Teriakkan, Fahri!

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Mei, 1998. Indonesia, terutama Jakarta, semakin panas. Para mahasiswa meninggalkan bangkunya untuk memperjuangkan demokrasi yang telah lama mati di tangan Orde Baru. Salah satunya, seorang mahasiswa S-2 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bernama Fahri. Ia meninggalkan ujian tengah semester di kampusnya untuk ikut berdemo bersama ribuan mahasiswa lain.

Fahri tergolong cukup vokal. Ia sempat berorasi menggunakan mikrofon. Namun tak banyak yang tahu bahwa selama beberapa menit, ia sempat termenung di sebuah sudut kawasan Senayan. Fahri muda bertemu dirinya yang sudah berusia 47 tahun. Layaknya sesosok hantu masa depan, Fahri tua tidak hanya menampakkan diri, tetapi juga memberikan pesan yang mengejutkan.

Halo, Fahri. Sudah sampai mana perjuanganmu? Jangan takut, aku bukan hantu. Engkaulah yang justru menghantui nuraniku selama ini.

Aku seharusnya tidak boleh menyapamu, tetapi emosiku meledak saat melihatmu menjebol gedung DPR seperti ini. Andai saja kau tahu, Fahri. Tak lama setelah hari ini, perjuanganmu membuahkan hasil. Jenderal besar dan kroninya akhirnya tumbang. Namun perlu kau tahu, orang-orang yang menggantikan mereka tak kalah mengerikan.

Sebentar lagi kau akan berhasil mendesakkan dirimu ke dalam sistem yang kaubilang bobrok ini, bersama dengan Anis dan Amien, teman-teman seperjuanganmu. Kalian akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya dan menurutku, kalian berhasil. Orang-orang bisa berkarya dan berpendapat dengan bebas, sangat bebas. Indonesia kembali membangun, kali ini tidak hanya Jakarta, tapi seluruh negeri.

Ya, aku tahu. Kau pasti ingin tahu soal korupsi, sesuatu yang kauludahi hari ini. Aku tak tahu harus mulai dari mana. Konteks korupsi itu luas sekali, Fahri. Didefinisikan saja sulit, apalagi dimatikan. Kalau ada pengusaha yang memberimu hadiah, apakah itu korupsi? Masa orang tidak boleh membalas budi? Bukankah korupsi itu mencuri? Kan kita tidak mencuri apa-apa!

Kelak kau akan punya teman baik bernama Novanto. Dia benar-benar seperti sinterklas, suka bagi-bagi hadiah ke semua orang. Ketika ia ditinggalkan karena diburu KPK, cuma kau yang setia membelanya. Ini juga yang membuatmu bertengkar dengan partaimu sendiri, bahkan sampai dipecat. Namun, jangan khawatir. Orang secerdas kita tak akan kalah begitu saja. Kau akan menuntut partaimu di pengadilan, dan menang.

Kau juga akan berselisih paham dengan presiden. Dia itu sok baik dan sok hebat. Namun tenang saja, suatu saat dia akan bekerja sama dengan kita untuk menghancurkan musuh terbesar kita, yaitu KPK. Benar-benar keterlaluan lembaga itu. Mereka menangkapi pejabat-pejabat, memakaikan rompi oranye seakan merekalah yang paling suci.

Kau orang hebat, Fahri. Orde Baru, partaimu sendiri, orang-orang eksekutif, dan sebentar lagi KPK pun bakal bisa kautaklukkan. Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi, Fahri. Namun mereka keburu datang, mahasiswa sepertimu, juga berjaket kuning seperti kita dulu. Bahkan presiden pun sampai mau mengeluarkan perpu. Sebenarnya aku tak peduli. Mereka cuma sekumpulan anak milenial yang tak tahu apa-apa soal mengurus negara, tak seperti kita dulu. Hanya satu yang membuatku terhenti. Kau! Kau ada di sana, Fahri.

Saat aku diundang oleh seorang jurnalis bernama Najwa di studio Trans TV, kau ada bersama mahasiswa-mahasiswa itu, meneriakiku! Entahlah, Fahri. Aku tak tahu lagi. Dalam sistem yang kacau seperti ini, semuanya abu-abu. Aku tak tahu lagi mana yang benar, mana yang salah. Sementara kau masih saja seperti dulu, memerangi yang hitam dengan bendera merah putih dan mikrofon di tanganmu.

Tolong, jangan membenciku. Aku hanya terjebak di sini. Supaya kau tidak ikut terjebak, ingatlah pesanku ini. Musuh sejatimu bukanlah partai, fraksi-fraksi lain, mahasiswa, presiden, atau KPK. Musuh sejatimu adalah dirimu sendiri dan sampai sekarang, kita belum berhasil menaklukkannya. Semoga Allah menunjukkan jalan untuk kita. Teruslah berjuang, Fahri. Teriakkan orasimu kepada DPR, kepada sistem yang bobrok ini, kepadaku!

Catatan: Cerita ini fiktif belaka, dibuat berdasarkan perjalanan karier Fahri Hamzah. Penulis ingin menekankan bahwa semua orang Indonesia, yang korup dan yang tidak, yang bekerja dan yang tidak, yang cerewet dan yang pendiam, adalah manusia. Kita semua terjebak dalam pergulatan batin masing-masing, lalu kadang-kadang membenturkannya ke orang lain. Apa pun perjuanganmu, tetaplah menjadi manusia. Tujuan kita adalah untuk meluruskan, bukan menghancurkan, melengserkan, apalagi menyakiti.

Sebuah Gelembung Bernama Indonesia

Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Pada 2014, saya datang ke Konser 2 Jari di GBK. Yang saya dukung adalah kebaruan, orang yang jauh dari pusaran pemerintah pusat, yang fokus bekerja di daerah. Namun, orang baru pun lama-lama menjadi usang. Hanya dalam tiga tahun, saya dikecewakan.

Tahun 2017, HTI dibubarkan. Inilah hari pertama saya patah hati. Ideologi yang diusung HTI memang bikin deg-degan. Namun, saya tidak rela mereka dibungkam. Dalam demokrrasi, semua aspirasi, seekstrem dan seunik apa pun, harus diakomodasi. Dalam Pancasila, musyawarah-mufakat diutamakan, bukan asal sikat.

Alasan lain, seperti kata Gus Dur, “You can’t kill an ideology.” Memblok ideologi hanya akan menimbulkan dendam. Kalau saya yang tidak setuju dengan HTI saja kecewa, apalagi mereka. Tidak setuju bukan berarti memusuhi. Sebaik-baiknya toleransi adalah kepada yang berbeda, dan pemerintah tidak bisa menunjukkan hal itu.

Sejak itu, saya mengosongkan medsos dari hiruk-pikuk politik. Mosi tidak percaya saya tujukan kepada semua partai dan semua capres, terutama ketika mereka saling memanas-manasi kubu lainnya. Saat guru bangsa seperti Cak Nun mengunjungi 16-20 kota tiap bulan selama 21 tahun terakhir untuk mendamaikan emosi dan konflik di masyarakat, para capres justru saling mengadu domba pendukungnya.

Mereka mengubah Indonesia, yang tadinya cair, menjadi gelembung yang mudah pecah. Jadi, jangan salahkan rakyat kalau sekarang kami mudah marah. Kalianlah, para pengelola negara yang membentuk kami hingga menjadi seperti ini.

Berapa banyak teman yang kita ‘unfriend’ dan saudara yang kita musuhi cuma untuk membela pejabat yang sedang mengejar takhta? Puncaknya, ada Revisi UU KPK dan RKUHP yang isinya sangat radikal. Jangankan ideologi, tulisan tidak jelas seperti ini mungkin bisa dipermasalahkan.

Namun, masa patah hati itu sudah usai. Saatnya mematahkan hegemoni kesewenang-wenangan. Yang bekerja harus tetap bekerja, yang belajar harus tetap belajar, yang berdemo harus terus melanjutkan perjuangan. Hanya dengan melakukan fungsinya masing-masing, dan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Indonesia akan baik-baik saja.

Nyali Setipis Kertas

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Buku-buku ini ada di kamarku
Sesekali aku membawanya naik bus
Bertemu karyawan yang terburu-buru
Dan penumpang yang tak peduli

Aku beruntung
Tak bertemu oknum yang buta ilmu
Yang betapa dungu
Bergidik ngeri di depan buku

Sayangnya sial nasib temanku
Tokonya diserbu
Mata pencahariannya direbut
Cintanya dikebiri

Kau pikir tak ada otak padaku?
Sehingga ke mana pun mata tertuju
Ke situlah pikiran kami tertunduk
Ini cuma buku, bukan nabi

Lihat itu buku Calistung
Halaman tak sampai lima puluh
Tapi berani bersanding dengan Tetralogi Pulau Buru
Buku pun punya nyali

Kalau membaca saja kau takut
Paling tidak tanya-tanyalah dulu
Ini tumpukan sejarah dari masa lalu
Tanpanya kami tak cinta negeri

Apakah ada empati padamu?
Ataukah akalmu sudah terbelenggu?
Jika benar begitu, bungkamlah aku
Karena buku-buku ini ada di kamarku

[Didedikasikan bagi Toko Buku Nagareboshi yang terpaksa tutup setelah dirazia aparat.]

Maafkan Kami, Haringga

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Seorang pemuda tampak memotret beberapa lembar stiker di tangannya. Kertas-kertas itu bertuliskan ‘Jakartans’, ‘Everyday is Persija Day’, dan ‘We Never Stop Fighting to Support Persija’. Siapa sangka, kelak tulisan-tulisan itulah yang membuatnya terbunuh.

Haringga Sirila adalah Jakmania sejati. Ia selalu sempatkan pergi ke mana pun Persija berlaga, dari Bandung, Semarang, hingga Malang. Pada usia semuda itu, bukankah kita semua memang sedang getol-getolnya mengidolakan sesuatu?

Ada yang sekadar memenuhi kamar dengan poster Valentino Rossi atau band Queen. Ada yang menabung berbulan-bulan agar bisa menonton konser Sheila on 7. Di Jakarta, sekumpulan pemuda menghabiskan belasan juta untuk bersalaman dengan anggota grup JKT48. Bagi Haringga, cinta itu ia berikan pada Persija.

Hobi menonton sepakbola sebenarnya tergolong wajar dan aman. Bandingkan dengan aktivitas balap liar atau tawuran ala geng motor yang masih trendi di kalangan anak muda. Namun di Indonesia, mendukung tim di stadion justru bisa sangat mematikan. Menurut Litbang Save Our Soccer 2017, 66 suporter tewas sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995.

Banyak orang yang menginginkan liga dihapus sementara, atau dibuat tertutup, tanpa suporter. Tapi bukankah dengan menghilangkan penyaluran energi lewat olahraga, mereka akan beralih ke tawuran di jalan raya?

Selain sepakbola, orang Indonesia pernah hampir putus asa dengan dua kebobrokan lain, yaitu kereta api dan film. Kecelakaan terus-terusan, copet berkeliaran, ada yang duduk di atap, banyak yang tidak mau bayar. Sekarang, wajah perkereta-apian Indonesia sudah bisa dimiripkan dengan Jepang.

Dunia film juga pernah kelam. Sempat vakum sama sekali, sempat juga memasuki era film porno selama belasan tahun. Sekarang, film semacam itu hilang sama sekali. Semua sineas berlomba-lomba bersaing atau bekerja sama dengan Hollywood. Kalau film dan kereta api bisa berubah, sepakbola juga pasti bisa. Hanya soal waktu dan niat.

Pengorbanan Haringga tidak pernah sia-sia. Pemerintah DKI Jakarta, Bandung, Indonesia, PSSI, Bobotoh, bahkan Jakmania sendiri telah dibuatnya malu, kalau memang masih punya. Negara, setelah kejadian ini, harus hadir memebenahi sepakbola, bukan hanya berhenti pada minta maaf. Pada unggahan Instagram terakhirnya, Haringga menulis, “Jangan biarkan macan berjuang sendirian”. Kali ini giliran kita, untuk tidak membiarkan Haringga berkorban sendirian.

Agar Pundak Tak Saling Menubruk

Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Menurut beberapa artikel kesehatan, tubuh manusia didesain untuk berjalan. Maka ketika kita terlalu banyak duduk, penyakit pun bermunculan. Berjalan juga merupakan salah satu obat antidepresan paling ampuh, selain obat kimia yang diresepkan oleh psikiater.

Sayangnya alih-alih mendatangkan kegembiraan atau kesehatan, perjalanan saya kemarin justru memicu keprihatinan. Sekitar 700 meter dari Balai Kota DKI Jakarta, tepatnya di depan Galeri Nasional, langkah saya terhadang oleh meja makan dan kursi plastik. Kepala terpaksa menunduk agar tak terantuk terpal. Beruntung saya pernah berlatih dasar-dasar parkour, sehingga meniti tepi trotoar atau melompati kardus sampah bukanlah sebuah masalah.

Namun saya membayangkan orang-orang yang berjalan memakai tongkat, para tunanetra, atau kaum difabel yang memakai kursi roda. Sanggupkah mereka melewati wahana halang-rintang ini? Tak usah jauh-jauh, lihatlah dua wanita berseragam biru di foto ini. Mereka memilih melangkah di aspal jalan raya untuk menghindari kursi dan sampah yang berserakan.

Setelah berhasil melewati kekacauan yang ditimbulkan Pedagang Kaki Lima (PKL) itu, saya masuk ke dalam Galeri Nasional. Di dalamnya sedang digelar pameran seni Hanafi dan Goenawan Mohamad yang bertajuk “57 x 76”. Ada inovasi pada teknik menampilkan karya, yaitu memajang lukisan pada sebuah bak besar. Menurut Hanafi, kalau lukisan dipajang di dinding, orang tidak akan saling melihat, bahkan pundaknya bisa bertubrukan. Dengan menaruh lukisan di bak, pengunjung bisa saling bertatap muka sembari menikmati karya seni.

Bukankah hal seperti ini yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, menikmati hak masing-masing, tanpa menubrukkan kepentingan ke orang lain? Mencari nafkah demi keluarga tentu tindakan mulia. Namun jika dalam prosesnya sembari merampas hak saudara sebangsa, lantas apa bedanya dengan pelaku rasuah di instansi sana.

Sepulang dari galeri, saya naik angkutan umum, lalu berjalan kaki. Sebab, tubuh manusia memang didesain untuk berjalan. Selain itu, perlu diingat juga bahwa telinga dirancang untuk mendengar, hati untuk bertenggang rasa, dan akal untuk berpikir. Maka cobalah fungsikan bagian tubuh dan jiwa kalian dengan semestinya, agar pundak kita tak saling bertubrukan.

Untuk Mereka yang Menjaga Negeri

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Ilustrasi oleh: Hari Prast (@harimerdeka)

Selamat purna tugas
Bripda Wahyu Catur Pamungkas
Ibumu ingat betul ulang tahunmu
Dua minggu lagi, tapi kau keburu pergi

Buat Bripka Denny dan Briptu Fandy
Salam dari bayi-bayi mungil kalian
Mereka akan baik-baik saja
Ada ibu yang setia menjaganya
Dan waktu yang sedia menghapus luka

Juga Bripda Syukron Fadhli
Yang baru lulus jadi polisi
Sudah besar sekali kiprahmu untuk negeri
Padahal teman-teman masih kangen main voli bareng lagi

Kabar baik bagimu
Iptu Yudi Rospuji
Anak keempatmu sudah lahir
Tak kurang suatu apa
Hanya ayah yang tak kunjung kembali

Tenang-tenanglah kalian
Meski jalan kami masih panjang
Juga merah-putih tergantung di tengah-tengah
Sang Saka tak pernah berlama-lama di sana
Kan selama ini selalu sama-sama
Kita mengereknya ke puncak tiang?

Laju Sunyi GoJek Abu-abu

Tags

, , , , , , , , , ,

Foto: @lambe_ojol

GoJek identik dengan warna hijau. Tetapi kalau suatu hari nanti bertemu pengemudi berjaket abu-abu seperti ini, jangan was-was. Berbanggalah, karena ia adalah yang awal dari yang mula-mula. Dia satu dari segelintir orang yang percaya pada perubahan. Dialah GoJek generasi pertama.

Pada 2010, ponsel pintar masih didominasi sistem operasi Symbian. Itu juga cuma sedikit yang punya. Maka, GoJek pun hanya bisa dipesan lewat telepon dan SMS. Orang-orang Jakarta heran melihat temannya menelepon operator untuk dicarikan ojek. Aneh-aneh aja zaman sekarang, katanya.

Waktu itu baru ada 20 sopir. Meski pelanggan belum ramai, mereka cukup nyaman dengan sistem bagi hasil 80-20. Lumayanlah, dapat jaket, helm, ponsel, dan penghasilan. Bulan berganti tahun, tahun bergulir pelan, bisnis transportasi ini terus berkembang, walau agak lambat.

Puncaknya terjadi ketika GoJek membuat aplikasi. Ponsel Android yang menjamur pada 2015 turut melipatgandakan intensitas pemesanan. Nama Gojek bergaung, popularitasnya melesat. Gaji mereka mencapai Rp 8 juta per bulan. Teman-temannya tergiur, juga para karyawan, sarjana, dan profesional muda. Semua ingin jadi tukang ojek. Warna jaket berganti hijau-hitam, pengemudinya membludak, sampai ratusan ribu.

Di sisi lain, para penghuni pangkalan ojek terancam, juga taksi, angkot, dan bus kota. Demo digelar, menuntut regulasi yang lebih pasti. Bahkan perusahaan pemesanan taksi asal Malaysia, GrabTaxi, terintimidasi. Mereka ikut meluncurkan aplikasi serupa GoJek, yaitu GrabBike.

Sesuai survei Majalah Fortune pada 2017, GoJek memang telah mengubah dunia, terutama cara orang Indonesia bepergian, pesan makanan, mengirim barang, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Namun segalanya punya titik jenuh. Dengan pengemudi mencapai jutaan orang, honor berkurang drastis.

Belum lagi para investor yang tak mau uangnya sirna begitu saja. Mereka ingin laba, dan GoJek mau tak mau menaikkan tarifnya, semakin mendekati ojek pangkalan.

Hari ini, delapan tahun sejak GoJek pertama meluncur, tak seharusnya ojek pangkalan, taksi, angkot, atau bus kota masih khawatir dan mengintimidasi. Lihatlah demo pengemudi Grab dan GoJek yang menuntut kesejahteraaan lebih baik. Kita sudah berada pada titik kesetimbangan, ketika semua bersaing dengan adil. Kan rezeki ada yang mengatur? Di dunia ini tak ada yang absolut hitam atau putih. Selalu ada ruang untuk yang abu-abu, dan pada jaket legendaris itu, kita mengenangnya.

Manuver Peter Parker

Tags

, , , , , , , , , ,

Spiderman

Sudah setahun berlalu sejak Donald Trump dilantik menjadi presiden Amerika Serikat. Bukannya makin terbiasa, Peter Parker justru semakin muak dengan berbagai kebijakan presidennya. Maka ia memutuskan, 2018 akan menjadi tahun yang sepenuhnya baru.

Berawal dari kegemarannya nonton YouTube, ia menemukan vlog tentang Indonesia. Video bikinan Kementerian Pariwisata yang berjudul Wonderful Indonesia: A Visual Journey ini membuatnya kagum. Tekadnya bulat, ke Indonesia dia akan memulai hidup baru.

Sayangnya, bekal sedikit uang dari penghasilannya sebagai pengantar pizza di New York hanya cukup untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta dan sewa kos dua bulan. Untuk makan, dia harus bekerja. Tapi jadi apa?

Restoran pizza dan ayam di Jakarta menolaknya karena ia bule. Sudah honornya mahal, tidak lancar berbahasa Indonesia. Mungkin begitu pikir si manajer SDM. Puluhan lowongan guru les bahasa Inggris dan pegawai administrasi sudah dilamar, tapi panggilan tak jua datang.

Di pelataran Kota Tua dia merenung. Ternyata tak mudah bertahan hidup di Indonesia. Daerah kumuh masih banyak, tak seperti di video. Lalu mengapa orang-orang ini tampak selalu gembira? Kayakah mereka semua?

Dalam kegetiran itu, sesosok bidadari bersayap yang lebih mirip kuntilanak, menghampirinya. Siapa sangka, dia menawarkan pekerjaan sebagai pengamen. Peter terkesiap. Dia segera berubah menjadi Spiderman, memanjat, mengulur jaring ke sana kemari. Orang berkerumun. Uang dua ribuan mengalir cepat ke kotak di hadapannya. Dalam sekejap, dia meraih 400 ribu, cukup untuk makan beberapa hari.

Peter hendak berterima kasih, tapi bidadari aneh itu sudah menghilang entah ke mana. Saat itulah ia sadar, kekuatan super saja tidak cukup untuk bertahan hidup di sini. Dia harus selalu ikhlas dan pandai bersyukur. Peter tersenyum. Ia merasa sudah menjadi Indonesia.

Wiro Sableng: Jalan Panjang Perfilman Indonesia

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Industri perfilman Indonesia dimulai pada 1900, di daerah Tanah Abang, Batavia, berupa sebuah bioskop yang menayangkan film bisu. Baru asyik-asyiknya berkreasi, industri kreatif ini jatuh ke titik nadir ketika politik anti-imperialisme Amerika Serikat didengungkan pada 1960-an. Film dilarang tayang, bioskop dibakar, dan inflasi melambung.

Saat Soeharto berkuasa, industri film sempat naik-turun, tapi tidak beranjak ke mana-mana. Pemerintah mendorong bangkitnya film nasional, tapi di sisi lain mengekangnya. Jaringan bioskop besar dibangun, tapi di sisi lain mematikan bioskop kecil. Akibatnya, pada 1991–1998, Indonesia cuma bisa bikin 2–3 film per tahun. Itu pun film seks, seperti Gairah Malam atau Ranjang yang Ternoda.

Tahun 1998, setelah rezim totaliter tumbang, menjadi era kebangkitan film nasional. Tiga film yang menandainya adalah Petualangan Sherina, Jelangkung, dan Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Selanjutnya, film-film bagus bermunculan. Sayangnya kebijakan Daftar Negatif Investasi (DNI) yang dikeluarkan Orde Baru masih membatasi perusahaan asing untuk berinvestasi. Padahal industri film Indonesia masih jauh tertinggal di belakang Cina, India, dan Korea Selatan.

Baru pada 2016, presiden membuka keran investasi dengan merevisi DNI. Hasilnya, lalu lintas kemitraan perusahaan film luar negeri dan dalam negeri menjadi sangat ramai. Contohnya, film Pengabdi Setan, A Copy of My Mind, dan Sweet 20 yang bekerja sama dengan rumah produksi Korsel, CJ Entertainment. Aktor-aktris Indonesia juga semakin sering berlaga di film Hollywood, dari Cinta Laura (The Philosophers, Good Night), Luna Maya (Devil’s Whisper), Iko Uwais (Beyond Skyline).

Sementara dari segi layarnya, banyak bioskop baru bermunculan. Ada CGV Blitz (Korea Selatan) dan Cinemaxx (Lippo Group) yang cukup besar. Untuk bioskop berskala kecil, ada Kineforum (Dewan Kesenian Jakarta), Subtitle, Kinosaurus, Paviliun 28, dan lainnya.

Di satu sisi, kebijakan ini memang memudahkan perusahaan asing untuk mengeruk keuntungan besar dari pasar Indonesia. Namun di sisi lain, akan meningkatkan kompetisi dan memajukan kualitas film nasional. Salah satu yang masih hangat, Fox International Productions, anak perusahaan 20th Century Fox sedang bekerja sama dengan Lifelike Pictures untuk menggarap Wiro Sableng. Ini menjadi film pertama Fox di Asia Tenggara.

Kebijakan Jokowi membuka keran investasi seluas-luasnya masih bisa diperdebatkan. Tapi bagi penikmat film seperti saya, tentu senang melihat Wiro Sableng disajikan dengan kualitas setara X-Men atau Kingdom of Heaven. Lagipula Tomas Jegeus, presiden FIP berjanji, tidak akan membawa gaya Hollywood ke Indonesia. Kekuatan film Indonesia adalah aspek budayanya, dan dia tidak akan mengubah hal itu.

There’s no point in that. I don’t want to come in and sort of tell them how to tell the story because man, even if I moved to Indonesia now and lived there for another 50 years I will never have the cultural context… if there’s one thing that Hollywood does have right in the system out here is the power of development.” –Tomas Jegeus–

Teaser Film Wiro Sableng

Tiang Listrik Angkat Bicara!

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mentari sudah menyelinap ke balik cakrawala. Orang-orang bergerak terburu-buru, dengan kakinya atau kendaraannya. Di daerah Permata Hijau, Jakarta Barat, sebuah mobil Toyota Fortuner hitam melaju lincah di jalanan yang lengang.  Tiba-tiba, “Sreet! Dug! Brak!” Ia lepas kendali, menyerempet sebuah pohon, lalu naik ke trotoar dan menabrak sebuah tiang listrik.

Entah siapa yang pertama mengunggahnya ke Internet, dalam hitungan menit kejadian ini telah menjadi viral. Mendengar kabar ini, pemimpin redaksi sebuah portal berita daring tampak gelisah. Sejurus kemudian, ia mengutus reporternya untuk terjun langsung ke lokasi dan melaporkan tragedi tersebut.

Jalan yang basah dan kecelakaan membuat lalu lintas menjadi sangat padat. Sang reporter terlambat datang ke lokasi. Sial baginya, semua saksi sudah diwawancara oleh wartawan lainnya. Sementara petugas medis di rumah sakit tempat korban dirawat belum bisa ditemui. Linimasa sudah penuh oleh berita sejenis. Ia harus mendapatkan sudut pandang lain, yang penting, tapi unik. Matanya tertuju pada sebuah tiang yang penyok. Saksi kunci, itulah yang terlintas di benaknya. Ia pun memutuskan untuk mewawancarai sebuah tiang listrik, yang kelak baru diketahui bahwa ternyata ia adalah sesosok tiang lampu. Berikut ini kutipan wawancaranya:

Apakah Anda terluka?
Lecet sedikit saja. Tapi tidak apa-apa, asal keadilan tidak ikut terluka.

Maksudnya?
Berapa kali tabrakan seperti ini terjadi dan pelakunya bebas begitu saja? Sering! Masih ingat kasus anak Hatta Rajasa? Bah, enak sekali jadi yang punya kuasa atau uang, apa pun kesalahan yang dibuat, tak bakal terjerat hukum. Saya ingat semboyan fiat justitia ruat caelum, tegakkan keadilan meski langit akan runtuh. Omong kosong saja semboyan itu sekarang.

Bagaimana dengan penabrak Anda? Akankah lolos juga?
Ha..ha..ha.. Anda bertanya, tapi sudah tahu jawabannya. Kasus Bank Bali, beras Vietnam, PON Riau, suap MK, papa minta saham, sampai e-KTP sekalipun tak mampu menjeratnya. Apalagi cuma menabrak tiang tempat nempelin iklan seperti saya.

Orang-orang menempelkan iklan sedot WC di tubuh Anda. Anda tersinggung?
Tidak, itu bukan soal, sudah biasa. Saya cuma tersinggung ketika diperalat sebagai tumbal kebebasan para koruptor. Cuih!

Jangan meludah Pak, liur Anda nyetrum. 
Oh, maaf.

Bagaimana dengan intensitas angin ribut dan pohon tumbang yang semakin tinggi? Anda takut?
Tidak sama sekali. Kalau sudah ajal, ya pasti mati. Cuma dua hal yang saya khawatirkan di dunia ini, hantaman Fortuner bekas dan drama yang tak kunjung berakhir.

Anda malah memikirkan masalah-masalah besar negeri ini. Bagaimana dengan diri sendiri? Tubuh Anda penyok. Apa masih bisa nyetrum?
Semua tiang akan penyok atau lecet pada waktunya, yang terpenting bagaimana kita bisa memberi manfaat, bukan mudarat. Saya akan terangi dunia, sampai tumbang sekalipun. Jangan samakan saya dengan yang benjol doang langsung terkapar.

Siapa itu?
Baterai HP yang udah kembung.

Mulia sekali pemikiran Anda. Kebetulan HP saya low-bat, boleh numpang ngecas?
Nyolokinnya di mana, tong? Beli power bank sana!

Malam itu juga, sang pemimpin redaksi membaca surel dari reporternya. Ia kaget setengah mati. Wawancara dengan tiang listrik? Apa reporternya sudah gila?! Tapi dia berhenti pada kata ‘gila’. Bukankah itu yang disukai orang-orang zaman sekarang? Jika tidak punya prestasi atau keahlian spesial, kegilaan menjadi kriteria penting lainnya untuk menjadi viral. Kegilaan pula yang mampu berkali-kali meloloskan koruptor dari tangan KPK atau membuat seseorang menjadi pejabat. Namun dengan gila pula, orang-orang menyintas dari segala macam penjajahan, menertawakan penindasan, dan berdamai dengan penderitaan. Lagipula, apa salahnya mengemas tragedi dalam rupa komedi. Maka dengan gugup, akhirnya ia memuat berita aneh ini di portal digital miliknya, catatanviruskata.wordpress.com.

karangan-bunga-di-lokasi-kecelakaan-setya-novanto_20171117_202324

Aku Ingin Didengar

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Jalanmu panjang berliku
Menjual beras dan madu
Berdagang mobil, menyalur pupuk
Engkau rakyat seperti aku
Tertatih berjalan, menyambung hidup

Pada politik engkau beraksi, pada negeri kita berbakti
Kutahu kau bukan yang dulu lagi, bak keris sakti sudah bertaji
Padamu, aku ingin beraspirasi
Karna padamu, gundah hati mungkin terobati

Tapi mengapa kau jauh sekali
Aku berbisik, kau tak mendengar
Aku berteriak, telingamu pengar

Maka kubikin meme, Medium paling Mesra
Tapi bahkan pada gambar lucuku
Kau mengadukannya

Haruskah aku menjadi kuning, untuk bisa kau terima?
Kan ini negeri pelangi, boleh beda asal mengabdi negara

Engkau makan ikan
Aku makan tempe
Penanda kita, KTP
Masalah kita, eKTP

Engkau dewan, aku rakyat
Dewan Perwakilan Rakyat
Kita dalam satu kata, DPR
Kita terpisah satu aksara, P

Janganlah kau tambah dengan Q, R, S, dan jurang lainnya
Karena aku cuma ingin didengar

Ardi Darmawan
Jakarta, 06-11-2017

Didedikasikan bagi mereka yang dilaporkan ke polisi karena membuat dan menyebarkan meme tentang Setya Novanto.

Tautan berita: https://beritagar.id/artikel/berita/savememe-setnov-dan-kebebasan-berekspresi

https://nasional.tempo.co/read/1030458/penyebar-meme-setya-novanto-ditangkap-netizen-ramaikan-savememe

Langit Biru, Rumput Hijau, dan Hidup yang Tidak Dijalani

Tags

, , , , , , , , , , ,

Langit biru, rumput hijau
Gerbang tol yang memukau
Langkah lama membeku
Padahal penglihatan cuma selemparan batu

Lalu lupa
Yang bagus gunungnya, bukan pintu tolnya
Sejahteranya, bukan uangnya
Kontribusinya, bukan popularitasnya
Karyanya, bukan artisnya
Isinya, bukan sampulnya

Indahnya gerbang tak seindah gunung
Kalau hidup tak sekadar napas,
Takkan sampai elok dibendung

Pemurnian Nilai dan Deradikalisasi Agama

Tags

, , , , , , , , ,

Selama bulan Mei 2017, bom meledak di Manchester (Inggris), Bangkok (Thailand), Pattani (Thailand), Marawi (Filipina), dan Jakarta (Indonesia). Beberapa agak mirip polanya, terutama yang di Marawi dan Jakarta.

Pada saat yang sama, beredar video pawai obor dengan anak-anak kecil yang teriak “Bunuh! Bunuh!” Sementara geng motor di Jaksel ikut-ikutan mengalami perubahan perilaku. Dulu geng motor ya cuma soal motor, kecepatan, dan taruhan. Sekarang malah lebih banyak soal perebutan kekuasaan, politik, dan bacok-bacokan. Mungkinkah mereka meniru para pejabat?

Pendidikan kita belum menerapkan cara berpikir kritis dan logis, sehingga anak-anak mudah menelan dogma mentah-mentah. Seharusnya ini peran orangtua, tapi kalau orangtuanya mengajarkan ‘bunuh!’, anak-anak bisa apa.

Jadi bagi orangtua yang masih bisa berpikir logis, ada baiknya mengajari mereka untuk membela agama dan negerinya dengan cara yang benar. Bahwa musyawarah adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik. Habluminallah dan Habluminannas, yang vertikal harus sejalan dengan yang horizontal.

Kaum puritan dan fundamentalis sering dikambinghitamkan sebagai pendorong radikalisme. Padahal tidak. Puritanisme justru bisa berjalan seiring dengan deradikalisasi jika dipahami dengan benar. Pemurnian nilai-nilai asli agama harus memperhatikan kemaslahatan bersama dan menghindari kemudaratan yang berakibat fatal bagi orang lain. Agar agama yang kita yakini mampu menjadi rahmat bagi setiap makhluk Tuhan, seperti yang jelas-jelas tercantum pada semua kitab suci.

Gudeg tanpa Nangka

Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Indonesia sedang mengalami reduksi ilmu dan studi agama. Itu yang diungkapkan oleh Abdul ‘Dubbun’ Hakim, pembicara di kelas yang saya ikuti. Waktu itu tokoh yang dibahas adalah Sayyid Qutb, ideolog Jamaah Ikhwanul Muslimin, yang juga menginspirasi ideologi PKS dan HTI. Sayyid Qutb memang benci pemerintah, tapi itu karena dia dikhianati kawannya yang menjadi presiden, karena Mesir menjadi terlalu sekuler, juga karena traumanya hidup di Amerika. Konteks ini sering dihilangkan, lalu dijadikan dasar gerakan radikal.

Sedihnya, pemahaman tentang sejarah seperti ini hanya menjadi milik kalangan tertentu. Berarti ada kesalahan parah pada sistem pendidikan kita, yang membuat anak muda kehilangan kemampuan berpikir kritis, hanya membaca judul, terlalu mudah mengidolakan, tidak suka membaca, dan malas kepo soal ilmu.

Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu agama, padahal orang Indonesia begitu mengagungkan kehidupan beragama? Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu hukum dan politik, padahal yang setiap hari diteriakkan di Facebook, bahkan di jalan adalah soal hukum dan politik? Ini seperti mau masak gudeg tapi tidak mau tahu seluk beluk nangka muda.

Lalu di tengah akses pendidikan yang terbatas dan kemalasan berpikir, beberapa tokoh menawarkan solusi. Ilmu gratis, singkat, mudah dipahami, tanpa buku, dan pastinya, seru! Sesat sedikit tidak apa, yang penting rame. Daripada harus baca buku dan kuliah, sudah bayar, disuruh mikir pula.

Celakanya lagi, sebagian kalangan yang seharusnya terdidik malah kehilangan integritas. Ada saja hakim yang bisa dibeli atau disuruh-suruh. Contoh, pasal penistaan agama yang sangat lentur dan tidak jelas batasnya. Semua orang bisa kena, tergantung siapa yang bisa mempengaruhi hakim. Hari ini mungkin Ahok dan Buni Yani, besok bisa Rizieq, lusa Jokowi, minggu depan Anies. Ini seperti pasal suka-suka. Lama-lama status seperti ini juga bisa kena.

Kesimpulannya, ada dua hal yang membuat Indonesia layak bersedih. Hukum yang mati suri dan pendidikan yang salah arah. Bukankah untuk bisa jatuh cinta atau membenci, kita harus terdidik (mengenalnya) dulu? Untuk bisa mengidolakan atau membenci Sayyid Qutb, Wiji Thukul, Socrates, Pramoedya, Gus Dur, Sukarno, ya harus berkenalan dulu dengan gagasannya. Kebetulan, semua tokoh yang saya sebutkan tadi pernah dipenjara atau disingkirkan, tapi pemikirannya bertahan sampai puluhan tahun. Jangan-jangan Ahok? Ah sudahlah, penjara memang aneh. Mengekang, tapi menciptakan simpati dan heroisme.