurat dalam nama daerah, yaitu Cimacan. Semua berawal dari legenda mengenai Prabu Siliwangi yang bertapa dan bermetamorfosis menjadi harimau putih.

Penjelasan yang lebih logis, mitos harimau sengaja dimunculkan masyarakat Leuweung Sancang di Garut sebagai instrumen kontrol sosial agar tidak terjadi perusakan alam yang membabi-buta. Selain itu, area Kerajaan Pajajaran yang sepi setelah ditinggalkan penduduknya di penghujung kekuasaan Prabu Nilakendra menjadi habitat favorit harimau kala itu.

Begitu kuatnya legenda ini, hingga Komando Daerah Militer III/Siliwangi yang meliputi Jawa Barat dan Banten menjadikan macan sebagai logonya. Lalu pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Abdul Haris Nasution menginstruksikan pelukis Barli Sasmitawinata untuk membuat sketsa logo bergambar macan.

Sayangnya, sketsa macan berkarakter gagah yang dibuat Barli hanya dijadikan standar logo pada seragam atau surat-surat. Begitu dituangkan ke dalam bentuk patung, tidak ada standarnya. Cobalah berkunjung ke Cimahi, Serang, atau Bandung. Muka macannya tidak ada yang sama.

Sang pematung di tiap kota di Jawa Barat dan Banten bebas mematung macan sesuai seleranya sendiri-sendiri. Pematung Cisewu itu mungkin tipe orang yang sumeh atau murah senyum, sehingga paras macannya menjadi imut. Jadi menurut saya, yang kurang adalah fungsi kontrolnya, bukan semata-mata kesalahan si seniman.

Toleransi Alun-alun

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Salatiga sudah tak sedingin dan sesunyi waktu saya masih kecil. Apalagi ditambah bunyi klakson ‘telolet’ yang akhir-akhir ini semakin sering dibunyikan waktu bus antarkota lewat di depan gang.

Ah, Indonesia memang gudangnya paradoks. Setiap pekan tempat dugem disesaki pemuda-pemudi penghuni kota besar yang berharap suatu hari akan bertemu dan disapa DJ idolanya. Eh, justru kelakuan anak-anak di sepanjang jalur pantura inilah yang dilirik oleh sang idola, dari DJ Snake, Marshmello, sampai Zedd. Dibuatkan lagu pula.

Paradoks lainnya adalah soal kehidupan beragama. Di satu sisi, bom telah menjadi identik dengan tempat ibadah, dari bom masjid di Cirebon, bom wihara di Singkawang, bom gereja di Samarinda, Jakarta, dan sebagainya. Tapi di tempat lain, toleransi seperti sudah melebur dalam darah, sehingga tak perlu dibahas, dibuatkan seminar, apalagi diteriakkan.

Natal kemarin, alarm sudah saya setel pukul 4 pagi, tapi tidak berbunyi karena si ponsel mati kehabisan baterai. Beruntung saya terbangun oleh suara azan subuh yang bersahut-sahutan. Setelah cuci muka, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun mengikuti perayaan Natal di alun-alun yang disebut juga Lapangan Pancasila.

Beginilah karakter alun-alun di tanah Jawa, dipakai untuk segala kegiatan, dari konser, Idul Fitri, Natal, Imlek, sampai upacara bendera. Petugasnya biasanya bergiliran saja, pemuda gereja berjaga saat salat Id, organisasi Islam berjaga saat Natal. Kota di kaki Gunung Merbabu ini memang sudah tak sedingin dulu, tapi melihat menara Masjid Darul Amal menjulang berdampingan dengan pohon Natal pagi itu, rasanya Salatiga masih tetap sejuk seperti biasanya.

pancasila

Terjebak Sandiwara

Tags

, , , , , , , , ,

Bertahun-tahun orang mengenalnya sebagai ‘si jahat’. Lelaki gugup berwajah dingin dengan bibir yang selalu berlumur asap rokok. Ini adalah kalimat pembuka buku sejarah Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara. Baru terbaca satu halaman, penumpang bus di sebelah saya, seorang ibu, bertanya, “Sejarah ya mas?” Saya sempat was-was, jangan-jangan dia tipe orang yang terlalu paranoid dengan komunisme dan berniat menceramahi saya.

Ternyata tidak. Katanya saya mengingatkan dia kepada anaknya yang sekarang sedang kuliah jurusan sejarah di Universitas Indonesia. Berbincang panjang lebar soal sejarah dan pendidikan, Bu Ninik, nama ibu itu, berkata, “Indonesia ini ya mas, setiap kali mau bangkit, langsung diteken lagi, diadu domba lagi.” Saya terhenyak. Kalimatnya ini berkaitan dengan buku yang saya baca.

Para penggede PKI, yang kala itu membesarkan partainya menggunakan cara-cara jahat, akhirnya ditumpas dengan cara yang tak kalah licik. Selain menumbangkan partai, kelompok kepentingan dalam pemerintah dan militer, ternyata punya agenda lain, yakni merebut kekuasaan. Ratusan ribu nyawa melayang, tapi kita lupa, lalu sejarah terulang.

Ketika sampai di kantor, anehnya teman (sekaligus kepala divisi) saya membahas tema serupa. Dia bercerita soal taktik Inggris untuk menundukkan Kerajaan Mataram Islam pada awal abad ke-18. Mereka bersekutu dengan kerabat raja, lalu rakyat dihasut untuk menggulingkan Raja Mangkubumi. Ternyata trik hasut-menghasut ini sudah berlangsung sejak era raja-raja. Lalu kita lupa, dan sejarah terulang.

Orang Indonesia memang gemar membangun kubu. Para politisi tentu senang saja. Tinggal geser-geser bidak di papan catur, ramaikan tagar pemicu kebencian, maka suhu semakin hangat. Bagi orang-orang kecil, politik selalu tampak meriah, dengan sumpah-serapahnya, dengan tipu-dayanya. Tapi bagi politisi, kita hanyalah sederet statistik, berapa orang di kubu A, berapa korban di kerusuhan B. Lalu untuk apa unfriend saudara-saudara di dunia nyata, hanya demi idola kita di panggung sandiwara sana?

15338671_10208502815147935_8412117559960071603_n

Karut-marut Bahasa Rujak

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

rujak

Seorang teman merasa dongkol dengan para selebriti yang sering mengucapkan frasa ‘dunia entertain’. Sudah keminggris (istilah Jawa untuk sok Inggris), salah pula. Entertain berarti menghibur, sedangkan yang dimaksud selebriti tadi adalah entertainment yang berarti hiburan. Kalau memang bingung, kenapa tidak memakai kata hiburan saja?

Indonesia cukup beruntung, punya satu bahasa nasional yang berlaku di semua provinsi. Tak perlu takut tersesat di Ternate atau mencari alamat diSorong. Semua bisa bahasa Indonesia. Bandingkan dengan bahasa di India yang terbagi dua, Urdu di utara dan Hindi di selatan, masing-masing menyimpan potensi konflik. Afrika tak jauh berbeda. Kebinekaan menjadi sumber masalah. Sehingga sebagai pemersatu, bahasa Inggrislah yang digunakan.

Menengok negara tetangga, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan di Malaysia dan Singapura. Ia juga menjadi elemen penentu status sosial seseorang. Akibatnya, muncullah bahasa Rujak, yaitu bahasa Melayu yang dicampur dengan bahasa Inggris. Ada Malaysian English (Manglish) dan Singaporean English (Singlish). Sekilas memang terdengar fasih, tapi seperti rasa rujak yang sulit didefinisikan, kadang asam, manis, lalu pedas, bahasa ini justru sulit dimengerti. Bahkan sampai terjadi unjuk rasa 5.000 warga Malaysia yang menuntut agar penggunaan bahasa Inggris lebih dibatasi.

Sebenarnya, Indonesia juga menghadapi keragaman bahasa yang pelik, sekitar 700 bahasa di ribuan pulau yang terpisah-pisah. Tapi istimewanya, Indonesia mulus menetapkan bahasa nasional pada 1928. Orang sekarang tinggal melestarikannya, meski tidak mudah.

Orang Indonesia terkenal sebagai bangsa trilingual, menguasai 3 bahasa sekaligus, bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris. Semoga ketiganya dituturkan dengan tepat tanpa tercampur menjadi rujak. Supaya semakin banyak selebriti yang berkarya di ‘dunia hiburan’, bukan ‘dunia entertain’ dan makin banyak rumah yang ‘dikontrakkan’, bukan ‘di kontrakan’. Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Awas Monyet Nakal

Tags

, , , , , , , ,

mony

Berwisata ke Pura Luhur Uluwatu harus hati-hati. Ada ratusan monyet liar yang bakal mencoba mengambil kacamata, ponsel, atau kamera. Tapi ternyata tidak semuanya. Saya bertemu satu monyet yang terlihat tidak peduli dengan kamera saya, atau harta-benda pengunjung lainnya. Dia tahu pisang untuknya takkan pernah habis. Tinggal masuk lebih dalam ke area perbukitan Desa Pecatu, pohon-pohon buah ada di sana. Meminta maka akan diberi, mencari maka akan menemukan.

Dia juga tidak marah ketika monyet di Sangeh beribadah di Pura Bukit Sari dan monyet Monkey Forest Ubud beribadah di Pura Dalem Agung Padangtegal. Dia bahkan tidak khawatir ketika monyet-monyet di Gua Kreo Semarang tidak pernah pergi ke pura, melainkan Klenteng Sam Poo Kong yang asing baginya. Sayangnya ratusan monyet lain belum mencapai pemahaman seperti dia. Jadi banyak-banyaklah bersabar kalau bertemu monyet-monyet nakal di Uluwatu.

Anomali Mozaik

Tags

, , , , , , ,

Cukup banyak yang saya alami selama tiga puluh tahun menjalani hidup. Dari serpihan-serpihan peristiwa itu, yang spektakuler dan yang banal, yang naik-turun dan yang linear, yang menguras tawa dan yang memeras kelenjar air mata, saya menyimpulkan sesuatu. Ternyata pengalaman membuat kita lebih jago mengantisipasi masa depan yang ditakuti banyak orang. Bahwa setiap adegan adalah mozaik yang belum terangkai, yang baru akan kita pahami maksudnya beberapa jam, tahun, atau dekade kemudian.

Tiga puluh tahun mengalami masa-masa kere dan jaya, saya tetap tenang waktu kemalingan. Entah kapan saya pasti dapat gantinya. Benar saja, hanya dalam hitungan bulan, rezeki seolah tak berhenti mengalir. Begitu pula ketika berkelimpahan, saya tahu pasti sebentar lagi kena musibah. Begitu seterusnya.

Tiga puluh tahun mengalami beberapa kali patah hati, membuat saya tak terpuruk ketika menghadapi pengkhianatan. Hanya perlu seminggu, sudah lupa sakitnya.

Tiga puluh tahun melayat ke kuburan orang-orang tercinta, dari orang lewat, sahabat sampai ibunda, membuat saya merasa lebih siap menghadapi kematian.

Tiga puluh tahun bertemu seribu satu macam manusia, dari yang pemarah, pemaaf, peragu, penentu, peratap, sampai pemimpi. Berinteraksi dengan pencopet, direktur, tukang gorengan, karyawan, sampai pengangguran membuat saya mudah memaklumi sifat aneh orang-orang, merangkul mereka yang terganggu mentalnya.

Tapi mau tiga puluh tahun atau seratus tahun mengalami hidup, ternyata ada saja anomali yang entah bagaimana tak mampu kita antisipasi. Jatuh cinta, misalnya. Kepada siapa, kapan, bagaimana, apa iya, dan harus apa, tak sedikit pun saya bisa tebak arahnya. Perpisahan, contoh lainnya. Karena apa, kapan, bagaimana, apa iya, dan harus apa, tak sedetik pun saya punya gambarannya.

Mungkin itu cara Sang Pencipta untuk membuat kita tidak sombong. Supaya tidak ada makhluk ciptaannya yang merasa paling hebat. Atau jangan-jangan memang tak semua kepingan mozaik bisa kita lihat hasil jadinya?

sistem-sintaks-peter-robinson-auckland

Foto: Karya instalasi Sistem Sintaks oleh Peter Robinson

Festival Palang Pintu: Hidupkan Budaya Betawi

Tags

, , , , , , , ,

fpp

Pada awal 1950-an, kawasan Kemang belum seriuh sekarang. Hanya ada beberapa rumah dan lahan perkebunan yang ditumbuhi banyak pohon Kemang (Mangifera Kemangcaecea). Selain budidaya buah Kemang, orang-orang Betawi di situ juga menjadi peternak dan memproduksi tahu.

Posisinya yang strategis mengundang semakin banyak orang untuk bermukim di situ, terutama kaum ekspatriat. Kehadiran mereka diikuti pertumbuhan sarana dan prasarana, seperti hotel, restoran, dan toko pada awal 1980. Kini wajah Kemang berubah menjadi pusat bisnis dan hiburan yang glamor, menggeser penduduk aslinya ke gang-gang kecil. Namun setiap setahun sekali, memori kejayaan budaya Betawi kembali dihidupkan lewat Festival Palang Pintu.

Palang pintu merupakan perpaduan antara silat dan seni pantun yang jenaka, biasanya digunakan untuk mengawali prosesi pernikahan orang Betawi. Di Jalan Kemang Raya, tradisi ini kembali dihidupkan sejak 2006 dan selalu diadakan menjelang ulang tahun Jakarta. Tentunya lengkap dengan kehadiran pengantin berbusana adat Betawi yang diiringi musik rebana.

Tahun ini, Festival Palang Pintu Kemang digelar pada 28–29 Mei 2016 untuk memeriahkan ulang tahun Kota Jakarta ke-489. Kemeriahan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 sampai pukul 22.00. Sejumlah ruas jalan di Kemang ditutup, dari Jalan Kemang Selatan VIII sampai Jalan Kemang Selatan XII.

Festival kali ini semakin semarak dengan dua panggung utama yang menampilkan beragam kesenian tradisional Betawi, seperti gambang kromong, tari-tarian, dan lomba kreasi silat. Beberapa boneka ondel-ondel pun ditempatkan di beberapa titik dan menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto.

Mengingat Betawi berasal dari perpaduan berbagai kelompok etnis, Festival Palang Pintu Kemang tidak melulu menghadirkan pertunjukan seni Betawi. Ada pula pertunjukan grup band musik pop dan tarian dari daerah lain, seperti Tari Ampar-ampar Pisang dan Tari Lenggang Pasundan.

Selain pertunjukan kesenian, keberadaan bazar dan pasar kuliner juga menjadi kunci kemeriahan acara. Makanan khas Betawi seperti kerak telor, dodol Betawi, dan selendang mayang memanjakan lidah pengunjung festival ini. Produk yang dijual juga beragam, dari pakaian, suvenir, obat tradisional, buku, hingga batu akik. Barang-barang yang dijajakan dijual dengan harga cukup terjangkau.

Menengok Pusat Budaya Betawi

IMG_7769

Untuk lebih menyelami kebudayaan Betawi, bergeserlah sekitar 12 kilometer ke selatan. Di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa terdapat pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi Setu Babakan. Kawasan setu atau danau seluas 32 hektare ini merupakan sebuah perkampungan yang menawarkan keasrian alam dan situs budaya Betawi. Berikut beberapa di antaranya.

IMG_7815

  • Rumah Kebaya
    Tak jauh dari tepian danau, terdapat area taman dengan beberapa rumah adat Betawi yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kebaya. Ciri khas rumah ini adalah teras yang luas untuk menjamu tamu sekaligus menjadi tempat bersantai keluarga.
  • Panggung Kesenian
    Aneka pertunjukan seni rutin diselenggarakan setiap akhir pekan, dari gambus, tari-tarian, gambang kromong, nasyid, dan lenong. Jadwalnya dapat dilihat di gerbang masuk Setu Babakan.
  • Kuliner Khas Betawi
    Betawi terkenal dengan menu kerak telor, yakni ketan putih yang digoreng kering bersama telur ayam atau bebek dan kelapa sangrai.
  • Wahana Permainan
    Bagi wisatawan yang membawa anak-anak dapat mencoba berbagai atraksi permainan, seperti sepeda air atau komidi putar.

[Dimuat di majalah Mutiara Biru edisi Juni 2016]

Lorong Gelap

Tags

, , , , , , , , ,

Menjelang malam, lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Salemba tampak sepi. Walaupun sudah dipasang banyak lampu, suasana bangunan peninggalan Belanda ini tetap temaram. Saya baru saja mengobrol dengan salah satu dokter forensik di sana.

Karena pintu depan ditutup, saya terpaksa keluar lewat pintu belakang. Namun ketika menoleh ke kiri, pintu ruang autopsi terbuka lebar. Beberapa dokter tampak sedang mengautopsi dua jenazah yang tampak gosong. Untungnya, saya tidak pernah terganggu dengan adegan sadistis, seperti kecelakaan, penyembelihan, atau semacamnya. Biasa saja.

Namun ada adegan yang selalu berhasil membuat saya bergidik ngeri dan cemas berlebihan, yaitu perkosaan. Rasanya seluruh urat di tubuh menegang waktu nonton film dengan adegan perkosaan, dari Minggu Pagi di Victoria Park, sampai I Spit on Your Grave. Jangankan nonton, membaca berita perkosaan saja saya tidak tega.

Yang terbaru adalah berita soal Yuyun, gadis 14 tahun yang diperkosa 14 orang sampai tewas. Mirisnya, pelakunya paling dihukum 10-15 tahun penjara. Korbannya, kalau tidak bunuh diri ya stres berat. Sementara pada 2014 saja, di Indonesia ada 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Data semacam ini bisa dibaca sebagai angka semata. Bahkan tagar #NyalaUntukYuyun beberapa waktu lalu dengan cepat tergantikan oleh tagar bertema politik dan sinetron. Bagi saya, ini tanda bahwa Indonesia adalah negara yang tidak ramah terhadap anak-anak dan perempuan.

Solusinya? Kita semua sudah jagolah kalau soal solusi. Mempertegas aturan, bela diri, jam malam, CCTV, bus khusus wanita, dan semacamnya. Tapi sebenarnya yang lebih penting sekaligus sulit dilakukan, adalah menjaga pola pikir anak-anak lelaki kita agar tidak menjadi predator seks di kemudian hari. Agar tidak ada lagi para ibu yang menangis di lorong gelap ruang autopsi. Menunggu Surat Visum et Repertum dari dokter forensik yang sedang mengambil sampel sperma dari jenazah anak gadisnya.

NyalaUntukYuyun

Manusia vs Teknologi

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Setelah penampilan Joey Alexander di Grammy, presiden Recording Academy, Neil Portnow memberikan sedikit ceramah. Intinya, dia tidak suka dengan keberadaan penyedia layanan streaming lagu. Dengan semakin majunya teknologi, para musisi hanya dihargai 1 sen per lagu. Saya, dan mungkin kebanyakan orang, tentu tidak peduli. Semakin murah, apalagi gratis, semakin baik. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Apakah musisinya salah karena protes honornya berkurang? Apakah perusahaanrekamannya salah karena tidak memberi subsidi? Apakah pendengarnya salah karena lebih suka streaming? Apakah penyedia layanannya salah karena memberi kemudahan bagi pendengar? Apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak ada yang salah. Mengutip tulisan Rhenald Kasali, ini adalah tren sharing economy yang terjadi di hampir semua industri. Di transportasi, kita mengenal layanan berbagi kendaraan yang bisa 3x lipat lebih murah. Di film dan musik kita mengenal situs-situs unduh gratis. Di media kita mengenal eBook, eMagazine, dan ePaper. Di dunia hiburan kita mengenal YouTube yang telah habis-habisan menggerus omset TV. Di perbankan ada perusahaan crowd funding yang lebih menguntungkan. Jadi tidak adil jika menyalahkan sopir taksi, musisi, sineas, pengusaha TV, bankir, pedagang buku yang sedang protes karena penghasilannya berkurang. Juga tidak adil jika menyalahkan penyedia layanan teknologi yang memberi banyak kemudahan bagi konsumen. Jadi, apakah manusia perlu berperang melawan teknologi?

Tidak perlu. Berdamailah dengan perubahan, berkawanlah dengan teknologi. Sulit memang, terutama karena pola pendidikan Indonesia mengajarkan muridnya jadi anak yang pemalu, penurut, dan dilarang berinovasi. Tapi daripada adu otot di jalanan, lebih baik sama-sama cari cara agar pelaku bisnis konvensional bisa ikut hijrah ke era digital yang dinamis dan serba gratis.

evolution

Jakarta Itu Panas, Rangga

Tags

, , , , , , , ,

Selama setahun ke depan sepertinya dinding Facebook kembali ke nuansa tahun 2014, ketika orang-orang menuliskan pendapat politiknya di status (termasuk saya). Ada yang membagikan berita-berita ‘wow’ dari situs abal-abal, mengasah keterampilan Photoshop, dan berlomba-lomba saling membela idolanya.

Awalnya memang seru, tapi mendekati puncak pesta demokrasi, kemeriahan ini selalu berbuah konflik. Dari unfriend, block, report as spam, tweet war, hingga janjian ketemuan untuk sekadar pukul-pukulan. Lalu yang paling sedih, agama tak lagi dijalankan, tapi dijadikan amunisi perang status.

Mungkin karena itu jugalah, setelah 14 tahun berpisah, Rangga kembali bertemu Cinta di Jogja, bukan Jakarta. Karena Jakarta menjadi terlalu ‘panas’, lebih panas dari Bekasi.

AADC 2 Meme Ahok